Sesal yang Tak Berguna

oleh -8 Dilihat
oleh
img 20260715 wa0001


Oleh : Dede Farhan Aulawi

Revolusinews.com – Sore itu rumah megah milik keluarga Pratama kembali sunyi. Ayah baru pulang dari perjalanan dinas. Ibunya masih sibuk menjawab panggilan rapat dari ruang kerja. Di ruang tamu, hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak pelan.

“Besok kita ajak Arga jalan, ya,” kata sang ibu sambil menutup laptopnya. “Sudah lama sekali kita tidak pergi bertiga.”

Ayah tersenyum. “Iya. Sekarang dia sudah kuliah. Mungkin kita bisa memperbaiki hubungan.”

Mereka mengetuk pintu kamar Arga.

“Ga, besok ikut Ayah sama Ibu makan di luar, yuk.”

Dari balik pintu terdengar suara datar.

“Maaf, Yah… Bu… aku sibuk.”

Ayah terdiam.

“Kalau akhir pekan?”

“Ada tugas.”

“Minggu depan?”

“Ada kegiatan kampus.”

Begitulah setiap kali mereka mengajak. Selalu ditolak.

Mereka heran.

Padahal dulu mereka bekerja keras demi masa depan anak semata wayang itu.

Mereka lupa…

bahwa masa depan tidak hanya membutuhkan uang, tetapi juga kehadiran.

Sejak lahir, Arga lebih banyak berada di pelukan Mbok Sari, pembantu yang telah bekerja di rumah itu selama puluhan tahun.

Saat Arga demam, Mbok Sari yang begadang semalaman.

Saat Arga belajar berjalan, tangan Mbok Sari yang menggandengnya.

Saat Arga menangis karena dibully, Mbok Sari yang memeluk sambil berkata,

“Anak hebat tidak membalas dengan kebencian.”

Saat ulang tahun, Ayah sering berada di luar negeri.

Ibu sering menghadiri seminar atau rapat.

Yang meniup lilin bersama Arga hanyalah Mbok Sari.

Bahkan ketika wisuda SMA…

yang diam-diam menangis paling keras adalah Mbok Sari.

Karena dialah yang menyaksikan setiap langkah anak itu tumbuh.

Suatu pagi, Mbok Sari tiba-tiba pingsan di dapur.

Dokter mengatakan ginjalnya mengalami kerusakan berat.

Sejak hari itu, Arga berhenti mengikuti banyak kegiatan kampus.

Ia mengantar Mbok Sari ke rumah sakit.

Mengurus administrasi.

Menunggu hasil laboratorium.

Menyuapi makan.

Membersihkan tubuhnya.

Menemani cuci darah.

Semua tabungan hasil beasiswa dan kerja sambilan habis sedikit demi sedikit.

Ayah berkata,

“Biaya rumah sakit biar Ayah tanggung.”

Namun Arga menggeleng.

“Biar aku saja.”

“Kenapa?”

“Karena selama ini… beliau yang membesarkanku.”

Jawaban itu membuat Ayah tercekat.

Berbulan-bulan Arga berjuang.

Namun takdir berkata lain.

Suatu malam Mbok Sari menggenggam tangan Arga dengan lemah.

“Nak…”

“Iya, Mbok.”

“Kalau Mbok pergi… jangan sendirian terus ya…”

Arga menangis seperti anak kecil.

“Mbok jangan tinggalin Arga…”

Mbok Sari hanya tersenyum.

“Lahir memang dari ibumu… tapi Mbok bersyukur Allah izinkan Mbok menemani kamu sampai sebesar ini.”

Tak lama kemudian…

monitor di samping ranjang mengeluarkan bunyi panjang.

Tubuh tua itu tak lagi bernapas.

Arga menjerit.

Tangisnya memenuhi lorong rumah sakit.

Ia memandikan jenazah.

Menyalatkannya.

Mengantar ambulans hingga ke kampung halaman Mbok Sari.

Ia ikut menggali liang lahat.

