CILACAP, Revolusinews.com – Fathurrohman alias Komeng, warga Dusun Banjursari, Desa Ujungmanik, Kecamatan Kawunganten, Kabupaten Cilacap, mengalami musibah usai perahu yang ditumpangi guna mencari kepiting terhantam balok kayu terbawa arus deras, tenggelam ke bawah kapal tongkang khusus muatan kayu di perairan sungai Tirosi, Teluk Bintuni, Papua Barat, pada Kamis (8/01/2026) pukul 02.30 WIT dini hari.
Kejadian bermula ketika Fathurrohman alias Komeng bersama Janto, warga Prekuyan, Kutawaru Cilacap, (nelayan) asal Cilacap-Jawa Tengah, sedang jangkaran (istirahat) di area perairan sungai usai melakukan aktivitas. Tak disangka niat istirahat jadi awal datang bencana, dan menyebabkan rekan nelayan bernama Janto tewas dalam musibah.
Fathurrohman korban selamat, menuturkan, bahwa atas musibah ia masih diberi kekuatan hingga pulang dengan selamat yakni ke Cilacap-Jawa Tengah.
“Peristiwa mengerikan terjadi pada Kamis dini hari. Saat itu kami jangkaran (istirahat) di depan kapal tongkang. Jarak antara perahu kami dan kapal tongkang sekitar 80 meter. Disitu kami bertiga yakni Saya, Janto, dan Yudi. Ada dua perahu pada saat kami jangkaran. Satu perahu milik Yudi, sedangkan Saya bersama Janto,” kata Komeng, saat dikonfirmasi di rumah, Senin (12/1/2026).
“Kamis siang pukul 09.00 WIT kondisi air masih aman karena kecil hingga waktu menjelang maghrib. Sekitar pukul 20.00 WIT air naik (pasang). Malam pukul 01.00 WIT air turun (surut) dalam kondisi hujan deras arus kencang sehingga jangkar tidak kuat untuk menahan, kami pun memindah posisi jangkar tak betulin. Selang berapa lama, tiba-tiba ada balok kayu terbawa arus menabrak perahu milik Yudi hingga menyebabkan caruk perahu milik Yudi patah, dan sempat menabrak tongkang namun itu masih bisa terselamatkan,” ucapnya.
Mengetahui hal tersebut mereka akhirnya menarik tambang perahu untuk diikatkan ke batang pohon mangrove.
“Sekitar pukul 02.00 WIT saudara Janto mengajak ke tengah untuk jangkar lagi, sambil mengingatkan jangan tidur ditakutkan lorod masalahnya busi mesin mati sebelah. Posisi kami saat itu ada di tengah, dan beberapa menit kemudian pukul 02.30 WIT ada kayu balok berukuran besar, dan kayu tersebut ada cabang, posisi kayu setengah tenggelam, cabang kayu mengait tambang perahu. Arus deras hingga kayu itu membawa perahu kami ke arah kapal tongkang dan menabrak kapal,” tutur Komeng.
Tragis perahu yang ditumpangi Komeng masuk ke bawah kapal tongkang bersamaan balok kayu penyebab kejadian. Sementara Janto terpental di samping Kapal Tongkang dan tercebur ke sungai, namun naas bagi Janto nyawanya tidak tertolong akibat terbawa arus deras hingga ke muara, sementara Fathurrohman selamat dalam insiden pada Kamis dini hari. Berkat kerjasama relawan, rekan nelayan petugas dari unsur Kelautan baik Basarnas, Polairud jenasah Janto dapat diketemukan pada Sabtu 10/1/2026 pukul 09.45 WIT siang dengan jarak kurang lebih 2 Km dari lokasi kejadian.
“Bantuan pencarian datang sekitar pukul 07.00 WIT ke lokasi. Korban ditemukan dari TKP kurang lebih 2 Km, pukul 09.45 WIT Sabtu siang. Korban ditemukan dalam posisi setengah mengapung dengan kondisi luka lecet di dengkul, sikut tangan, muka memar/lebam,” jelasnya.
Jenasah Janto dipulangkan ke kampung halaman di Dusun Prekuyan, Kutawaru-Cilacap pada Minggu (11/1/2026) melalui Bandara Manokwari menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makasar, kemudian diterbangkan menuju Bandara Internasional Yogyakarta (YIA).
“Di Bandara Jogja sekitar pukul 20.00 WIB kemudian menuju Cilacap, Jenasah tiba di rumah duka di Prekuyan pukul 01.00 WIB, kemudian di makamkan di pemakaman umum (TPU) pukul 03.00 WIB dini hari,” ungkap Komeng, sedih sembari mengingat peristiwa.
“Saya masih trauma ketika ingat kejadian. Alhamdulilah puji syukur, saya selamat dan masih diberi umur untuk meneruskan hidup, dan bisa pulang ke Cilacap. Ke depan sebagai bentuk pembelajaran untuk lebih berhati-hati. Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam upaya pertolongan, baik relawan, rekan nelayan, Basarnas, Polairud dan unsur yang lain. Respon cepat luar biasa tentu saya berbangga atas peduli yang diberikan oleh Bos saya yang telah bertanggung jawab dalam musibah yang kami alami, dan saya do’akan semoga almarhum Janto tenang di alam sana, diterima semua amalnya, dan ditempatkan di Syurga-Nya Allah SWT, Aamiin,” tutup Komeng, berkaca-kaca.
Kepulangan Komeng dengan selamat tentu disambut dengan haru, tak sedikit keluarga meneteskan air mata sembari mengucap syukur, masih bisa dipertemukan.












