Cerpen Oleh : Dede Farhan Aulawi
Revolusinews.com – Namanya Rahman. Di matanya, hidup adalah perlombaan yang tak pernah selesai. Setiap pagi ia berangkat sebelum matahari terbit. Setiap malam ia pulang ketika anak-anaknya telah terlelap. Telepon genggamnya tak pernah benar-benar diam. Rapat berganti rapat, proyek mengejar proyek, target demi target. Baginya, istirahat hanyalah jeda sebelum kembali bekerja.
“Aku bekerja demi keluarga,” begitu jawabnya setiap kali istrinya mengingatkan, “Mas, jangan lupa salat berjamaah di masjid.”
“Nanti saja. Setelah proyek ini selesai.”
Namun proyek selalu berganti. Kesibukan tak pernah benar-benar selesai.
Al-Qur’an yang dulu rajin dibaca kini mulai berdebu di rak. Tasbih pemberian ibunya tersimpan di laci yang tak pernah dibuka lagi. Undangan pengajian sering ditolak dengan alasan rapat. Bahkan ketika ayahnya wafat, ia hanya sempat hadir sebentar sebelum kembali menerima panggilan pekerjaan.
Ia selalu berkata kepada dirinya sendiri, “Kalau sudah mapan, aku akan lebih dekat kepada Allah.”
Sayangnya, waktu tidak pernah membuat janji.
Suatu sore, Rahman sedang mempresentasikan proyek terbesar dalam hidupnya. Semua orang bertepuk tangan. Nilai kontraknya miliaran rupiah.
Di tengah tepuk tangan itu, dadanya terasa sesak.
Keringat dingin mengalir.
Pandangannya mulai kabur.
Ia mencoba tersenyum, tetapi tubuhnya roboh di hadapan semua orang.
Ambulans datang secepat mungkin.
Di dalam perjalanan menuju rumah sakit, suara sirene terdengar semakin jauh.
Yang justru terdengar jelas adalah suara hatinya sendiri.
“Ya Allah… sebentar lagi… aku belum siap…”
Bayangan demi bayangan melintas.
Salat yang ditunda.
Sedekah yang diundur.
Taubat yang belum sempat dilakukan.
Air mata ibunya yang pernah memintanya lebih sering pulang.
Wajah anak-anaknya yang lebih mengenal sekretarisnya daripada ayah mereka sendiri.
Ia ingin kembali.
Hanya lima menit.
Lima menit untuk berwudu.
Lima menit untuk bersujud.
Lima menit untuk memeluk istri dan anak-anaknya.
Lima menit untuk meminta maaf kepada semua orang.
Namun waktu telah habis.
Di rumahnya, lemari penuh jas mahal.
Garasi penuh kendaraan mewah.
Rekening penuh angka.
Tetapi semua itu tidak ikut mengantarnya.
Yang mengiringinya hanyalah selembar kain kafan.
Di pemakaman, orang-orang berkata, “Beliau orang sukses.”
Tetapi di dalam liang lahat, tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan jawaban atas pertanyaan tentang amalnya.
Proyek-proyek besar tak mampu menjadi cahaya.
Jabatan tak mampu memperluas kubur.
Popularitas tak mampu menghentikan pertanyaan malaikat.
Yang tersisa hanyalah amal yang pernah dilakukan dengan ikhlas.
Beberapa hari kemudian, anak sulungnya membuka ruang kerja sang ayah.
Di atas meja terdapat agenda kerja yang penuh dengan rencana hingga dua tahun ke depan.
Di halaman terakhir tertulis daftar target bisnis.
Tak ada satu pun catatan tentang target memperbaiki salat.
Tak ada jadwal membaca Al-Qur’an.
Tak ada pengingat untuk bertaubat.
Tak ada rencana mempersiapkan kematian.
Anaknya menangis sambil memeluk mushaf Al-Qur’an yang masih terbungkus plastik hadiah ulang tahun ayahnya sendiri.
“Ayah… ternyata Ayah sempat membeli Al-Qur’an baru… tetapi tidak pernah sempat membacanya.”
Tangis itu memenuhi ruangan yang dulu lebih sering dipenuhi suara rapat.
Hidup memang menuntut kita bekerja dan berusaha. Namun kesibukan tidak boleh membuat kita lupa bahwa setiap langkah sesungguhnya sedang mendekat kepada satu kepastian: kematian.
Ajal tidak menunggu semua target tercapai. Ia tidak bertanya apakah proyek telah selesai, tabungan sudah cukup, atau jabatan telah diraih. Ia datang tepat pada waktu yang telah Allah tetapkan.
Karena itu, jangan hanya sibuk menyiapkan kehidupan yang akan berakhir. Sisihkan waktu untuk menyiapkan kehidupan yang tidak akan pernah berakhir.
Sebab yang paling menyedihkan bukanlah mati dalam keadaan miskin, melainkan mati ketika terlalu sibuk mengumpulkan dunia hingga lupa menyiapkan bekal menuju akhirat.






