CILACAP, Revolusinews.com – Konsultan Manajemen Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy meninjau proyek pembangunan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air (P3-TGAI) di Desa Bulaksari, Kecamatan Bantarsari, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah pada Selasa (8/10/2024).
Tinjauan tersebut dalam rangka monitoring guna memastikan berbagai issu yang berkembang berkaitan dengan sistem pelaksanaan pekerjaan yang diduga kurang efektif.
Pemerintah melalui Kementrian PUPR, Direktorat Jenderal (Dirjen) Sumber Daya Air (SDA) Citanduy menggelontorkan dana guna pembangunan sarana untuk memenuhi kebutuhan air bagi petani.
Dana senilai Rp 195.000.000 (Seratus sembilan puluh lima juta rupiah) sumber APBN Tahun Anggaran (TA) 2024 tersebut diberikan kepada kelompok P3A Pancuran Sari Desa Bulaksari untuk dikelola guna pembangunan sarana pertanian.

P3A Pancuran Sari merupakan salah satu dari sekian banyak P3A di beberapa Desa khususnya wilayah barat yang mendapat kucuran dana guna kegiatan sama.
Dalam kunjungan yang dilakukan, Konsultan Manajemen BBWS Citanduy menyampaikan terkait sistem yang selama ini diragukan di tengah masyarakat, sistem tersebut yakni pemasangan batu pondasi dengan metode penggunaan papan bigisting.
Dikonfirmasi di lokasi proyek, Tatang Ahmad selaku Konsultan BBWS menjelaskan, bahwa secara umum pasangan pondasi batu kali dikerjakan dengan cara sistem manual, namun hal tersebut bisa tidak dengan berbagai pengecualian.
“Pemasangan pondasi seperti biasa dilakukan secara manual, dipasang kemudian pakai plesteran. Secara umum memang seperti itu, hanya saja ada pengecualian kebiasaan, bahwa daerah Cilacap merupakan dataran rendah sehingga rawan genangan air. Ketika menggali tanah untuk pondasi ada resapan dari sawah, dan muncullah air. Untuk menanggulangi hal tersebut maka menggunakan papan bigisting,” jelas Tatang.
“Bigisting berfungsi sebagai penghalang air, agar pasangan pondasi menjadi kering. Nah salah satu metode itu yang digunakan oleh para P3A sejak tahun 2018. Barangkali seperti itu kira-kira fungsi dari penggunaan pakai bigisting,” ujarnya.

Tatang menambahkan, bahwa pemasangan metode bigisting sebetulnya mirip dengan sistem cara manual.
“Metode bigisting sebetulnya mirip dengan pemasangan manual. Tekhniknya batu disusun berdiri, bukan tergeletak tetapi berdiri berjajar, kemudian dikasih mortar, dan mortar itulah yang mengikat batu-batu tersebut,” sambungnya.
“Yang saya tahu, dan saya awasi batunya tidak ditumpuk sampai atas kemudian dikasih mortar, itu tidak. Tetapi, mereka menyusun satu lapis, kemudian disusun lagi secara berdiri, selanjutnya dikasih mortar, dan itu memiliki kekuatan cukup baik, karena memiliki ikatan saling mengikat oleh mortar tersebut,” ungkap Tatang.
Disinggung mengenai volume pekerjaan, Konsultan BBWS ini mengatakan, bahwa semua tergantung kebutuhan di lapangan.
“Kalau volume, tergantung dari type saluran itu, ada yang tingginya 60 cm, dan ada yang 40 cm, ini tergantung keperluan kebutuhan di lapangan untuk tinggi itu berapa,” terangnya.
“Kemudian lokasi, ada lokasi yang jauh dijangkau kendaraan, ada juga yang dekat. Yang dekat tidak perlu levelansir, namun semisal jauh, dan butuh levelansir tentu saja mempengaruhi terhadap volume batu itu,” papar Tatang Ahmad, Konsultan Manajemen Balai Besar Wilayah Sungai.
Di tempat sama, Sutarto, Kepala Desa Bulaksari mengatakan, bahwa dalam rangka kunjungan pihak Balai Besar Citanduy yakni, untuk melihat langsung proses kegiatan pekerjaan proyek program P3-TGAI, yang dilaksanakan oleh kelompok P3A Pancuran Sari Bulaksari.
“Alhamdulilah dari Konsultan, pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy apresiasi, bahwa pengerjaan proyek tidak ada permasalahan,” singkat Tarto, Kades Desa Bulaksari.
Dalam kunjungan ke lokasi proyek Konsultan Manajemen BBWS Citanduy didampingi Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM), Kepala Desa Bulaksari, Sekdes Desa Bulaksari, serta Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Bulaksari.






