Oleh : Dede Farhan Aulawi
Revolusinews.com – Ada saat-saat ketika manusia merasakan firasat yang sulit dijelaskan. Udara terasa lebih berat, langkah menjadi lebih waspada, dan hati seolah menangkap sesuatu yang belum terlihat oleh mata. Perasaan itu menyerupai serigala yang mencium bau darah kematian dari kejauhan. Sebuah naluri purba yang membangunkan kewaspadaan terdalam.
Serigala di alam liar mampu mengenali jejak kelemahan dan kematian melalui aroma yang terbawa angin. Demikian pula manusia, meskipun hidup dalam dunia modern yang dipenuhi teknologi dan logika, tetap memiliki intuisi yang kadang memberi sinyal akan datangnya perubahan besar, kehilangan, atau akhir dari sebuah perjalanan. Naluri tersebut tidak selalu berbentuk ketakutan, melainkan kesadaran bahwa tidak ada yang abadi.
Bau darah kematian dalam makna simbolis bukan hanya tentang berakhirnya kehidupan. Ia dapat menjadi pertanda runtuhnya sebuah harapan, berakhirnya sebuah hubungan, atau gugurnya cita-cita yang selama ini diperjuangkan. Ketika tanda-tanda itu mulai terasa, manusia sering berada di persimpangan antara menerima kenyataan atau menolak kebenaran yang perlahan mendekat.
Namun, sebagaimana serigala yang tidak berhenti berjalan hanya karena mencium aroma kematian, manusia pun harus terus melangkah. Kematian dan akhir adalah bagian dari siklus kehidupan. Dari sesuatu yang berakhir, selalu ada ruang bagi kelahiran yang baru. Daun yang gugur memberi tempat bagi tunas muda untuk tumbuh, dan malam yang gelap menjadi jalan bagi datangnya fajar.
Karena itu, menjadi seperti serigala yang mencium bau darah kematian bukan berarti hidup dalam ketakutan. Sebaliknya, itu adalah kemampuan untuk mengenali kenyataan, memahami bahwa setiap perjalanan memiliki ujungnya, lalu menyambut masa depan dengan keberanian. Sebab mereka yang berani menghadapi akhir adalah mereka yang paling siap menyongsong awal yang baru.






