Oleh : Dede Farhan Aulawi
Revolusinews.com – Ada satu kepastian yang menyatukan seluruh manusia, tanpa memandang jabatan, kekayaan, kekuasaan, ataupun ketenaran: kematian. Sejak manusia pertama menginjakkan kaki di bumi hingga hari ini, tidak seorang pun mampu menawar datangnya ajal. Ia hadir tanpa dapat disuap, ditunda, atau dinegosiasikan. Ketika saat itu tiba, seluruh kemegahan dunia mendadak kehilangan maknanya.
Selama hidup, manusia sering terjebak dalam perlombaan yang seolah tidak berujung. Ada yang menghabiskan seluruh tenaga mengejar harta, mengumpulkan aset, membangun kerajaan bisnis, atau memperebutkan kekuasaan. Ada pula yang rela mengorbankan kejujuran demi keuntungan sesaat, bahkan menginjak hak orang lain demi mempertahankan kedudukan. Dunia tampak begitu penting, seakan-akan kehidupan akan berlangsung selamanya.
Namun ketika ajal datang, seluruh perhitungan itu berhenti dalam sekejap. Rumah megah tidak lagi menjadi tempat berlindung. Kendaraan mewah tidak lagi dapat membawa seseorang ke mana pun. Rekening yang penuh angka tidak lagi bisa membeli satu tarikan napas tambahan. Jabatan yang dahulu membuat banyak orang menunduk hormat berubah menjadi sekadar catatan sejarah. Semua yang pernah dibanggakan ditinggalkan, sementara manusia hanya membawa amal perbuatannya.
Kematian adalah penyeimbang terbesar dalam kehidupan. Ia mengingatkan bahwa manusia hanyalah pengelola sementara atas apa yang dimilikinya, bukan pemilik yang sesungguhnya. Kekayaan hanyalah titipan, kekuasaan hanyalah amanah, dan usia hanyalah kesempatan yang terus berkurang setiap detiknya. Sayangnya, kesadaran ini sering kali datang terlambat, ketika waktu untuk memperbaiki diri telah habis.
Di hadapan ajal, tidak ada lagi perbedaan antara orang kaya dan orang miskin. Keduanya akan dibungkus kain yang sederhana dan kembali ke tanah yang sama. Yang membedakan bukanlah panjangnya daftar harta, melainkan jejak kebaikan yang ditinggalkan. Nama seseorang mungkin dikenang karena kemewahannya, tetapi yang benar-benar hidup dalam ingatan manusia adalah manfaat yang pernah ia berikan kepada sesamanya.
Kesadaran akan kematian bukanlah ajakan untuk membenci dunia. Dunia tetaplah tempat manusia berkarya, membangun keluarga, mencari rezeki, menegakkan keadilan, dan menciptakan kemaslahatan. Yang perlu dihindari adalah menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, hingga melupakan bahwa kehidupan ini memiliki batas yang pasti. Dunia semestinya menjadi ladang untuk menanam kebajikan, bukan tempat memperturutkan keserakahan tanpa henti.
Mereka yang selalu mengingat datangnya ajal biasanya lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Mereka sadar bahwa setiap ucapan, setiap tindakan, dan setiap amanah akan dipertanggungjawabkan. Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati, kejujuran, kepedulian, dan keberanian untuk menolak kezaliman, karena mereka memahami bahwa penilaian manusia bersifat sementara, sedangkan pertanggungjawaban di hadapan Tuhan bersifat abadi.
Pada akhirnya, ajal adalah guru kehidupan yang paling jujur. Ia mengajarkan bahwa segala sesuatu yang dikejar manusia akan berakhir, kecuali kebaikan yang telah ditanamkan. Ketika ajal datang, dunia benar-benar tak lagi bermakna apa-apa. Yang tersisa hanyalah amal, doa, dan warisan kebajikan yang terus mengalir kepada mereka yang masih hidup.
Karena itu, ukuran keberhasilan hidup bukanlah seberapa banyak yang berhasil dimiliki, melainkan seberapa besar manfaat yang berhasil diwariskan. Sebab ketika lembar kehidupan ditutup, manusia tidak lagi ditanya berapa banyak yang ia kumpulkan, tetapi bagaimana ia menggunakan seluruh nikmat yang pernah dipercayakan kepadanya. Di situlah dunia kehilangan seluruh kemegahannya, dan keabadian mulai memperlihatkan maknanya yang sesungguhnya.






