Memahami Pemantik Eskalasi Kepentingan Bernama Konflik

oleh -1405 Dilihat
oleh
img 20240113 wa0020

Oleh : Dede Farhan Aulawi

Revolusinews.com – Mungkin kita menjadi bagian dari salah satu warga dunia yang pernah bertanya, “alasan fundamental apa yang mendasari umat manusia untuk berperang, saling membunuh, bahkan saling menghancurkan. Bukankah puncak sebuah peradaban ketika setiap insan manusia bisa saling menghormati dan menghargai ?”. Potret buram sebuah peradaban justeru akan terlihat saat nilai kemanusiaan menjadi relatif ketika setiap bangsa berlomba menciptakan teknologi untuk saling memusnahkan manusia itu sendiri. Kita bangsa Indonesia patut berbangga hati bahwa sampai saat ini negara ini masih konsisten untuk mengedepankan dialog dalam penyelesaian setiap permasalahan. Indonesia memiliki landasan konstitusi yang kuat untuk selalu mendorong perdamaian dunia.

Itulah sebabnya dalam dinamika peradaban yang sangat volatil, kadang kita berpikir sedemikian keras untuk mendapatkan berbagai penjelasan yang melatarbelakangi terjadinya suatu peristiwa atau fenomena. Dimensi teoritis perubahan paradigma VUCA menjadi BANI pasca pandemi tidak semata-mata perubahan nomenklatur saja, melainkan sebuah pesan fundamental bahwa semakin ke depan kompleksitas permasalahan akan semakin rumit. Disinilah penguatan rasa dan nilai persatuan menjadi sangat penting untuk ditanamkan.

Kita bisa melihat dan membaca saat terjadinya perang dunia pertama, kedua, Rusia versus Ukraina, konflik berkepanjangan Israel-Palestina yang telah merenggut ribuan nyawa warga tak berdosa, genosida di Rwanda, dan tentu saja masih banyak peristiwa lainnya yang merupakan bagian dari tragedi peradaban manusia.

Dari segi jumlah korban, di berbagai fenomena konflik horizontal yang melibatkan 2 negara atau lebih (aliansi) terkadang juga teramat masif. Misal dalam perang dunia kedua antara pihak Sekutu dan aliansi Jerman jumlah korban jiwa baik yang diakibatkan oleh peperangan secara langsung ataupun akibat terdampak dari berbagai efek tidak langsung, mencapai jumlah puluhan juta jiwa manusia.

Meski hingga kini, belum ada catatan resmi yang dapat menentukan jumlah pasti korban Perang Dunia II, akan tetapi angka kematian akibat pertempuran bertahun-tahun itu diperkirakan mencapai 62,5 juta jiwa dari sekitar 50 negara. Dimana sekitar 14,5 juta korban jiwa dilaporkan berasal dari pasukan militer Sekutu dan Sentral.

Sedangkan pada perang dunia I jumlah korban jiwa diperkirakan mencapai 10 juta jiwa manusia. Padahal selisih di antara kedua perang itu hanya berkisar sekitar 23 tahun dan terjadi di kawasan yang hampir sama.

Mungkin jika kita berpikir bahwa perang yang memakan korban jiwa sampai jutaan itu dipicu karena adanya suatu eskalasi masalah sangat vital terkait dengan kepentingan strategis suatu negara atau suatu kawasan, maka mungkin kita akan terkecoh.

Memang tak dapat dipungkiri bahwa konflik antar negara tentu tak terlepas dari adanya konflik kepentingan yang punya dimensi lintas sektoral. Misal penguasaan terhadap sumber energi berbasis hidrokarbon, ataupun lahan subur penghasil sumber pangan yang berkesinambungan.

Kita sama-sama tahu bahwa peradaban manusia selain berkembang karena api dan roda, juga karena pemilihan habitat dan bioma di ekosistem lembah sungai. Tigris-Eufrat di Babilonia, Nil di Mesir dan sebagian Afrika Utara, juga Indus di Asia Selatan, Amazon, Rio Pecos, Hudson, Blue Danube, Volga, Yang Tze, Irawadi, Yara, dsn banyak sungai lainnya menjadi sumber kehidupan bagi Homo sapiens yang pandai memanfaatkan kesuburannya untuk beternak dan bercocok tanam.

