BANDUNG, Revolusinews.com – Dede Farhan Aulawi memberikan pemaparan tentang Military Human Factorsndan Military Safety Management System sebagai salah satu upaya untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya human error di lingkungan militer baik saat mengikuti pendidikan ataupun saat melaksanakan tugas – tugas operasi.
“Ada banyak standar internasional yang bisa dijadikan referensi subjek tersebut guna mewujudkan Korps Armed yang Profesional, Responsif, Integratif, Modern dan Adaptif (PRIMA) melalui peningkatan kemampuan alutsista berbasis teknologi, penggelaran satuan armed yang berpedoman pada strategi pertahanan negara serta penguatan kualitas sumber daya manusia,” ungkap Dede saat memberikan pemaparan kedua materi tersebut di Pussenarmed, Cimahi, Bandung, Jawa Barat yang dikutip pada Senin (8/1/2024).
Perlu diketahui, bahwa Pusat Kesenjataan Artileri Medan (Pussenarmed) adalah Badan pelaksana pusat TNI Angkatan Darat yang berkedudukan langsung di bawah Kasad di bidang pembinaan kesenjataan, pendidikan, latihan, penelitian, dan pengembangan bidang Artileri Medan (Armed).
Armed merupakan satuan bantuan tempur (banpur) di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat yang menggunakan meriam sebagai bantuan tembakan jarak jauh dan perusakan wilayah musuh secara luas. Guna memperoleh kader-kader Artileri dengan kesenjataan yang modern dan lebih maju maka diperlukan adanya suatu pendidikan Artileri.
“Seiring dengan lompatan perkembangan teknologi prajurit Armed harus terus berinovasi untuk kuatkan kesenjataan Armed. Terlebih Pussenarmed sudah ciptakan WLR (Weapon Locating radar) dan PTTA (pesawat terbang tanpa awak) yang dilengkapi sistem LRF untuk laksanakan Artillery Strike Power. Kemudian dilengkapi dengan pembekalan Military Safety Management System guna menekan kemungkinan terjadinya incident / accident di medan pertempuran,” tutupnya.












