Dede Farhan Aulawi Jelaskan Perkembangan Geopolitik Dunia di Ponpes Durrotul Hayat

oleh -243 Dilihat
oleh
img 20260417 wa0039

TASIKMALAYA, Revolusinews.com – Perkembangan geopolitik dunia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan dinamika yang semakin kompleks. Persaingan antarnegara besar, konflik kawasan, krisis energi, ancaman siber, hingga perebutan pengaruh ekonomi global telah membentuk konstelasi baru dalam hubungan internasional. Dunia saat ini tidak lagi berada dalam tatanan unipolar, melainkan bergerak menuju sistem multipolar, di mana sejumlah kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, dan kekuatan regional lainnya saling memperebutkan pengaruh di berbagai kawasan. Dalam konteks tersebut, Indonesia sebagai negara berkembang dengan posisi strategis di kawasan Indo-Pasifik tidak dapat melepaskan diri dari dampak ketegangan geopolitik global.

Hal tersebut disampaikan Pemerhati Pertahanan dan Keamanan Dede Farhan Aulawi dalam silaturahmi di Pondok Pesantren Durrotul Hayat Kota Tasikmalaya, Rabu (15/4/2026).

Menurutnya, salah satu faktor utama ketegangan geopolitik dunia adalah rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Persaingan keduanya tidak hanya terjadi dalam bidang ekonomi dan perdagangan, tetapi juga meluas ke teknologi, militer, serta pengaruh politik di kawasan Asia Pasifik. Laut China Selatan menjadi salah satu titik panas yang secara langsung bersinggungan dengan kepentingan Indonesia. Meskipun Indonesia bukan pihak yang terlibat dalam sengketa teritorial utama, stabilitas kawasan tersebut sangat mempengaruhi keamanan maritim, jalur perdagangan, dan kedaulatan nasional Indonesia, khususnya di wilayah Natuna.

Pada kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan terkait  konflik antara Rusia dan Ukraina yang mengubah peta keamanan global. Konflik tersebut tidak hanya memicu ketidakstabilan politik di Eropa, tetapi juga berdampak pada rantai pasok global, harga pangan, energi, dan inflasi di banyak negara. Indonesia sebagai negara yang masih bergantung pada impor beberapa komoditas strategis merasakan dampak langsung berupa kenaikan harga bahan bakar, pupuk, serta bahan pangan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa konflik di kawasan yang jauh sekalipun dapat memberikan konsekuensi nyata terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Selanjutnya ia menguraikan ketegangan di Timur Tengah juga turut menjadi faktor penting dalam konstelasi geopolitik global. Konflik berkepanjangan di kawasan tersebut berpotensi mengganggu pasokan energi dunia karena sebagian besar jalur distribusi minyak melewati wilayah strategis seperti Selat Hormuz. Indonesia yang masih memiliki ketergantungan terhadap impor energi akan menghadapi tekanan ekonomi jika terjadi lonjakan harga minyak dunia. Selain itu, ketidakstabilan kawasan Timur Tengah juga dapat mempengaruhi kondisi sosial-politik domestik mengingat adanya kedekatan emosional sebagian masyarakat Indonesia terhadap isu-isu di kawasan tersebut.

Kemudian ia menambahkan tetkait implikasi geopolitik global bagi Indonesia yang tidak hanya menyentuh aspek ekonomi dan keamanan, tetapi juga kebijakan luar negeri. Indonesia dituntut untuk semakin cermat menjaga prinsip politik luar negeri bebas aktif agar tidak terjebak dalam rivalitas kekuatan besar. Dalam situasi dunia yang penuh ketegangan, Indonesia harus mampu menjaga keseimbangan diplomatik dengan semua pihak, memperkuat posisi ASEAN sebagai kawasan damai, serta meningkatkan peran sebagai mediator dalam penyelesaian konflik internasional. Sikap netral yang konstruktif menjadi modal penting bagi Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan nasional sekaligus memperluas pengaruh diplomasi regional.

Selain itu, ketegangan geopolitik global mendorong Indonesia untuk memperkuat ketahanan nasional. Ketahanan pangan, energi, pertahanan siber, dan industri strategis harus menjadi prioritas agar Indonesia tidak mudah terpengaruh oleh gejolak eksternal. Dunia yang semakin tidak pasti menuntut setiap negara membangun kemandirian nasional. Dalam konteks ini, pembangunan ekonomi yang inklusif dan penguatan kapasitas pertahanan menjadi kebutuhan strategis yang tidak dapat ditunda.

“Dengan demikian, konstelasi ketegangan geopolitik dunia membawa implikasi yang signifikan bagi Indonesia. Sebagai negara dengan posisi strategis dan peran penting di kawasan, Indonesia harus mampu membaca perubahan global secara cermat, memperkuat ketahanan nasional, serta menjalankan diplomasi yang adaptif. Di tengah dunia yang semakin penuh persaingan, kemampuan Indonesia menjaga stabilitas internal sekaligus memperkuat posisi eksternal akan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan geopolitik masa depan,” tutupnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.