Terlalu Sibuk untuk Pulang

oleh -19 Dilihat
oleh
img 20260617 wa0053


Oleh : Dede Farhan Aulawi

Raka selalu berkata, “Nanti saja.”

Nanti salat.
Nanti mengaji.
Nanti ke masjid.
Nanti bertobat.

Baginya, hidup adalah tentang target, rapat, proyek, dan angka-angka yang terus bertambah. Telepon genggamnya tak pernah berhenti berdering. Kalendernya penuh. Rekeningnya semakin gemuk.

Ketika azan berkumandang, ia hanya melirik jam.

“Sebentar lagi,” katanya.

Namun sebentar itu berubah menjadi besok, lalu minggu depan, lalu bertahun-tahun.

Ibunya yang renta sering menelepon.

“Nak, jangan lupa salat ya.”

Raka hanya tersenyum tipis.

“Iya, Bu.”

Tapi setelah telepon ditutup, ia kembali tenggelam dalam kesibukan yang tak pernah selesai.

Waktu berjalan tanpa suara.

Rambutnya mulai beruban. Wajahnya mulai lelah. Dadanya sering terasa sesak. Namun ia tetap berkata, “Nanti saja. Setelah proyek ini selesai. Setelah target tercapai. Setelah hidup lebih tenang.”

Padahal hidup tak pernah benar-benar tenang.

Suatu malam, setelah pulang larut dari kantor, Raka duduk sendirian di ruang kerjanya. Di luar, hujan turun perlahan. Di meja masih ada laptop yang menyala dan setumpuk pekerjaan yang menunggu.

Tiba-tiba dadanya terasa nyeri.

Sangat nyeri.

Ia berusaha berdiri, tetapi tubuhnya limbung. Telepon genggam jatuh dari tangannya.

Dalam detik-detik yang terasa panjang itu, matanya menatap jam dinding. Azan Isya yang tadi terdengar kini telah lama berlalu.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia ingin berdoa dengan sungguh-sungguh.

Ia ingin salat.

Ia ingin memohon ampun.

Ia ingin kembali kepada Tuhan yang selama ini ia sisihkan demi kesibukan dunia.

Tetapi tubuhnya semakin dingin.

Napasnya semakin pendek.

Dan waktu yang selalu ia tunda ternyata tidak ikut menunggunya.

Di ruang yang sunyi itu, laptop masih menyala. Notifikasi pekerjaan terus berdatangan. Jadwal rapat minggu depan masih tersusun rapi.

Namun pemiliknya telah pergi.

Tidak ada satu pun target yang ikut mengantarnya.

Tidak ada satu pun angka di rekening yang mampu menambah satu detik umur yang tersisa.

Yang tertinggal hanyalah penyesalan yang datang terlambat.

Karena ternyata ajal tidak pernah berkata, “Nanti saja.”

Ia datang tepat pada waktunya, sementara manusia sering terlambat mempersiapkan dirinya untuk pulang.