Kekayaan, Gelar, Pangkat dan Jabatan Akan Dimintai Pertanggungjawaban

oleh -363 Dilihat
oleh
img 20260517 wa0005
Foto Dede Farhan Aulawi. (Dok. Revolusi News)

Oleh : Dede Farhan Aulawi

Revolusinews.com – Dalam perjalanan hidup manusia, banyak hal yang sering dijadikan ukuran keberhasilan. Kekayaan dianggap simbol kesuksesan, gelar dipandang sebagai lambang kecerdasan, kepangkatan menjadi tanda kehormatan, dan jabatan sering kali dijadikan ukuran pengaruh serta kekuasaan. Tidak sedikit manusia yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk mengejar semuanya itu. Namun, sering kali manusia lupa bahwa apa yang dimiliki di dunia hanyalah titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Harta yang melimpah bukan sekadar tentang berapa banyak yang berhasil dikumpulkan, melainkan dari mana harta itu diperoleh dan ke mana ia dibelanjakan. Kekayaan dapat menjadi jalan menuju kemuliaan ketika digunakan untuk membantu sesama, mengangkat derajat orang miskin, menolong mereka yang kesusahan, serta menjadi sarana menebar manfaat. Sebaliknya, harta juga dapat menjadi sumber petaka ketika diperoleh dengan cara yang zalim, penuh tipu daya, korupsi, atau digunakan untuk kesombongan dan kemaksiatan. Pada akhirnya, bukan jumlah kekayaan yang menjadi penilaian utama, tetapi nilai amanah di baliknya.

Begitu pula dengan gelar pendidikan. Gelar bukan sekadar rangkaian huruf di belakang nama yang membuat seseorang merasa lebih tinggi dari yang lain. Gelar adalah amanah ilmu. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moralnya untuk memberi manfaat bagi masyarakat. Ilmu yang tidak melahirkan akhlak dan kepedulian hanya akan melahirkan kesombongan intelektual. Betapa banyak orang berpendidikan tinggi tetapi justru menggunakan ilmunya untuk menipu, memanipulasi, dan merugikan orang lain. Maka, ilmu sejatinya bukan hanya tentang kecerdasan berpikir, tetapi juga tentang kebijaksanaan hati.

Kepangkatan dan jabatan pun demikian. Banyak orang rela mengorbankan integritas demi meraih posisi tertentu. Jabatan sering diperebutkan seakan-akan ia adalah tujuan akhir kehidupan. Padahal, jabatan hanyalah titipan sementara. Hari ini seseorang dihormati karena kedudukannya, esok ia bisa saja dilupakan ketika kekuasaan itu hilang. Jabatan bukan tempat untuk meninggikan diri, melainkan sarana untuk melayani. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar tanggung jawab yang dipikulnya terhadap rakyat, bawahan, dan masyarakat luas.

Sejarah telah menunjukkan bahwa banyak kehancuran bermula dari penyalahgunaan kekuasaan. Ketika jabatan digunakan untuk memperkaya diri, menindas yang lemah, atau memelihara keserakahan, maka sesungguhnya seseorang sedang menyiapkan beban berat bagi dirinya sendiri. Kekuasaan yang tidak dijalankan dengan amanah akan berubah menjadi sumber penyesalan yang panjang.

Kehidupan dunia pada hakikatnya hanyalah persinggahan sementara. Tidak ada satu pun manusia yang akan membawa harta, gelar, maupun jabatan ke liang kubur. Semua akan ditinggalkan. Yang tersisa hanyalah amal, jejak kebaikan, dan pertanggungjawaban atas apa yang pernah diamanahkan selama hidup. Kesadaran inilah yang seharusnya membuat manusia lebih berhati-hati dalam menjalani hidup, lebih rendah hati saat diberi kelebihan, dan lebih bijaksana ketika memegang kekuasaan.

Maka, jangan sampai kekayaan membuat lupa diri, gelar melahirkan kesombongan, kepangkatan menumbuhkan keangkuhan, dan jabatan menjauhkan manusia dari keadilan. Sebab setiap nikmat yang diberikan bukan hanya akan dinikmati, tetapi juga akan dipertanyakan. Amanah sebesar apa pun pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pemilik kehidupan untuk dimintai pertanggungjawaban.

Pada akhirnya, kemuliaan manusia bukan terletak pada seberapa tinggi jabatannya, seberapa banyak hartanya, atau seberapa panjang gelarnya. Kemuliaan sejati terletak pada bagaimana semua itu digunakan untuk menebar manfaat, menjaga amanah, dan menghadirkan kebaikan bagi sesama.

No More Posts Available.

No more pages to load.