Sistem daerah aliran sungai tak hanya menjadi sumber kesuburan di daerah hilir atau delta saja seperti Nil, melainkan juga menjadi bagian dari sistem konservasi air di daerah hulu. Hasil tabungan air di hutan hujan ataupun lereng pegunungan itulah yang kemudian setelah terakumulasi di sebuah danau atau sungai besar akan menjadi bagian dari sistem DAS terintegrasi.

Untuk DAS Nil misalnya, hulunya bukan hanya terhenti di Victoria Nyanza saja, melainkan melibatkan anak-anak sungai penghasil air dari hasil konservasi hujan dll di area hulu. Sungai Kagera, Katonga, Sio, Yala, Nyando, Sondu Miriu, dan Mara misalnya, tanpa kehadiran mereka maka danau Victoria yang menjadi sumber air utama sungai Nil tentu akan mengalami krisis pasokan.

Maka konflik atas nama kepentingan secara teoritik dapat dilandasi oleh akumulasi kepentingan untuk dapat mempertahankan akses terhadap sumber daya. Belum lagi jika kita berbicara tentang rantai pasok dan sumber penghasil energi. Dimana kondisi kritis mulai membayangi karena cadangan rantai pasok energi utama seperti minyak bumi, semakin menipis. Menurut Investopedia, diperkirakan cadangan minyak bumi berada pada angka 1,73 triliun barel yang tersebar di berbagai wilayah di dunia.

Jumlah itu dengan tingkat konsumsi yang terdata saat ini, beserta proyeksi peningkatan nya di masa depan, dapat menunjukkan masih berapa lama lagi cadangan masih dapat dinikmati.

Meski dalam berbagai kalkulasi yang dibuat oleh para ahli, diprakirakan keberadaan minyak bumi masih bisa bertahan sampai 300 tahun lagi, akan tetapi tak dapat dipungkiri bahwa jika tingkat konsumsi terus tereskalasi secara eksponensial maka ketersediaannya akan semakin berkurang dan konflik untuk memperoleh hak eksklusif berupa keterjaminan rantai pasok energi dengan sendirinya akan menggejala dan tanpa disadari akan dapat bertransformasi sebagai bagian dari kecemasan bawah sadar yang banyak mempengaruhi proses pengambilan keputusan para pemimpin di berbagai tingkatan.

Maka terkadang di luar nalar kita, ada begitu banyak strategi okupansi, agresi, invasi, akuisisi, atau juga mengambil alih melalui proxy dilancarkan sebagai bagian dari adu tarik kepentingan.

Saat ini banyak negara yang mulai mendeteksi potensi akan adanya krisi energi kronis di masa yang akan datang, mulai berpikir kritis dan mengonstruksi berbagai skenario alternatif. Mulai dari yang berbasis aplikasi teknologi, sampai dengan berencana melakukan ekspansi secara sistematis meski terselubung dalam bentuk atau model yang lebih berorientasi pada ekonomi ataupun aspek sosial budaya lainnya.

Perang proksi melalui metoda seperti informasi asimetris dan penetrasi ideologi melalui behavior engineering juga mulai menjadi alternatif. Penguasaan data dan pengenalan pola psikososial dapat diubahsuaikan menjadi senjata.

Negara pemilik sumber daya kadang tanpa disadari dapat menjadi target bersama dengan tujuan-tujuan strategis tertentu. Konsep battleground klasik serta teori aliansi terdahulu sebagian besar di antaranya sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman.

Sebagai contoh, tahap berikutnya setelah kelangkaan minyak bumi adalah optimasi sumber energi transisi. Misal hidrokarbon dalam bentuk yang cadangannya masih bisa dieksploitasi dalam jangka waktu tertentu seperti gas alam.

Indonesia sendiri memiliki cadangan gas alam yang mencapai 7,56% dari total cadangan kawasan Asia Pasifik yang mencapai 16,6 triliun meter kubik. Jumlah itu juga setara 0,7% dari total cadangan gas alam dunia yang sebesar 188,1 triliun meter kubik.

Maka wajar jika keunggulan komparatif berupa keberadaan cadangan sumber energi itu, di sisi lain dapat menjadi faktor penarik masuknya banyak kepentingan sejalan dengan krisis global yang semakin membayangi.

