BANDUNG, Revolusinews.com – Pegiat Ragam Wisata Nusantara (Prawita) Gerakan Nasional Pecinta Pariwisata Indonesia (Genppari) selalu hadir dan tampil memberikan pembinaan, pembekalan dan pendampingan kepada para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk membantu memecahkan masalah yang dihadapi.
Ketua Umum DPP Prawita Genppari, Dede Farhan Aulawi mengatakan UMKM sesungguhnya memiliki ketangguhan tertentu dalam sektor usaha kecil menengah. Hal ini sudah terbukti manakala dunia mengalami krisis ekonomi tahun 1998 dimana banyak perusahaan besar yang gulung tikar, namun tidak dengan UMKM.
“Saat krisis ekonomi tahun 1998 tidak berlaku bagi UMKM. Namun demikian UMKM pun sesungguhnya memiliki beberapa kendala yang sering dihadapi dalam menjalankan bisnisnya. Terlebih beberapa produk UMKM ini sangat erat dengan geliat kepariwisataan,” kata Dede Farhan Aulawi setelah selesai menjadi narasumber pembinaan kewirausahaan bagi para pelaku UMKM di Balai RW Desa Manggahang Baleendah, Kabupaten Bandung Jawa Barat pada Rabu (1/2/2023).
Pada kesempatan tersebut hadir Ketua RW, Pasundan Isteri (PASI), Gabungan Organisasi Wanita (GOW), ibu – ibu PKK, dan pengurus DPP Prawita Genppari dengan didampingi pengurus DPD Prawita Genppari Kabupaten Bandung yang disambut antusias oleh seluruh hadirin, bahkan mereka berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut secara berkesinambungan.
Itulah kepiawaian sosok Dede Farhan Aulawi sang motivator ternama yang selama ini konsisten melakukan pembinaan untuk masyarakat, baik di bidang kepariwisataan, seni budaya, koperasi dan UMKM. Hal ini memang sudah menjadi komitmen dirinya untuk mewakafkan sebagian waktu, tenaga, dan ilmu untuk mencerdaskan bangsa dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Di samping itu Tim Prawita Genppari juga cukup solid dengan kehadiran Tim Elang (Emak-emak Petualang) yang selama ini senantiasa turut serta berkiprah dalam setiap kegiatan.
Pada kesempatan tersebut, Dede memaparkan pengenalan manajemen bisnis bagi pelaku UMKM dengan penekanan awal untuk mengenal tantangan dan peluang bisnis di tengah ancaman resesi global 2023 serta pemanfaatan teknologi untuk memperluas pangsa pasar. Ia memaparkan dari konsep desain kemasan, digital marketing, dan lain – lain tetapi dengan bahasa yang sangat sederhana sehingga mudah dipahami oleh seluruh hadirin.
“Melalui literasi dan kosa kata yang luas ia mampu memaparkan konsep akademik ke dalam bahasa publik yang membumi, seperti menjelaskan Bisnis Model Kanvas dalam praktek empirik UMKM,” ujar Dede.
Menurutnya, Bisnis Model Kanvas merupakan cetak biru untuk strategi yang dilaksanakan dalam struktur organisasi, proses dan sistem. Model bisnis ini mengubah konsep bisnis yang awalnya rumit untuk dilakukan menjadi sederhana untuk dilaksanakan.
Ia juga menguraikan pendekatan teori yang disampaikan oleh Osterwalder dan Pigneur yang membagi ke dalam sembilan elemen yakni, Segmen Pelanggan (Customer Segment), Porsi Nilai (Value Proposition), Jaringan (Channel), Hubungan dengan Pelanggan (Customer Relationship), Aliran Dana (Revenue Stream), Sumber Daya Kunci (Key Resourcess), Kegiatan Inti (Key Activities), Kemitraan Kunci (Key Partners).
Selanjutnya, ia mengatakan bahwa Customer Segment terbagi menjadi beberapa jenis yaitu Mass Market ( Pasar Terbuka ), Niche Market (Pasar Khusus), Segmented (Pasar Tersegmentasi), Diversified ( Diversifikasi Pasar ), Multi-Sided Platforms (Multi Pasar). Sementara, Key Partnership adalah jaringan yang dimiliki oleh perusahaan yang berhubungan dengan pemasuk bahan baku dan mitra bisnis dari perusahaan sehingga dapat membuat model bisnis berjalan.
“Perusahaan menciptakan aliansi untuk mengoptimalkan model bisnisnya, mengurangi resiko, dan akuisisi sumber daya. Terdapat empat tipe yang berbeda dari partnership / kerjasama, yaitu Aliansi strategis diantara bukan pesaing / kompetitor, Koopetisi atau Kerjasama strategis diantara pesaing / kompetitor, Joint venture untuk mengembangkan bisnis baru, dan Hubungan pemasok dan pembeli untuk menjamin pasokan yang dapat diandalkan,” tutupnya.
Sebagai informasi, dalam konteks ini Dede Farhan menyampaikan berbagai teori di atas tidak menjelaskannya seperti di depan kelas untuk mahasiswa. Oleh karenanya dia menterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dimengerti, mudah dipahami dan mudah untuk diterapkan oleh pelaku UMKM.












