Oleh : Dede Farhan Aulawi
Revolusinews.com – Kebutuhan energi nasional yang terus meningkat, terutama di wilayah kepulauan, daerah terpencil, kawasan industri baru, dan wilayah perbatasan, menuntut hadirnya solusi energi yang andal, berkelanjutan, dan beremisi rendah. Salah satu alternatif yang mulai mendapat perhatian dunia adalah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Terapung atau Floating Nuclear Power Plant (FNPP).
Rosatom Rusia saat ini merupakan perusahaan yang paling maju dalam pengembangan teknologi PLTN terapung melalui proyek Akademik Lomonosov yang telah beroperasi sejak tahun 2020 di wilayah Pevek, Arktik Rusia. PLTN terapung tersebut memiliki kapasitas sekitar 70 MW listrik dan menjadi satu-satunya fasilitas komersial sejenis yang beroperasi di dunia. Teknologi ini dikembangkan berdasarkan pengalaman panjang Rusia dalam mengoperasikan reaktor nuklir kapal pemecah es.
Dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, kerjasama dengan Rosatom dapat menjadi salah satu opsi strategis untuk mempercepat penyediaan energi bersih sekaligus transfer teknologi nuklir.
Prinsip Dasar Kerjasama
Model kerjasama terbaik tidak hanya berorientasi pada pembelian listrik, tetapi harus mampu menghasilkan :
– Transfer teknologi secara bertahap.
– Penguatan kapasitas SDM nasional.
– Peningkatan kandungan lokal.
– Kemandirian operasional jangka panjang.
– Kepastian keselamatan dan keamanan nuklir.
– Keberlanjutan ekonomi proyek.
Dengan prinsip tersebut, Indonesia tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, tetapi juga mitra strategis dalam pengembangan industri nuklir masa depan.
Tahap Pertama :
– Build-Own-Operate (BOO). Pada tahap awal, model Build-Own-Operate menjadi pilihan paling realistis. Dalam skema ini :
– Rosatom membangun fasilitas.
– Rosatom mengoperasikan reaktor.
– Indonesia membeli energi listrik yang dihasilkan.
– Pengawasan dilakukan oleh regulator nasional sesuai standar internasional.
Keuntungan model ini adalah risiko teknologi dan operasional sebagian besar masih ditanggung oleh pihak Rosatom sehingga Indonesia dapat memperoleh pengalaman praktis tanpa harus langsung menguasai seluruh aspek teknologi yang kompleks.
Tahap Kedua : Joint Venture Nasional
Setelah periode operasional awal berjalan baik, kerjasama dapat ditingkatkan menjadi perusahaan patungan (joint venture).
Komposisi kepemilikan dapat melibatkan :
– BUMN energi nasional.
– BUMN galangan kapal.
– Dana investasi pemerintah.
– Rosatom sebagai mitra teknologi.
Pada fase ini mulai dilakukan :
– Pelatihan operator Indonesia.
– Pengembangan rantai pasok lokal.
– Produksi komponen non-nuklir di dalam negeri.
– Pembangunan fasilitas pendukung nasional.
Model ini akan memperkuat posisi Indonesia sebagai bagian dari ekosistem industri nuklir regional.
Tahap Ketiga: Transfer Teknologi dan Industrialisasi
Tujuan akhir kerjasama adalah menciptakan kemampuan nasional.
Beberapa sasaran yang dapat dicapai antara lain :
– Desain sistem kelistrikan lokal.
– Pembuatan modul pendukung.
– Pengembangan galangan kapal khusus.
– Pusat pelatihan nuklir nasional.
– Laboratorium keselamatan reaktor.
– Pusat simulasi operasi PLTN terapung.
Pada tahap ini Indonesia dapat mulai berpartisipasi dalam pembangunan unit-unit baru dengan tingkat kandungan lokal yang semakin tinggi.
Model Pendanaan Terbaik
Pendanaan proyek dapat menggunakan kombinasi :
– Sovereign Wealth Fund.
– Green Energy Fund.
– Export Credit Agency Rusia.
– Pembiayaan multilateral.
– Investasi BUMN.
Skema Power Purchase Agreement (PPA) jangka panjang menjadi instrumen penting untuk menjamin kepastian arus kas proyek.
*Aspek Keselamatan dan Regulasi*
Keberhasilan proyek sangat bergantung pada penerapan standar keselamatan yang ketat.
Beberapa elemen yang harus menjadi syarat utama meliputi :
– Kepatuhan terhadap standar IAEA.
– Audit keselamatan independen.
– Sistem keamanan siber fasilitas.
– Emergency preparedness nasional.
– Pengelolaan bahan bakar bekas.
– Pengawasan lingkungan laut.
Rosatom mengklaim bahwa teknologi PLTN terapungnya memanfaatkan pengalaman operasi reaktor kapal selama puluhan tahun dan telah dirancang untuk beroperasi pada lingkungan ekstrem. Namun demikian, setiap proyek yang diterapkan di Indonesia tetap harus melalui kajian keselamatan, lingkungan, sosial, dan ekonomi secara independen.
Peluang bagi Indonesia
Indonesia memiliki beberapa keunggulan yang membuat PLTN terapung menarik untuk dikaji :
– Negara kepulauan dengan ribuan pulau.
– Banyak wilayah dengan biaya listrik tinggi.
– Kawasan industri pesisir yang berkembang pesat.
– Kebutuhan desalinasi air bersih di beberapa wilayah.
– Target dekarbonisasi nasional.
PLTN terapung berpotensi ditempatkan pada kawasan industri, wilayah pertambangan terpencil, pulau terluar, maupun pusat pertumbuhan ekonomi baru yang sulit dijangkau jaringan listrik besar.
Jadi, model kerjasama terbaik antara Indonesia dan Rosatom bukanlah sekadar pembelian pembangkit listrik terapung, melainkan kemitraan strategis bertahap yang dimulai dari skema Build-Own-Operate, berkembang menjadi joint venture, dan berujung pada transfer teknologi serta penguatan industri nasional.
Dengan pendekatan tersebut, Indonesia dapat memperoleh manfaat berupa pasokan energi bersih yang andal, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguasaan teknologi strategis, serta penguatan ketahanan energi nasional tanpa harus menanggung seluruh risiko teknologi pada tahap awal. Kerjasama yang dirancang secara cermat, transparan, dan berlandaskan standar keselamatan internasional berpotensi menjadi fondasi penting bagi pengembangan energi nuklir masa depan di Indonesia.