Jika gas alam masih menjadi atensi untuk 2 atau 3 dekade ke depan, maka tahap selanjutnya adalah era listrik dan kendaraan listrik yang bertumpu pada baterai dan bahan bakunya. Maka teknologi baterai yang terus berkembang secara dinamis, seperti baterai untuk EV yang sudah jamak dijumpai saat ini, tentu akan memerlukan rantai pasok bahan baku seperti lithium, nikel dll.

Saat ini pemilik cadangan terbesar Lithium dunia adalah Australia yang diikuti oleh Chili, Cina, Argentina, dan Brazil. Tentu saja kondisi ini akan mempengaruhi konstelasi relasi dalam kawasan. Akan terjadi aliansi dan upaya kolaborasi strategis, termasuk dalam konteks transaksi pengaruh yang dapat merepresentasikan kepentingan negara atau kelompok negara sehaluan.

Ideologi di masa depan tak lagi berbasis pada nilai yang bersifat filosofis, melainkan lebih pada kepentingan dan urgensitas kebutuhan.

Sebagai gambaran, kemungkinan besar akan ada upaya-upaya tertentu untuk membangun posisi tawar strategis ataupun transaksi pengaruh yang tak lagi hanya sekedar bertumpu pada pendekatan diplomasi bilateral. Yang mungkin terjadi bisa saja perang proksi lintas ideologi dan secara paralel juga dapat melibatkan berbagai model intervensi berbasis teknologi, mulai dari bioengineering sampai rekayasa sosial yang dapat memberikan efek kontrol terhadap pengambilan keputusan massal.

Aktivitas transaksi pengaruh lainnya yang juga dapat diprediksikan akan terjadi adalah melalui perlombaan penguasaan teknologi dengan memantapkan penelitian sains dasar dan terapan yang kongruen dengan konsep pengembangan teknologi yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Teknologi penghasil energi berbasis hidrogen, pengolahan limbah, perbaikan kualitas atmosfer, material maju, pangan fungsional dan esensial, transportasi antar galaksi, sampai metoda longevity akan terus dikembangkan secara sangat dinamis.

Di sisi lain sistem komputasi super dengan digawangi oleh pendekatan quantum dan pemanfaatan jaringan dengan kapasitas yang menjamin adanya koneksi seamless, serta coverage yang telah mengadopsi banyak teknologi maju seperti satelit berbasis low earth orbital dll akan memantik terjadinya akselerasi terciptanya cloud knowledge dengan mengacu kepada prinsip-prinsip distribusi informasi, kolaborasi, dan self directed achievement model. Akan ada kesadaran universal yang secara tak kasat mata akan menjadi faktor integrator dari berbagai invensi dan inovasi sehingga dapat mengonstruksi suatu solusi secara terotomasi.

Mungkin inilah esensi dari standarisasi publikasi pengetahuan akademis dalam format-format tertentu seperti indexing Scopus dll. Agar ada bahasa yang dapat saling dipahami, untuk selanjutnya informasi yang terfasilitasi ketakterbatasan koneksi itu dapat menjadi universal intellectual capital yang menjadi modal dalam pengembangan berbagai teknologi di berbagai bidang dan dimensi.

Kemungkinan besar di masa yang akan datang akan tercipta model bisnis non profit dalam pengelolaan universal intellectual capital ini. Ilmu dan informasi dalam format data sains lintas disiplin dan dimensi akan menjadi semacam perpustakaan Alexandria virtual yang spiritnya dapat menjiwai para cendekiawan di seantero pelosok bumi.

Kembali kepada pembahasan kita di atas tentang konflik dengan pemantik eskalasi kepentingan yang telah menjadi pemicu berbagai perang dan juga kejahatan kemanusiaan yang telah berlangsung secara kronik, ternyata terkadang pelatuknya justru hal-hal yang bersifat personal, bahkan berlatar romantik.

Kemarahan, kebencian, dendam, stereotipe, dan juga harga diri. Pembunuhan Archduke Franz Ferdinand, pewaris mahkota Austro-Hungaria, dan istrinya, Archduchess Sophie, di Sarajevo pada 28 Juni 1914, menjadi pencetus konflik yang kemudian memantik perang dunia I. Perang dahsyat di sebagian besar Eropa yang dimulai pada Agustus 1914, dan merambat ke beberapa front selama empat tahun berikutnya.

Mengacu kepada maha karya Homer dari periode 800 SM kita juga mengenal perang Troya. Perang antara bangsa Yunani atau Akadia dengan sekumpulan suku Troy yang tergabung dalam aliansi negara kota Troya.

