Limbah Dapur MBG 01 Klareyan Dikeluhkan, Sumur Warga Diduga Tercemar

oleh -139 Dilihat
file 000000001ce472078c87f16ce159b619 (13)
Dapur MBG 01 Desa Klareyan diduga berkaitan dengan tercemarnya sumur warga akibat genangan saluran air yang tidak mengalir. Selasa (22/5/2026). Gambar animasi: Markus RNews Pemalang.

PEMALANG, Revolusinews.com- Warga sekitar SPPG MBG 01 Desa Klareyan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, mulai mengeluhkan dampak limbah dapur milik Yayasan Bela Beli Bolang. Air sumur warga diduga tercemar akibat genangan limbah dapur yang terus mengalir ke saluran drainase resapan yang tidak ada ujungnya.

Keluhan muncul dari warga RT 05 RW 006 Desa Pegundan yang lokasinya berbatasan langsung dengan Desa Klareyan. Mereka menyebut kondisi lingkungan berubah sejak aktivitas dapur MBG beroperasi. Saluran penampung air yang dulu bisa mengering kini dipenuhi air limbah sepanjang waktu yang diketahui MBG berjalan kurang lebih hampir 5 bulan.

Saat ditemui wartawan, kepala dapur SPPG MBG terlihat terburu-buru dan enggan memberikan penjelasan panjang. Ia mengaku sudah memiliki janji lain di luar lokasi. “Maaf pak, saya tadi sudah balas lewat WhatsApp, datangnya besok saja. Saya sudah ada janji di Pekalongan,” ujarnya singkat sambil bergegas meninggalkan area dapur.

Menurut keterangan warga, saluran air di belakang permukiman sebenarnya sudah lama menjadi tempat penampungan resapan air rumah tangga. Namun sejak dapur MBG beroperasi, debit air meningkat dan menyebabkan genangan yang sulit surut hingga memicu bau menyengat di sekitar rumah warga.

“Saya tinggal di sini sudah delapan tahun pak, dan saluran ini hanya resapan bukan saluran yang sebenarnya. Dulu saluran itu masih bisa kering, sekarang malah jadi kubangan air warga ditambah limbah dapur terus. Bau dan nyamuk makin banyak,” ujar SL (38), warga terdampak di sekitar lokasi.

HD belakang rumah SL juga meminta pihak pengelola SPPG dan pemerintah desa segera turun tangan. “Kami minta ada tanggung jawab dari pengelola dapur MBG dan pihak desa. Jangan sampai warga terus jadi korban, apalagi air sumur sekarang mulai bau dan dikhawatirkan memicu penyakit kulit,” tambahnya.

Kembali disampaikan SL (38), yang mengaku pernah didatangi tim survei sebelum pembangunan dapur MBG dilakukan. Saat itu dirinya menjelaskan kondisi saluran masih normal karena air hujan cepat terserap tanah. Namun kini situasi berubah drastis setelah aktivitas dapur berjalan setiap hari.

“Sekarang air limbah menggenang terus, sumur warga ikut terdampak. Kami minta pengelola SPPG dan pemerintah desa segera bertanggung jawab mencari solusi. Jangan tunggu warga sakit dulu baru bergerak,” tegas SL (38) dengan nada kecewa.