PANDEGLANG,Revokusinews.com – Tiga bersaudara, siswa murid Sekolah Dasar ( SD ) di bawah naungan yayasan, tega memulangkan anak didiknya saat jam pelajaran berlangsung.
M.Farraz Athilla Ahza (10), M.Faezya Athalla Febrian (11), M.Fattan Atharva Ghazi (7) anak berprestasi di keluarkan oleh pihak sekolah Sekolah, akibat tidak bisa membayar SPP sebesar Rp. 42 juta rupiah.
Kisah pilu tersebut di alami oleh Farhat dan Defi Fitriani warga Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Siswa tiga bersaudara tersebut duduk di kelas, 2, 4, dan 6.
Anehnya, sekolah yang seharusnya menjadi teladan dalam menerapkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan, tapi tidak memberikan kesempatan kepada 3 anak tersebut, biarpun prestasi akademis mereka telah diakui dengan banyak sertifikat penghargaan.
Farhat beserta Defi selaku orang tua murid menceritakan, 3 anaknya di keluarkan oleh pihak sekolah tersebut sebab tidak membayar SPP,” iya pak, anak kami di keluarkan oleh pihak sekolah tersebut, hanya karna belum membayar tunggakan SPP bulanan sebesar 42 juta,” ungkap Farhat.
Farhat juga sangat miris melihat anaknya saat di antar oleh para guru, di antarkan ke rumahnya,” sebelumnya kami sudah memohon kepada pihak sekolah kenapa anak kami di keluarkan secara tidak nurani seperti itu. Dan kami memohon kepada pihak sekolah, agar anak saya, jika bisa jangan saat belajar di pulangkan, tapi apa pak…malah saat belajar ketiga anak saya di haruskan pulang, apakah sekolah tidak memiliki toleransi?,” ucap Farhat kepada wartawan, Kamis (24/10/2024) di rumahnya.
Farhat juga merasakan sedih selaku orang tua saat, anaknya di pulangkan oleh pihak sekolah beberapa waktu lalu menggunakan kendaraan mobil,” kami kecewa pak, bukan saja karna di keluarkan, namun secara tidak langsung, anak kami kena mental psikologisnya pak, bayangkan saja oleh bapak,” jelasnya.
Hal lain juga di ungkapkan oleh istri Farhat Defi Fitriani tersebut,” kami tidak habis pikir pak, kok tega yaa, memulangkan anak didik saat sedang belajar, saya sendiri sedih pak, selaku ibu….padahal bapaknya memohon, agar tidak di Pulangkan saat sekolah. Kami juga sadar….kami belum sanggup bayar SPP, sebab kami tidak punya pak, ini kontrakan saja kami belum bayar 3 bulan pak,” ucap Defi Fitriani sambil berlinang air mata.
Defi juga akhirnya tak bisa berbuat apa-apa, hanya pasrah dengan keadaan tersebut. ” ya bagaimana lagi pak, jika memang pihak sekolah tersebut sudah tidak miliki hati nurani, ya kami hanya bisa pasrah,” jelas Defi.
Di kontrakan rumah yang mereka sewa, Defi Fitriani selaku ibunda tak ingin anaknya tertinggal dalam pelajaran. “Anak-anak kami, Alhamdulillah semua berprestasi, banyak sudah prestasi yang di raihnya pak. jadi agar tidak ketinggalan mata pelajaran, kami juga lakukan belajar, melalui kurikulum merdeka di rumah,” jelasnya.
Sebagai lembaga mencerdaskan anak bangsa sangat tidak pantas. Lebih lagi, 3 siswa telah menerima dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah.
Kejadian tersebut harusnya menjadi persoalan serius, bagi Menteri Kabinet Presiden Prabowo Subianto, agar tujuan untuk mencerdaskan anak bangsa tercapai dan juga tidak ada lagi pihak sekolah yang semena memulangkan murid hanya karna menunggak SPP di kalangan sekolah swasta khusus.
Saat beberapa wartawan ingin mengkonfirmasi terkait hal tersebut ke pihak sekolah, tidak dapat masuk di karenakan tidak ada janji kata Satpam Sekolah tersebut. “maaf pak jangan mengambil gambar sembarangan,” ucap Satpam.
Sampai berita ini di terbitkan, pihak sekolah tidak bisa di konfirmasi. (*)






