SERANG, Revolusinews.com – Puluhan warga menggeruduk salah satu penyalur resmi PT Pertamina yakni Pertashop 3P.42123 yang diduga menjual BBM jenis Pertamax oplosan yang beralamat di Kp Kubang Prapatan, Desa Labuan, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang, Banten.
Dugaan BBM oplosan ini diketahui setelah puluhan pengguna kendaraan roda 2 dan 4 mengalami perubahan gejala mesin tidak stabil, berasap dan mati setelah mengisi BBM Pertamax di Pertashop tersebut.

Pantauan awak media pada Kamis (26/3/2026), puluhan korban tampak mendatangi lokasi kejadian, selain itu pihak kepolisian yang diwakili oleh Kanit dari Polres Cilegon dan Kanit Reskrim Polsek Mancak sudah berada di tempat tersebut, namun sampai saat ini enggan memberikan komentar apapun.
Kepada media ini, (SH) salah satu korban menegaskan saat ini kendaraan yang baru dibeli satu bulan yang lalu kondisinya sudah mengalami perubahan tidak lazim (rusak) setelah mengisi BBM Pertamax pada Selasa lalu.
“Akibat peristiwa ini, saya sangat dirugikan, bukan hanya kerugian materil karena harus merogok kocek untuk memperbaiki kendaraan, kini kondisi kendaraan sudah tidak stabil lagi walaupun sudah diperbaiki, ironisnya pihak pengelola (Pertashop) akan mengganti rugi dengan jumlah harga BBM Pertamax yang waktu itu dibeli,” ujarnya.

Kekecewaan serupa juga dirasakan oleh (DN), kendaraan yang awalnya tidak ada kendala setelah mengisi BBM Pertamax di Pertashop itu, kini harus di bawa ke bengkel untuk di perbaiki
“Setelah isi Pertamax di situ motor tidak stabil mengeluarkan asap, ketika di gas seperti mau mogok, di bawa ke bengkel ternyata sudah ada sekitar 5 motor yang mengalami kerusakan yang sama akibat mengisi BBM Pertamax di tempat itu, dan setelah di kuras dan di ganti BBM di tempat lain, motor kembali normal,” ungkapnya
sementara itu Pengelola Pertashop berinisial EG secara terang-terangan melempar bola panas kepada PT Pertamina Patra Niaga. Ia mengklaim dirinya adalah korban yang dirugikan oleh pasokan dari depo wilayah Gerem, Cilegon. Ironisnya, meski diklaim telah melalui pengecekan kadar sebelum dituang, kenyataan di lapangan berbicara lain mesin kendaraan warga justru “batuk-batuk” hingga mogok total.
Siapa yang Bermain Api?
Pertanyaan besarnya: Jika benar pihak pengecek (checker) Pertamina sudah turun mengambil sampel, mengapa pengawasan preventif itu gagal total sejak awal? Apakah prosedur pengecekan hanya formalitas di atas kertas sementara kualitas BBM yang sampai ke tangki rakyat sudah “terkontaminasi”?
Masyarakat tidak butuh waktu tiga hari kerja untuk merasakan kerugian mereka merasakannya saat itu juga ketika kendaraan mereka rusak. Menunggu hasil uji lab selama tiga hari hanyalah cara klasik untuk mendinginkan suasana, sementara dapur warga terancam karena alat transportasi mereka lumpuh.
Kelalaian atau Kesengajaan?
masyarakat Mancak kini berada di titik nadir kepercayaan. Kejadian ini tidak boleh menguap begitu saja dengan dalih “kesalahan teknis”. Harus ada investigasi transparan: Apakah ada unsur kelalaian dalam distribusi, atau lebih jauh lagi, adakah unsur kesengajaan untuk meraup untung dengan mengorbankan kualitas?
Sementara itu Joko yang digadang gadang sebagai Ceker dari pihak pertamina, saat di konfirmasi memberikan penjelasan bahwa sedang dalam proses pendalaman investigasi pihaknya, dan segera akan di sampaikan kepada pihak desa dan masyarakat setelah hasilnya ada, tak hanya itu pihaknyapun sudah menerapkan kontribusi di lapangan.
“Untuk hasil masih masa pendalaman investigasi Tim kami pak,dan untuk waktu nya belum bisa dipastikan pak. jika sudah ada hasil akan segera disampaikan kepada perangkat desa dan aparatur desa setempat, sekaligus masyarakat sekitar. Dan semalam juga sudah kordinasi dengan Pak babin setempat,serta sudah kami terapkan dilapangan terkait kontribusi kami pak,” tutup Joko.











