Dede Farhan Aulawi Sampaikan Reaktualisasi Resolusi Jihad dalam Bentuk Santri Berprestasi

oleh -291 Dilihat
oleh
img 20251117 wa0003 11zon

BANDUNG, Revolusinews.com – Resolusi Jihad yang dikumandangkan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 merupakan momentum historis yang menegaskan peran ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Semangat keberanian, tanggung jawab kebangsaan, dan komitmen moral yang terkandung di dalamnya tidak hanya relevan bagi perjuangan fisik di masa lalu, tetapi juga penting untuk diaktualisasikan dalam konteks kekinian. Pada era digital dan globalisasi saat ini, tantangan bangsa tidak lagi hanya berbentuk ancaman militer, melainkan persaingan kualitas sumber daya manusia, kemajuan teknologi, serta degradasi moral. Dalam konteks tersebut, reaktualisasi Resolusi Jihad dapat diwujudkan melalui lahirnya santri berprestasi sebagai generasi yang unggul dalam ilmu agama, ilmu pengetahuan modern, dan karakter kebangsaan.

Hal tersebut disampaikan Motivator Dede Farhan Aulawi di Bandung, Minggu (16/11/2025) setelah sebelumnya menyampaikan program motivasi santri berprestasi di pondok pesantren I’anatul Mubtadiin Desa Dukuh Kabupaten Indramayu.

“Esensi Resolusi Jihad adalah kewajiban moral untuk menjaga, membela, dan memajukan tanah air. Pada masa kini, bentuk jihad tidak lagi identik dengan peperangan, tetapi lebih pada upaya konstruktif seperti jihad intelektual, jihad teknologi, jihad ekonomi, dan jihad sosial. Dengan demikian, pesan yang ingin ditegaskan adalah bahwa santri memiliki tanggung jawab besar untuk berkontribusi terhadap kemajuan bangsa melalui prestasi dan karya,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut ia juga menjelaskan bahwa pondok pesantren memiliki tradisi keilmuan yang kuat, terutama dalam kajian agama, etika, dan kebijaksanaan sosial. Reaktualisasi Resolusi Jihad bermakna memperluas tradisi tersebut dengan membekali santri kemampuan akademik yang relevan dengan tantangan zaman. Santri berprestasi adalah mereka yang menguasai kitab kuning, namun juga cakap dalam ilmu sains, teknologi, bahasa internasional, dan riset. Jihad intelektual terwujud ketika santri berani tampil unggul dalam bidang-bidang tersebut sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dan negara.

Selanjutnya Dede juga mengatakan bahwa Resolusi Jihad menanamkan nilai cinta tanah air yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Di era polarisasi informasi dan radikalisme digital, santri berprestasi perlu dibekali kemampuan literasi media, sikap moderat, dan pemahaman kebangsaan yang kuat. Mereka diharapkan menjadi agen perdamaian yang mampu meluruskan informasi menyesatkan, menguatkan kohesi sosial, dan menjaga prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin. Dengan karakter tersebut, santri bukan hanya unggul secara akademik tetapi juga dipercaya sebagai penjaga moral bangsa.

Kemudian Dede mengatakan bahwa kemajuan teknologi menuntut generasi muda, termasuk santri, untuk adaptif dan inovatif. Reaktualisasi Resolusi Jihad dapat diwujudkan melalui partisipasi santri dalam bidang teknologi informasi, robotika, ekonomi digital, dan kewirausahaan. Keterlibatan santri dalam kompetisi ilmiah, inovasi digital, dan dunia startup merupakan bukti konkret bahwa pesantren mampu berkontribusi dalam kemajuan nasional. Jihad modern adalah membebaskan bangsa dari ketertinggalan teknologi melalui kompetensi dan kreativitas.

“ Santri berprestasi tidak hanya unggul secara akademis tetapi juga memiliki kepedulian sosial. Pengabdian kepada masyarakat melalui dakwah, pemberdayaan ekonomi, pendidikan masyarakat, hingga kerja-kerja kemanusiaan merupakan implementasi nyata resolusi jihad dalam konteks sosial. Santri menjadi garda terdepan dalam menjaga harmoni, memperkuat keadaban publik, dan ikut memecahkan persoalan masyarakat “, imbuhnya.

Lebih lanjut Dede juga menyampaikan bahwa pesantren perlu terus mengembangkan kurikulum, fasilitas pembelajaran, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi dan industri. Reaktualisasi Resolusi Jihad membutuhkan lingkungan yang mampu menghasilkan santri kompetitif di tingkat nasional maupun global. Pesantren tidak hanya menjadi pusat pembinaan spiritual, tetapi juga inkubator inovasi, riset, dan pengembangan keterampilan masa depan.

“Reaktualisasi Resolusi Jihad dalam bentuk santri berprestasi merupakan langkah strategis untuk menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga warisan perjuangan ulama dan santri terdahulu. Semangat jihad yang dulu diwujudkan melalui perjuangan fisik, kini diwujudkan melalui prestasi, inovasi, dan kontribusi positif bagi bangsa. Santri berprestasi adalah manifestasi baru dari jihad kebangsaan, generasi yang berkarakter kuat, berilmu luas, dan siap mengabdikan diri bagi kemajuan Indonesia. Dengan demikian, pesantren kembali menjadi pusat lahirnya pejuang-pejuang pengetahuan yang mampu membawa bangsa menuju kejayaan peradaban,” tutupnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.