King Naga Siap Tempuh Jalur Hukum, Dugaan Tambang Ilegal Rusak Hutan Karangbokor

oleh -370 Dilihat
img 20250615 wa0124

LEBAK,Revolusinews.com – Isu kerusakan hutan lindung Karangbokor yang terletak di wilayah adat Baduy kembali mencuat dan menuai kecaman. Tokoh adat King Naga dengan tegas menyatakan sikapnya akan membawa persoalan ini ke Mabes Polri, menyusul dugaan kuat adanya aktivitas tambang ilegal yang merusak kawasan hutan sakral tersebut.

Pada Minggu, 15 Juni 2025, King Naga mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi hutan yang menurutnya mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Ia menyoroti jejak kendaraan berat yang ditemukan masuk ke dalam kawasan lindung. Hal itu dianggap sebagai bentuk pelanggaran serius terhadap kelestarian alam dan budaya masyarakat Baduy.

Ia juga mengkritik pernyataan sejumlah tokoh yang menyangkal keberadaan tambang di area Karangbokor dan Saketeng. Bagi King Naga, bantahan tersebut hanyalah bentuk pengalihan isu yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Ia menyebut bahwa kerusakan hutan telah disampaikan langsung kepada Bupati dalam momen Seba Baduy 2025, dan bukti-bukti sudah mulai terkuak.

img 20250615 wa0123

Tak hanya itu, King juga mencurigai adanya oknum dari pihak Perhutani Bayah yang terlibat dalam membiarkan atau bahkan melindungi aktivitas ilegal tersebut. Ia berkomitmen akan memimpin warga untuk meninjau lokasi secara langsung dan jika ditemukan bukti pelanggaran, ia akan menempuh jalur hukum agar para pelaku mendapat hukuman setimpal.

Sementara itu, pihak Perhutani dan beberapa tokoh masyarakat setempat membantah keras tudingan yang dilontarkan. Mereka menegaskan tidak ada kegiatan penambangan di kawasan hutan Karangbokor maupun Saketeng. Menurut mereka, tambang yang dimaksud berada di blok Cisujen, yang posisinya berada di luar kawasan hutan lindung dan bersinggungan langsung dengan tanah milik warga.

Meski demikian, perbedaan pandangan tersebut semakin mengundang perhatian publik. Desakan agar aparat penegak hukum dan pemerintah daerah segera turun ke lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya terus bergema. Masyarakat adat berharap kawasan hutan yang selama ini menjadi bagian penting dari identitas dan kehidupan mereka tetap terjaga dari ancaman eksploitasi.

Reporter: Didin.M(Leber)