CIAMIS, Revolusinews.com – Wacana ajakan dari Pemerintah Kota Banjar kepada wilayah Kawasen untuk bergabung menjadi bagian dari kota tersebut kini tengah menjadi sorotan publik. Undangan ini bergulir di tengah isu dugaan kesulitan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dihadapi Kota Banjar.
Namun, proposal yang disebut-sebut sebagai solusi bagi kedua belah pihak ini justru memicu perpecahan sikap di kalangan internal pejuang pemekaran Kawasen yang selama ini bercita-cita membentuk kabupaten mandiri.
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa ajakan penggabungan ini dilontarkan Kota Banjar sebagai salah satu strategi untuk mengatasi tantangan finansial daerah. Wilayah Kawasen, yang saat ini masih menjadi bagian dari Kabupaten Ciamis dipandang memiliki potensi yang dapat memperkuat struktur ekonomi Kota Banjar. Akan tetapi, niat ini mendapat respons yang sangat beragam dari tokoh-tokoh yang tergabung dalam Forum Perjuangan Pemekaran Kawasen.
Opsi Pragmatis vs Harga Diri Perjuangan
Berdasarkan keterangan yang diterima, setidaknya ada tiga pandangan berbeda yang berkembang di internal para pejuang. Pandangan pertama cenderung pragmatis dan melihat alternatif lain yang lebih menguntungkan daripada bergabung dengan Kota Banjar.
“Kalau menurut pribadi saya, daripada ikut ke Banjar, lebih baik ikut ke Kabupaten Pangandaran yang nanti ke depan bisa seperti Bali jika dikembangkan dengan baik. Atau tetap bertahan saja di Kabupaten Ciamis. Ripuh (sulit) jika ikut Banjar. Ini pendapat pribadi saya,” ujar salah satu tokoh pejuang.
Di sisi lain, faksi yang lebih keras menolak mentah-mentah wacana tersebut. Bagi mereka, bergabung dengan Banjar sama dengan mengkhianati perjuangan awal untuk membentuk Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Kawasen.
“Bagus, tapi akan sangat bagus jika kita stagnan pada rencana awal yaitu Kabupaten Kawasen mandiri sebagai wilayah pemerintahan baru,” tegas seorang anggota presidium.
Ia menambahkan bahwa wacana penggabungan adalah tanda kekalahan. “Kalo narasinya jadi penggabungan dengan Kota Banjar, itu artinya kita kalah dan keluar dari marwah perjuangan kita untuk Kawasen mandiri. Meskipun perjuangannya berat, karena semuanya berproses dan membutuhkan waktu, materi, tenaga, dan fikiran. Kita belum kalah dan kita tidak boleh kalah,” serunya.
Perlu Kajian Mendalam
Di tengah dua pandangan yang berseberangan itu, muncul suara penengah yang menyerukan agar tidak mengambil keputusan terburu-buru. Wacana ini dipandang telah keluar dari niat awal pembentukan presidium.
“Masalah gabung dan tidak harus dikaji lebih mendalam karena itu telah keluar dari niat awal bagaimana presidium terbentuk,” kata seorang tokoh lainnya.
Ia menegaskan bahwa keputusan tidak bisa diambil secara sepihak dan memerlukan konsolidasi internal. “Poinnya bisa iya, bisa tidak. Jadi intinya nanti kita agendakan pertemuan internal untuk mengkajinya dan menentukan sikap,” tutupnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan sikap resmi dari Forum Kawasen. Wacana ini menempatkan para pejuang pemekaran di persimpangan jalan: antara tetap mengejar mimpi DOB Kabupaten Kawasen yang penuh tantangan atau mengambil jalur pragmatis bergabung dengan Kota Banjar.