Mungkin memang ada eskalasi konflik yang bersumber pada berbagai perselisihan fundamental di antara kedua bangsa yang sebenarnya masih satu rumpun, dan bahkan masih satu kepercayaan juga. Akan tetapi pelatuk yang menjadi penanda dimulainya perang 10 tahun dengan begitu banyak korban jiwa dan hancurnya aset bangsa, adalah soal cinta.

Perang antara Yunani dan Emporium Troy ini kemudian melahirkan kisah legendaris Kuda Troya dalam perang yang berlangsung bertahun-tahun itu. Dimana pasukan Yunani, yang meskipun diperkuat jagoan-jagoan seperti Akhilles, Diomedes, Odysseus dan Aias, setelah sekian lama, tak mampu juga untuk menjebol tembok kota Troya.

Hingga akhirnya pada suatu waktu Odysseus yang telah lelah dan jenuh dalam berperang mengusulkan untuk membuat sebuah patung kuda raksasa dari kayu yang akan ditempatkan di luar tembok kota Troya, dimana di dalam kuda tersebut ditempatkan sejumlah pasukan khusus Yunani.

Lewat tipu daya dan strategi gemilang, kuda berisi pasukan khusus itu justru dimasukkan oleh orang Troy atau Troya ke dalam benteng. Mengapa bisa demikian? Karena pada hari dimana patung kuda itu sudah siap dan di dalamnya sudah berisi peleton pasukan khusus, seluruh pasukan infanteri dan armada gabungan Yunani seolah ditarik mundur dari perimeter pengepungan Troya.

Yang tersisa hanyalah seekor patung kuda dan narator mumpuni bernama Sinon. Sinon yang segera saja diinterogasi oleh pasukan Troya mengarang cerita, bahwa bangsa Yunani akan mempersembahkan patung kuda raksasa itu untuk dewi Athena sebagai bagian dari permohonan untuk kejayaan dan kemenangan pada Yunani.

Tetapi karen patung itu ditinggalkan, Sinon dengan kecepatan dialektika dan bernarasinya menyampaikan bahwa akan ada konsekuensi serius bagi bangsa Troya jika patung itu dirusak atau dibakar.

Bangsa Troya akan terkena tulah Athena. Pasukan Troya termakan oleh narasi Sinon. Maklum, sebenarnya Troya dan Yunani adalah negara tetangga yang berkeyakinan sama. Ras nya pun diduga sama pula.

Walhasil pasukan Troya yang terpedaya bualan Sinon malah membawa patung kuda raksasa berisi peleton pasukan khusus Yunani ke dalam gerbang benteng kota.

Itulah kekuatan narasi yang mempergunakan dengan benar prinsip-prinsip dasar dari ultimate game dan theory of mind/ TOM. Sinon dapat memanfaatkan pengetahuannya yang mendalam untuk mempengaruhi sistem kepercayaan dan TOM pasukan Troya, sehingga mereka tanpa mereka sadari telah mengambil keputusan berdasar informasi yang telah dimanipulasi.

Setelah tengah malam tiba dan kota Troya sunyi senyap, keluarlah peleton pasukan khusus dari dalam perut kuda. Mereka melakukan aksi penguasaan gerbang kota, melumpuhkan penjaga dan segera membuka gerbang Troya.

Di luar benteng pasukan Yunani dan armadanya telah siap sedia. Mereka ternyata tidak mundur dari medan perang sebagaimana yang diduga pihak Troya, melainkan bersembunyi di sebuah pulau yang jaraknya dekat saja. Hanya sepelemparan batu, hingga saat tengah malam tiba, mereka telah bersiaga di pos nya masing-masing, sambil menunggu aba-aba pada saat peleton khusus dalam perut kuda telah berhasil melumpuhkan penjaga gerbang dan membukanya.

Walhasil malam itu menjadi bencana nan durjana bagi warga Troya. Kota benteng mereka hangus dibakar dan penduduk serta pemimpinnya nyaris musnah dibantai.

Raja Priam dan hampir semua kepala suku Troya tewas. Hanya Aeneas, putra Aphrodite dan seorang Troya bernama Anchises yang dapat lolos dari pembantaian massal tersebut.