Tangannya penuh tanah ketika menimbun makam perempuan yang selama ini ia panggil “Mbok”.

Sebelum pulang ia berlutut di depan pusara.

“Terima kasih sudah menjadi ibu ketika aku kehilangan waktu dari ibu kandungku…”

Sepulang dari pemakaman, hidup Arga berubah.

Rumah sebesar itu terasa kosong.

Tak ada lagi suara,

“Nak, makan dulu.”

Tak ada lagi yang menunggu kepulangannya.

Tak ada lagi yang mengingatkan salat.

Tak ada lagi pelukan hangat.

Ia mulai sulit tidur.

Sering menangis sendirian.

Lalu perlahan mencari pelarian.

Awalnya hanya obat penenang.

Kemudian semakin jauh.

Tak ada yang benar-benar menyadari luka yang dipikulnya.

Ayah sibuk.

Ibu sibuk.

Mereka mengira waktu akan menyembuhkan semuanya.

Padahal…

kesepian yang terlalu lama bisa menjadi jurang.

Suatu malam telepon rumah berbunyi.

Suara polisi terdengar lirih.

“Apakah benar ini keluarga Arga Pratama?”

“Iya…”

“Kami turut berduka. Putra Bapak ditemukan meninggal akibat overdosis.”

Dunia seolah berhenti berputar.

Ibu jatuh terduduk.

Ayah mematung.

Tangisan yang selama ini tak pernah keluar…

pecah malam itu.

Tetapi semuanya sudah terlambat.

Beberapa minggu setelah pemakaman, sang ibu membereskan kamar Arga.

Di dalam laci meja belajar, ia menemukan sebuah amplop bertuliskan:

“Untuk Ayah dan Ibu.”

Dengan tangan gemetar ia membukanya.

Di dalamnya hanya ada beberapa lembar kertas.

Ayah… Ibu…

Terima kasih sudah memberiku rumah yang indah, sekolah terbaik, pakaian bagus, dan semua yang aku butuhkan.

Tapi maaf…

Aku tidak pernah benar-benar punya Ayah dan Ibu.

Kalian terlalu sibuk mengejar masa depanku, sampai lupa hadir di masa kecilku.

Saat teman-temanku dipeluk orang tuanya, aku dipeluk Mbok Sari.

Saat aku sakit, Mbok Sari yang berjaga semalaman.

Saat aku menangis, beliau yang mengusap air mataku.

Aku bahkan lebih hafal aroma bajunya daripada pelukan Ayah dan Ibu.

Jangan salah paham jika aku selalu menolak diajak jalan.

Aku tidak membenci kalian.

Aku hanya tidak tahu bagaimana rasanya menjadi anak kalian.

Rasanya seperti kalian hanya datang ketika hidupku sudah berjalan sendiri.

Kalian memang melahirkanku…

tetapi rasanya hanya numpang lewat dalam hidupku.

Ibu yang benar-benar selalu ada adalah Mbok Sari.

Dan ketika beliau pergi…

sebenarnya separuh hidupku ikut dikuburkan bersamanya.

Jika suatu hari aku juga menyusulnya,

jangan salahkan siapa pun.

Aku hanya terlalu lama hidup tanpa tempat pulang.

Surat itu jatuh dari tangan sang ibu.

Ia meraung memeluk baju peninggalan Arga yang masih tergantung di lemari.

Ayah terduduk di lantai sambil memukul dadanya sendiri.

“Aku mengejar semua hal… kecuali waktu bersama anakku…”

Rumah besar itu tetap berdiri megah.

Mobil-mobil mewah masih memenuhi garasi.

Rekening mereka tetap berisi.

Namun tidak ada satu pun harta yang mampu membeli kembali masa kecil Arga.

Tidak ada yang mampu mengembalikan Mbok Sari.

Dan…

tidak ada yang mampu menghidupkan kembali anak yang selama hidupnya hanya ingin memiliki satu hal sederhana:

Ayah dan ibu yang benar-benar hadir, bukan sekadar ada.