Dede Farhan Aulawi Jelaskan Standar Internasional Parasut Militer yang Memenuhi Ketentuan Keselamatan

oleh -8 Dilihat
oleh
img 20260903 wa0006

BANDUNG, Revolusinews.com – Parasut militer merupakan perlengkapan keselamatan penerjunan yang memiliki tingkat risiko tinggi, sehingga pembuatannya harus mengikuti prinsip rekayasa keselamatan, pengendalian mutu, ketertelusuran material, serta pengujian dan sertifikasi yang ketat. Standar internasional diperlukan agar parasut memiliki kinerja yang konsisten dalam berbagai kondisi operasi dan mampu memberikan perlindungan maksimal kepada penerjun.

Hal tersebut disampaikan oleh Pemerhati Keselamatan Militer Dede Farhan Aulawi di Bandung, Kamis (3/9/2026) setelah sebelumnya berkunjung meninjau proses pembuatan parasut militer di pabrik parasut PT. Langit Biru Parasut yang terletak di kabupaten Bandung.

Menurutnya, persyaratan parasut militer tidak hanya ditentukan oleh satu standar universal. Spesifikasi dapat mengacu pada standar dan regulasi kedirgantaraan serta persyaratan militer yang relevan, termasuk kerangka NATO Standardization Agreements (STANAG), standar kualitas AS9100, serta persyaratan kelaikudaraan dan keselamatan dari otoritas yang berwenang. Untuk sistem penerjunan tertentu, persyaratan teknis juga perlu disesuaikan dengan jenis parasut, misi, karakteristik pesawat, beban, dan profil penerjunan.

Pada kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan bahwa aspek paling penting adalah pemilihan material dan pengendalian proses manufaktur. Kain parasut, tali-temali, webbing, benang, konektor, serta komponen pendukung harus memiliki spesifikasi yang terdokumentasi dan dapat ditelusuri. Setiap material perlu diperiksa terhadap persyaratan kekuatan, ketahanan lingkungan, konsistensi produksi, dan kompatibilitas dengan komponen lainnya. Proses pemotongan, penyambungan, penjahitan, dan perakitan harus dilakukan melalui prosedur terkendali dengan inspeksi pada setiap tahapan.

Keselamatan juga harus dibangun melalui pendekatan design assurance. Rancangan harus menjalani analisis risiko, verifikasi, validasi, serta pengujian untuk memastikan bahwa sistem dapat bekerja sebagaimana dirancang. Pengujian tidak cukup hanya membuktikan kemampuan membuka parasut, tetapi juga harus mengevaluasi integritas struktur, stabilitas, respons terhadap kondisi lingkungan, keandalan sistem pengoperasian, serta kemungkinan kegagalan dan konsekuensinya. Pengujian harus dilakukan oleh fasilitas dan personel yang kompeten dengan metode yang terdokumentasi.

Selanjutnya, penerapan Quality Management System (QMS) menjadi bagian penting. Setiap produk harus memiliki nomor identifikasi, catatan produksi, hasil inspeksi, riwayat pengujian, serta rekam pemeliharaan. Dengan sistem tersebut, apabila ditemukan ketidaksesuaian, produsen dapat melakukan investigasi, penelusuran, corrective action, dan bila diperlukan penarikan produk secara terkendali.

“Pada akhirnya, standar internasional pembuatan parasut militer harus menempatkan keselamatan manusia sebagai persyaratan utama. Parasut tidak boleh dianggap sekadar produk tekstil, melainkan sebuah safety-critical aerospace system. Karena itu, desain, material, manufaktur, pengujian, inspeksi, penyimpanan, pemeliharaan, dan pelatihan pengguna harus menjadi satu sistem keselamatan yang terintegrasi. Pendekatan tersebut akan menghasilkan parasut yang tidak hanya memenuhi spesifikasi teknis, tetapi juga memiliki keandalan, ketertelusuran, dan jaminan keselamatan yang dapat dipertanggungjawabkan secara internasional,’ pungkasnya mengakhiri keterangan.