Air Mata Kaum Pinggiran di Tengah Laju Pembangunan

oleh -285 Dilihat
oleh
img 20251014 wa0017 11zon
Foto Dede Farhan Aulawi. (Dok. Revolusi News)

Oleh : Dede Farhan Aulawi

Revolusinews.com – Pembangunan selalu hadir dengan wajah ganda. Di satu sisi menjanjikan kemajuan, di sisi lain menyisakan kesenjangan. Di tengah gegap gempita proyek infrastruktur, gedung pencakar langit, dan jargon “pertumbuhan ekonomi berkelanjutan”, masih ada air mata yang jatuh dari wajah-wajah kaum pinggiran, yaitu mereka yang tersisih, terpinggirkan, dan sering kali tak terdengar suaranya dalam orkestra kemajuan.

Pembangunan sejatinya dirancang untuk menyejahterakan seluruh lapisan masyarakat. Namun dalam praktiknya, logika pembangunan kerap lebih berpihak pada modal ketimbang moral, pada angka pertumbuhan daripada kesejahteraan manusia. Kawasan kumuh digusur atas nama tata kota, petani kehilangan lahan karena proyek strategis, nelayan kehilangan ruang hidup akibat reklamasi, dan pekerja informal dipaksa bersaing dalam ekonomi digital yang belum siap memberi perlindungan sosial.

Ironinya, mereka yang paling terdampak justru jarang dilibatkan dalam proses perencanaan pembangunan. Suara kaum pinggiran dianggap bising, bukan penting. Padahal, di sanalah letak nalar kritis yang sesungguhnya agar bisa memahami bahwa pembangunan tanpa keadilan sosial hanyalah modernisasi semu. Kemajuan material tidak akan bermakna jika dibangun di atas penderitaan rakyat kecil.

Kita perlu meninjau ulang paradigma pembangunan yang selama ini bersifat top-down. Pembangunan seharusnya dimaknai bukan sekadar proyek fisik, melainkan proses memanusiakan manusia. Kaum pinggiran bukan beban kemajuan, melainkan bagian penting dari fondasi sosial bangsa. Ketika mereka dilibatkan, didengar, dan diberdayakan, maka pembangunan akan memiliki jiwa—bukan hanya bentuk.

Air mata kaum pinggiran adalah cermin nurani bangsa. Ia mengingatkan bahwa kemajuan sejati bukan diukur dari tinggi gedung atau panjang jalan tol, melainkan dari sejauh mana negara mampu menegakkan keadilan bagi semua warganya. Pembangunan yang berkeadilan adalah pembangunan yang tidak meninggalkan siapa pun di belakang.

Dengan demikian, tugas kita sebagai masyarakat kritis bukan hanya mengagumi hasil pembangunan, tetapi juga berani mempertanyakan, ” untuk siapa semua ini dibangun?”. Karena di tengah derasnya laju modernisasi, suara dari pinggiran harus tetap menggema agar arah pembangunan tidak kehilangan kemanusiaannya.

No More Posts Available.

No more pages to load.