Tapi tahukah anda apa penyebab dari perang berkepanjangan yang telah menelan korban ratusan ribu orang itu? Kisah kuda Troya dan perang Yunani dan bangsa Troy yang ditulis oleh Homer pada sekitar 800 SM dan terdapat dalam kedua bukunya: Illiad dan Oddissey, sebenarnya berawal dari persoalan cinta dan kecemburuan yang dipantik oleh kecantikan wanita.

Perang Troya berawal dari perselisihan antara dewi Athena, Hera, dan Aphrodite, setelah Eris, dewi perselisihan dan pertikaian, melemparkan gagasan kompetisi ratu-ratuan ala Miss Universe dengan tropi kemenangab berupa sebuah apel emas, yang bertuliskan “untuk yang tercantik.” Tropi yang akan dianugerahka kepada dewi tercantik di jagat raya. Mungkin inilah cikal bakal ajang Miss Universe itu sendiri bukan?

Atau setidaknya peristiwa mitologis ini adalah representasi nyaris sempurna dari konteks kontestasi antar wanita yang sebagian di antaranya sedemikian memuja keunggulan estetika yang melekat pada dirinya.

Dalam konteks biologi evolusi hal ini dapat saja dikaitkan dengan upaya untuk memperoleh bibit genetika terbaik dalam rangka memperoleh keturunan terbaik.

Karena cantik akan menjadi daya tarik bagi mereka yang ganteng, proporsional secara Fibbonacci, dimana golden ratio pada struktur tubuh dan wajah sudah banyak diteliti memiliki korelasi dengan berbagai keunggulan genetika.

Maka kecerdasan seorang Ibu akan berpadu dengan bibit unggul seorang Ayah, dimana calon ayah tersebut yang didominasi preferensi visual, akan terpikat oleh kecantikan yang mempesona.

Walhasil 3 dewi diva yang bersaing untuk mendapatkan gelar yang tercantik dan paling mempesona di kalangan para dewa dalam mitologi Yunani atau Akhaia (ada yang menyebutnya juga Akhadia), pun turut dalam ajang kontestasi yang digagas Eris, si dewi huru hara atau perselisihan itu. Eris adalah bentuk feminin dari Eros.

Zeus lalu mengirim para dewi itu kepada Paris, pahlawan Troya yang super ganteng, dan memintanya menjadi juri untuk menentukan siapa yang tercantik di antara ketiga diva tersebut.

Ternyata Paris menentukan bahwa Aphrodite, sebagai the most beautiful goddes, yang berhak memperoleh apel itu. Aphrodite yang girang tak alang kepalang, berniat memberi hadiah kepada Paris. Ia tahu Paris memendam harap untuk bersanding dengan wanita tercantik di dunia yang bernama Helena. Tapi sayangnya Helena telah dipersunting oleh Menelaus.

Aphrodite pun mengabulkan permintaan Paris untuk membuat Helene atau Helena, biasa juga dipanggil Helen saja, wanita tercantik dan istri Menelaus, jatuh cinta kepada Paris.

Paris ini memang aneh, super ganteng dan jagoan, tapi senangnya pada istri orang. Meski memang dunia mengakui bahwa Helen adalah wanita tercantik di kalangan manusia. Sebagaimana Aphrodite di kalangan para dewa.

Helena yang dibuat Aphrodite jatuh cinta dan kesengsem berat pada Paris, seperti wanita yang terkena ajian Jaran Goyang dan Semar Mesem, akhirnya rela dibawa kabur Paris ke Troya.

Walhasil akibat perbuatan Paris itu, Agamemnon, raja Mykenai dan saudara Menelaus marah besar.

Ia kemudian memimpin suatu ekspedisi pasukan Akhaia ke Troya dan mengepung kota itu selama sepuluh tahun. Setelah banyak pahlawan yang tewas, termasuk pejuang Akhaia seperti Akhilles dan Aias, serta pejuang Troya seperti Hektor dan akhirnya juga, sang penculik hati, Paris, kota itu akhirnya takluk justru karena strategi tipu muslihat melalui Kuda Troya.

Dalam peristiwa itu pasukan Akhaia membantai hampir semua orang Troya (kecuali sebagian perempuan dan anak-anak yang dijadikan budak) dan merusak kuil-kuil peribadatan yang ternyata justru membuat para dewa murka.

