Oleh : Dede Farhan Aulawi
Revolusinews.com – Di tengah hiruk pikuk politik, ekonomi, dan perebutan panggung kekuasaan, sering kali kita lupa bahwa Indonesia bukan milik segelintir elit yang bersuara paling keras di ruang publik. Indonesia bukan hanya tentang mereka yang duduk di kursi empuk parlemen, bukan pula monopoli para pengusaha besar yang menentukan arah ekonomi negeri. Indonesia adalah milik 280 juta warga, setiap petani di pelosok, nelayan di pesisir, buruh di pabrik, hingga pelajar yang berjuang meniti masa depan dengan penuh harapan.
Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa semangat “milik bersama” itu kian terpinggirkan. Banyak kebijakan yang seolah hanya berpihak pada kepentingan minoritas berkuasa. Suara rakyat kecil kerap diredam atas nama “stabilitas” dan “pembangunan”. Padahal, stabilitas tanpa keadilan hanyalah kedamaian semu, dan pembangunan tanpa pemerataan hanyalah kemajuan semu.
Mereka yang duduk di kursi kekuasaan mungkin lupa bahwa mandat yang mereka emban berasal dari rakyat, bukan dari segelintir kelompok berkepentingan. Lupa bahwa setiap keputusan politik seharusnya berakar dari nurani rakyat, bukan dari lobi dan transaksi. Dan lupa bahwa Indonesia berdiri bukan karena kekayaan alamnya, tetapi karena semangat gotong royong dan kebersamaan yang menjadi jati diri bangsa.
Kita perlu kembali mengingatkan dengan nalar kritis dan kesadaran moral bahwa Indonesia bukan proyek eksklusif, melainkan rumah besar bagi semua warga. Di dalam rumah ini, tidak boleh ada yang lapar di tengah kelimpahan, tidak boleh ada yang tersisih hanya karena tak punya akses atau kuasa.
Mungkin mereka lupa. Tapi rakyat tidak.
Rakyat masih ingat bahwa Indonesia adalah janji kemerdekaan, tempat di mana setiap warga, tanpa terkecuali, berhak hidup layak, bersuara, dan bermartabat.








