Bukan Sebuah Pilihan

oleh -8 Dilihat
oleh
img 20260715 wa0000

Oleh : Dede Farhan Aulawi

Revolusinews.com – Hujan turun perlahan di sore itu ketika Arga baru pulang bekerja. Seragamnya masih basah oleh keringat, sementara wajahnya dipenuhi lelah yang tak sempat ia ceritakan kepada siapa pun.

Begitu membuka pintu rumah, ia langsung disambut suara isterinya, Nisa.

“Aku capek hidup begini! Sekarang jawab aku… pilih aku atau ibumu!”

Kalimat itu membuat langkah Arga terhenti.

Ia memandang wajah wanita yang dulu ia nikahi dengan penuh cinta. Bibirnya bergetar, tetapi tak ada satu kata pun yang keluar.

“Aku menunggu jawabanmu!”

Arga menundukkan kepala.

“Nisa… jangan pernah memintaku memilih.”

“Kenapa? Sulit sekali?”

“Ibu bukan pilihanku. Beliau adalah alasan aku bisa hidup sampai hari ini.”

“Lalu aku?”

“Kamu juga bukan pilihan. Kamu adalah perempuan yang kupilih sekali untuk seumur hidup.”

Air mata Arga mulai jatuh.

“Bagaimana mungkin aku memilih satu napas dan membuang napas yang lain? Aku mencintai ibu sebagai anak, dan mencintaimu sebagai suami. Dua cinta itu berbeda, tapi sama berharganya.”

Sayangnya…

Jawaban yang begitu tulus justru dianggap sebagai penolakan.

Sejak hari itu, rumah yang dulu hangat berubah menjadi dingin. Hampir setiap malam hanya ada pertengkaran.

Arga memilih diam.

Ia tidak pernah membentak.

Tidak pernah mengangkat tangan.

Tidak pernah membalas kata-kata kasar dengan kemarahan.

Teman-temannya sering bertanya.

“Kenapa kamu sabar sekali?”

Arga hanya tersenyum.

“Kalau aku ikut marah, rumah ini akan kehilangan satu-satunya orang yang masih mencoba tetap tenang.”

Waktu terus berjalan.

Harga kebutuhan pokok semakin mahal.

Gaji Arga sebagai pegawai biasa tak lagi cukup.

Pagi hingga malam ia bekerja.

Kadang menjadi kurir setelah pulang kantor.

Kadang mengangkut barang di pasar saat akhir pekan.

Tangannya mulai kasar.

Punggungnya sering nyeri.

Tetapi setiap menerima upah, ia selalu pulang sambil tersenyum.

“Maaf ya, Sayang. Bulan ini cuma bisa beli ini.”

Nisa hanya memandang sekilas kantong belanja yang dibawanya.

“Segini? Kamu memang tidak pernah bisa membuatku bahagia.”

Kalimat itu lebih tajam daripada luka di telapak tangan Arga.

Namun ia tetap tersenyum.

“Maaf…”

Ia selalu meminta maaf atas kekurangan yang bukan sepenuhnya kesalahannya.

Tanpa sepengetahuan Arga…

Nisa mulai dekat dengan pria lain.

Pria yang datang dengan mobil mewah.

Yang selalu membawakan hadiah.

Yang tak pernah kekurangan uang.

Setiap kali Arga lembur demi menambah penghasilan, Nisa justru menghabiskan waktu bersama lelaki itu.

Arga tidak tahu.

Ia terlalu sibuk memperjuangkan keluarganya.

Suatu malam…

Arga pulang membawa sekotak kue kecil.

“Hari ini ulang tahun pernikahan kita.”

Ia tersenyum.

“Maaf cuma mampu beli yang kecil.”

Rumah begitu sunyi.

Di atas meja terdapat map berwarna cokelat.

Di dalamnya ada surat gugatan cerai.

Dan sebuah tulisan pendek.

“Aku sudah tidak mencintaimu lagi. Aku menemukan seseorang yang bisa memberiku kehidupan yang lebih baik. Tolong tanda tangani surat ini.”

Kotak kue itu jatuh ke lantai.

Krim putih bercampur debu.

Seperti mimpi Arga yang hancur seketika.

Tangannya gemetar.

Matanya menatap kosong tulisan itu berulang-ulang, seolah berharap huruf-hurufnya berubah menjadi kebohongan.

Namun tidak.

Semuanya nyata.

Beberapa hari kemudian mereka bertemu di pengadilan.

Arga melihat pria yang berdiri di samping isterinya.

Pria itu menggenggam tangan wanita yang selama ini ia jaga dengan sepenuh hati.

Hakim bertanya pelan.

“Apakah Saudara bersedia bercerai?”

Arga menarik napas panjang.

Ia memandang Nisa untuk terakhir kalinya.

Lalu berkata lirih,

“Aku tidak pernah berhenti mencintaimu.”

Nisa terdiam.

“Tapi cinta tidak bisa dipaksakan. Kalau kepergianku membuatmu bahagia… aku rela.”

Ia menandatangani surat itu.

Tangannya bergetar.

Bukan karena tinta.

Tetapi karena ia sedang mengubur seluruh impian yang dibangunnya selama bertahun-tahun.

Malam itu…

Arga pulang ke rumah ibunya.

Perempuan tua itu membuka pintu.

Tanpa bertanya apa pun, ia langsung memeluk anaknya.

Barulah untuk pertama kalinya…

Laki-laki yang selalu tampak kuat itu menangis sejadi-jadinya.

“Bu…”

“Iya, Nak…”

“Kenapa orang yang paling aku jaga justru memilih meninggalkanku?”

Ibunya mengusap kepala Arga seperti saat ia masih kecil.

“Anakku… orang baik sering terluka bukan karena mereka lemah.”

“Lalu kenapa?”

“Karena mereka memilih tetap baik, meski dunia tidak selalu membalas dengan kebaikan.”

Tangis Arga semakin pecah.

Beberapa bulan kemudian, Arga mendengar kabar bahwa pria yang dipilih mantan isterinya ternyata hanya memanfaatkan hartanya sendiri. Ketika usahanya bangkrut, lelaki itu pergi begitu saja, meninggalkan Nisa sendirian.

Suatu sore, Nisa datang ke rumah ibunda Arga.

Matanya sembab.

Tangannya gemetar.

“Mas… maafkan aku. Aku ingin pulang.”

Arga memandangnya lama.

Tak ada kebencian di matanya.

Tak ada dendam.

Hanya ada luka yang sudah berubah menjadi bekas.

Dengan suara yang sangat lembut ia berkata,

“Aku sudah memaafkanmu sejak hari kamu pergi.”

Wajah Nisa sedikit berbinar.

“Kalau begitu… bolehkah aku kembali?”

Arga menggeleng perlahan.

“Maaf.”

“Kenapa?”

“Karena memaafkan tidak selalu berarti mengulang kisah yang sama.”

Air mata Nisa jatuh tanpa mampu ditahan.

Arga menatap langit yang mulai gelap.

Ia akhirnya mengerti bahwa kesetiaan memang tidak selalu berakhir dengan kebersamaan.

Kadang, kesetiaan hanya meninggalkan seseorang yang tetap tulus… meski hatinya telah berkeping-keping.

Sebab pengkhianatan yang paling menyakitkan bukanlah ketika seseorang pergi.

Melainkan ketika orang yang selama ini diperjuangkan dengan seluruh pengorbanan memilih meninggalkan kesetiaan demi sesuatu yang tampak lebih indah, lalu baru menyadari nilainya ketika semuanya telah terlambat.