TANGERANG, Revolusinews.com – Maggot adalah larva dari lalat, khususnya lalat Black Soldier Fly (BSF) dimulai dari telur kemudian menjadi larva (maggot), lalu prepupa, pupa, dan akhirnya menjadi lalat dewasa (BSF).
Budidaya maggot juga dilakukan di Kampung Ekowisata Keranggan Tangsel dibawah naungan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang selalu kreatif bersinergi bersama masyarakat dengan sumber dayanya memanfaatkan limbah dapur warga agar tidak terbuang dan nantinya bisa meningkatksn pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Kegiatan budidaya maggot, saat ini dikoordinir dan dikelola oleh Ade Sukarya Ketua RT 13 RW 05 Keranggan, Darussalam staff dari Ekowisata Keranggan dan melibatkan adik/anak berkebutuhan khusus (ABK) RBKI yang ada di Ekowisata.

Darus mengatakan, bahwa sudah berkali-kali menghasilkan maggot dari proses menyiapan penetasan telur, penyediaan pakan dari limbah dapur warga, sampai menghasilkan larva (magoot) dan lalat dewasa (BSF).
“Kami juga melibatkan adik adik ABK RBKI (Anak Berkebutuhan Khusus/talent), yang ada di Ekowisata Keranggan untuk ikut berpartisipasi dalam proses produksi maggot, setiap hari Rabu, seperti yang kita lihat hari ini (13/08/2025).
“Tallent masih jijik atau geli untuk memegang maggot dan kami juga sedikit terkendala dalam komunikasi, namun kami berharap supaya kedepannya mereka bisa menguasai budi daya magoot, untuk jadi ladang usaha mereka kelak,” ujarnya.
“Saat ini hasil maggot sudah ada yang dijual, sudah banyak yang pesen, bahkan dari luar kota juga ada,” kata Darus.
Kemudian Ade Sukarya, Ketua RT 13, membenarkan bahwa maggot sudah terjual ke pembudidaya ikan, unggas, umpan pancing,, dan kami juga pakai sendiri untuk pakan unggas seperti ayam dan entok.
“Untuk pengembangan kami sangat membutuhkan keterlibatan masyarakat, permodalan, sarana dan prasarana seperti bak media tetes telor, bak migrasi juga kebutuhan lahan,” ungkapnya.
Sementara Maulana dari tim managent Ekowisata Keranggan menyatakan bahwa kami sudah mampu dan berhasil memproduksi maggot secara msndiri, namun untuk menghasilkan maggot skala produksi sangat diperlukan bantuan pihak eksternal
Hasil evaluasi kami antara lain :
1. Luas area terbatas, lahan yang tersedia saat ini belum memadai untuk menampung instalasi budidaya dalam jumlah besar.
2. Kapasitas sarana produksi terbatas, jumlah bak atau wadah budidaya, tempat penampungan sampah organik, serta fasilitas pengolahan belum mencukupi untuk peningkatan skala besar.
3. Ketersediaan bahan baku tidak stabil, pasokan sampah organik kadang tidak konsisten baik dari segi jumlah maupun kualitas, solusiinya sampah organik kami ambil dari warung dan restoran sekitar Keranggan
4. SDM terbatas, jumlah tenaga terlatih yang memahami teknik budidaya maggot dan pengelolaan pasca panen masih sedikit, membutuhkan volentir, kader dan pelatihan soft skill
5. Kendala modal dan peralatan, investasi awal untuk memperluas lahan, membeli peralatan, dan membangun fasilitas pendukung cukup besar.
6. Pengelolaan lingkungan, pengaturan bau, kelembaban, dan pengendalian hama masih perlu sistem yang lebih tertata untuk skala besar
“Kami sangat berharap pihak pemerintah, swasta, kampus, akademisi dapat membantu bukan hanya permodalan namun juga menjadikan Ekowisata Keranggan menjadi pusat produksi dan pusat pelatihan budidaya maggot,” tutupnya.






