Oleh : Dede Farhan Aulawi
Revolusinews.com – Idealisme merupakan kompas moral yang membimbing manusia dalam menentukan arah kehidupan. Ia lahir dari keyakinan terhadap nilai-nilai luhur seperti keadilan, kejujuran, kemanusiaan, dan pengabdian kepada kepentingan bersama. Namun, ketika rambu-rambu idealisme justru dipertentangkan, dipolitisasi, atau diperalat demi kepentingan tertentu, maka realitas kebenaran perlahan menjadi kabur. Masyarakat tidak lagi mampu membedakan mana yang benar dan mana yang sekadar dibenarkan oleh kekuasaan, opini, atau kepentingan kelompok.
Fenomena tersebut semakin nyata di era digital. Arus informasi bergerak begitu cepat sehingga kebenaran sering kali kalah oleh narasi yang lebih emosional dan sensasional. Sebuah fakta dapat dipelintir menjadi kebohongan, sementara kebohongan yang diulang terus-menerus dapat diterima sebagai fakta. Dalam situasi seperti ini, idealisme tidak lagi dipandang sebagai pedoman moral, melainkan dianggap sebagai alat retorika yang dapat ditafsirkan sesuai kepentingan masing-masing.
Di ranah politik, pertentangan terhadap idealisme sering muncul ketika prinsip-prinsip demokrasi, supremasi hukum, dan kepentingan rakyat dikalahkan oleh pragmatisme kekuasaan. Nilai-nilai yang seharusnya menjadi fondasi penyelenggaraan negara berubah menjadi slogan yang hanya digunakan pada saat diperlukan. Akibatnya, masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap institusi publik karena melihat adanya jurang antara ucapan dan tindakan.
Hal serupa juga terjadi dalam dunia ekonomi. Idealisme tentang pemerataan kesejahteraan kerap berbenturan dengan kepentingan akumulasi keuntungan. Atas nama efisiensi dan pertumbuhan, berbagai kebijakan terkadang mengabaikan keadilan sosial, perlindungan lingkungan, maupun hak-hak kelompok yang rentan. Ketika ukuran keberhasilan hanya didasarkan pada angka-angka ekonomi, nilai kemanusiaan berisiko tersisih dari proses pembangunan.
Dalam kehidupan sosial, kaburnya kebenaran juga dipicu oleh menguatnya polarisasi. Setiap kelompok merasa memiliki definisi kebenaran sendiri dan cenderung menolak pandangan yang berbeda. Dialog berubah menjadi pertentangan, sementara perbedaan pendapat dianggap sebagai ancaman. Padahal, kebenaran yang kokoh justru lahir melalui keterbukaan terhadap kritik, pengujian fakta, serta kesediaan untuk memperbaiki kekeliruan.
Pendidikan memiliki peran strategis dalam menjaga agar idealisme tidak kehilangan maknanya. Pendidikan tidak hanya bertugas mencetak manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk karakter yang mampu berpikir kritis, menghargai bukti, dan menjunjung etika. Dengan demikian, generasi muda tidak mudah terombang-ambing oleh propaganda, disinformasi, maupun kepentingan sesaat.
Pada akhirnya, idealisme bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan, melainkan dijadikan rambu yang mengarahkan perjalanan bangsa. Realitas memang menuntut kompromi dalam banyak hal, tetapi kompromi tidak boleh mengorbankan prinsip-prinsip dasar yang menopang keadilan dan kemanusiaan. Ketika idealisme tetap dijaga sebagai landasan moral, kebenaran akan lebih mudah dikenali meskipun menghadapi berbagai tantangan zaman. Sebaliknya, apabila idealisme terus diperdebatkan tanpa pijakan etika dan tanpa penghormatan terhadap fakta, maka masyarakat akan hidup dalam kabut ketidakpastian, di mana batas antara kebenaran, kepentingan, dan manipulasi menjadi semakin sulit dibedakan.






