Oleh : Dede Farhan Aulawi
Revolusinews.com – Dalam perjalanan hidup, manusia tidak hanya membutuhkan cahaya untuk menerangi langkah kaki, tetapi juga membutuhkan cahaya batin yang mampu menuntun arah jiwa. Cahaya itu adalah petunjuk dari Allah. Ketika seseorang hidup dekat dengan Allah, hatinya akan dipenuhi ketenangan, pikirannya dipenuhi kebijaksanaan, dan langkahnya dipenuhi keyakinan. Namun ketika manusia menjauh dari cahaya Allah, hidup sering kali terasa gelap, meskipun secara lahiriah ia dikelilingi oleh kemewahan dan kenikmatan dunia.
Gelapnya hidup bukan selalu tentang kekurangan harta, jabatan, atau kedudukan. Banyak orang yang terlihat bahagia di luar, tetapi sebenarnya jiwanya kosong di dalam. Hati yang jauh dari Allah mudah diliputi kegelisahan, ketakutan, dan kehampaan. Setiap masalah terasa berat, setiap ujian terasa menghancurkan, dan setiap kegagalan terasa seperti akhir dari segalanya. Hal itu terjadi karena cahaya iman yang seharusnya menjadi penerang dalam dada mulai redup akibat dosa, kelalaian, dan jauhnya hubungan dengan Sang Pencipta.
Cahaya Allah hadir melalui iman, dzikir, doa, dan ketaatan. Ketika seseorang rajin mendekat kepada Allah, maka hatinya akan mampu melihat hikmah di balik setiap peristiwa. Ia tidak mudah putus asa karena yakin bahwa Allah selalu bersamanya. Bahkan di tengah kesulitan, ia tetap menemukan harapan. Sebaliknya, orang yang jauh dari Allah sering kehilangan arah. Ia berjalan mengikuti hawa nafsu, mengejar dunia tanpa batas, tetapi tidak pernah menemukan kepuasan. Semakin jauh ia melangkah, semakin gelap pula hidup yang dirasakannya.
Kegelapan hidup juga muncul ketika manusia hanya mengandalkan kekuatan dirinya sendiri. Ia merasa mampu tanpa pertolongan Allah, merasa cukup tanpa petunjuk-Nya, dan merasa aman tanpa perlindungan-Nya. Padahal manusia adalah makhluk yang lemah. Tanpa cahaya dari Allah, akal bisa tersesat, hati bisa mengeras, dan jiwa bisa kehilangan makna hidup. Cahaya Allah bukan sekadar menerangi jalan, tetapi juga menghidupkan hati yang mati.
Karena itu, ketika hidup mulai terasa gelap, jangan terburu-buru menyalahkan keadaan. Bisa jadi yang perlu diperiksa adalah sejauh mana hubungan kita dengan Allah. Mungkin bukan dunia yang terlalu kejam, tetapi hati yang terlalu lama menjauh dari sumber cahaya. Kembalilah kepada Allah dengan taubat yang tulus, dengan sujud yang khusyuk, dan dengan hati yang merendah. Sebab tidak ada kegelapan yang abadi selama seseorang mau kembali mendekat kepada cahaya-Nya.
Pada akhirnya, hidup tanpa cahaya Allah ibarat berjalan di malam pekat tanpa arah. Sedangkan hidup bersama cahaya Allah, meskipun penuh ujian, tetap akan terasa terang. Sebab siapa yang hatinya diterangi oleh Allah, tidak akan mudah tersesat oleh gelapnya dunia.