Akibatnya orang-orang Yunani atau Akadia (Akhaia) ditimpakan azab dan hanya segelintir saja yang berhasil tiba dengan selamat di tanah air mereka.

dan banyak lainnya Selebihnya tercerai berai dan mendirikan koloni di tempat yang jauh. Mungkin ini adalah penggambaran dari proses migrasi yang ditunjukkan melalui hasil pemeriksaan genealogi secara genetika di masa kini.

Bahka bangsa Romawi yang eksis setelah masa itu, mengklaim sebagai keturunan Aineias, salah satu orang Troya yang selamat dari genosida Akadia, yang dikisahkan hijrah ke semenanjung Italia.

Meski sebagian cendekiawan mengkategorikan perang Troya ini sebagai sebuah legenda, sebagian besar lainnya meyakini bahwa Perang Troya adalah peristiwa sejarah yang terjadi pada abad ke-13 atau 12 SM, dan menduga bahwa Troya terletak di Turki modern di dekat Dardanelles. Hal ini didasarkan oleh berbagai temuan dari riset arkeologi, yang antara lain dikerjakan oleh Frank Calvert dan Heinrich Schliemann.

Hikmahnya apa ya kira-kira? Izinkan saya untuk mengambil simpulan sederhana yang relatif rawan kesalahan karena diambil dengan keterbatasan pengetahuan dan sempitnya sudut dalam perspektif pertimbangan. Dari kisah dan pembahasan di atas, tampaknya tak dapat dipungkiri dan dihindari adanya proyeksi dari perspektif dan preferensi personal seorang pemimpin dalam model kepemimpinan dan keputusan-keputusan strategis yang diambilnya.

Meski para pahlawan dan pemimpin besar seperti Paris dan Agamemnon dalam kisah Troya di atas, tentulah memiliki kapasitas kepemimpinan dan kompetensi manajerial yang mumpuni, terbukti dalam konteks konflik yang cenderung merupakan konflik di ranah domestik atau pribadi, rakyat dua negara dilibatkan sepenuhnya. Bahkan mereka lah yang menjadi korban terbesar sebagai imbas dari konflik keluarga yang terjadi dan melatari perang brutal dengan adu fisik yang bersifat frontal.

Maka pesan moralnya adalah, mari kita bangun sistem demokrasi cerdas yang berkeadilan. Adil dalam soal distribusi hak dan kewajiban. Adil dalam menentukan peran fungsional setiap elemen di dalamnya secara proporsional. Adil dalam menetapkan panduan dalam mengonstruksi organisasi yang mewadahi berbagai arus kepentingan dalam bermasyarakat dan bernegara.

Ada azas keterwakilan yang dapat merepresentasikan keragaman kepentingan di tengah populasi masyarakat heterogen yang tak seragam dalam soal karakter dan kebutuhannya. Sistem yang inklusif, tetapi sekaligus edukatif untuk menciptakan semangat kolaboratif yang bersifat partisipatif.

Sistem yang pada gilirannya juga diharapkan dapat membantu mencerdaskan masyarakat dalam memberikan penilaian objektif kepada para calon pemimpinnya.

Pemimpin yang mungkin diharapkan memiliki sifat inspiratif motivasional seperti Leonidas dari Sparta, atau pemimpin tegas dan berintegritas sebagaimana Khalifah Umar bin Khatab, ataupun empatif dan cerdas seperti keturunan beliau yang juga tak kalah terkenal, Umar bin Abdul Azis.

Intinya karakter dan pola pikir seorang pemimpin mau tak mau pastilah akan mewarnai segenap proses pertimbangan dan pengambilan keputusannya, sebagaimana kita lihat pada beberapa contoh di atas. Terlebih jika bentuk pemerintahan yang dijalankan adalah model monarki. Karena memang dalam sistem monarki, raja atau penguasa adalah entitas pilihan yang kewenangan prerogatif pemilihannya berada pada Tuhan.

Pada gilirannya, sistem yang cerdaslah yang dapat mengelola dan mengarahkan mekanisme pengambilan keputusan dengan bersandar pada proporsionalitas berbagai elemen yang menjadi inti dari proses pengambilan keputusan. Sehingga keputusan seorang pemimpin atau sekelompok pimpinan bukanlah keputusan yang bersifat personal yang sarat dengan subjektivitas dan pendekatan yang berbasis pengalaman individual.

No More Posts Available.

No more pages to load.