JAKARTA, Revolusinews.com – Ketua Komisi Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Profesi Dewan Pers Tri Agung Kristanto menjadi narasumber di hadapan peserta Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Kantor Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih 34-36 Jakarta Pusat pada Jum’at (09/05/2025)
Tri Agung mengatakan bahwa Perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan semakin pesat dan mulai menyentuh berbagai sektor, termasuk dunia jurnalistik. Isu ini menjadi salah satu poin yang dibahas khususnya soal apakah AI menjadi peluang atau justru ancaman bagi masa depan media pers
Lebih lanjut diungkapkan, bahwa bagaimana AI saat ini mampu membantu pekerjaan jurnalistik. Bahkan, AI juga mampu menulis berita secara mandiri. Hal itu menciptakan tekanan tersendiri bagi jurnalis yang tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi tersebut.
“Regulasi sudah dibuat, kalau wartawan tidak mengembangkan dirinya, tidak turun ke lapangan, media pers tidak memiliki tenaga ahli IT, selesai sudah. Akan kalah dengan AI,” kata Tri Agung yang merupakan wakil Indonesia pada World Press Freedom Day 2025 yang diselenggarakan oleh UNESCO di Brussel.
Tri Agung menambahkan, kekhawatiran tetap ada, salah satunya adalah fitur AI Overview yang sedang diuji coba oleh Google. Kalau fitur ini benar-benar diterapkan di Indonesia, media berbasis page views akan terpukul keras dan bisa kehilangan 60% bahkan 80% pendapatan dari iklan.
Dalam forum itu disimpulkan bahwa AI bisa menjadi media kolaboratif yang memperkuat media, bukan menggantikan.
“Kuncinya, wartawan harus adaptif dan fokus pada hal-hal yang tidak bisa digantikan mesin. AI bukan akhir dari media pers, tapi ujian dan peluang untuk bangkit dan berinovasi,” kata Tri Agung menutup pembicaraan.








