“Eki Dirgantara Warning Sekolah: Stop Jual Beli Seragam, Kami Awasi!”

oleh -219 Dilihat
inshot 20250705 124015091
Eki Dirgantara, Ketua Aliansi Pantura Bersatu, dengan lantang menyuarakan berbagai ketidakwajaran dalam dunia pendidikan Kabupaten Pemalang. (Dok. Rae Kusnanto)

PEMALANG, Revolusinews com — Jelang tahun ajaran baru 2025, dunia pendidikan Kabupaten Pemalang kembali disorot! Ketua Aliansi Pantura Bersatu, Eki Dirgantara, dengan tegas mengultimatum sekolah, komite, hingga oknum guru agar menghentikan praktik jual beli seragam dan perlengkapan sekolah yang membebani orang tua murid.

“Kami tidak akan tinggal diam. Sekolah bukan tempat bisnis. Jika masih ada praktik jual beli seragam, kami pastikan akan turun langsung dan ambil tindakan tegas!” tegas Eki saat ditemui media pada Rabu (2/7/2025).

Aliansi Pantura Bersatu menilai, praktik jual beli seragam yang masih marak di sejumlah sekolah adalah bentuk penyimpangan dan pelanggaran nyata terhadap aturan yang berlaku. Ini bukan sekadar persoalan teknis, tapi sudah menyentuh ranah moral dan keadilan sosial.

Menurut Eki, banyak orang tua siswa yang secara tidak langsung “dipaksa” membeli seragam dari pihak sekolah atau melalui komite. Padahal, hal itu jelas dilarang dalam sejumlah regulasi nasional.

“Seragam boleh diseragamkan, tapi jangan jadi lahan bisnis. Orang tua harus diberi kebebasan membeli di mana pun. Ini negara hukum, bukan negara dagang seragam,” sindir Eki dengan nada geram.

Larangan ini sudah jelas tertuang dalam Permendikbud Nomor 50 Tahun 2022, PP Nomor 17 Tahun 2010, dan Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016. Ketiga regulasi itu menegaskan bahwa komite dilarang memungut biaya maupun menjual barang di lingkungan sekolah.

Aliansi Pantura Bersatu mengaku telah menerima sejumlah laporan dari masyarakat dan tengah mengumpulkan data sekolah-sekolah yang masih nekat melakukan praktik tersebut. “Kalau terbukti, kami siap bawa ke ranah hukum atau laporkan ke instansi terkait,” ujar Eki.

Menutup pernyataannya, Eki menyerukan kepada seluruh kepala sekolah di Pemalang agar fokus pada kualitas pendidikan, bukan mencari keuntungan pribadi. “Kami bukan musuh sekolah, tapi kami akan jadi mimpi buruk bagi yang menyimpang.”