Mari Menghisab Diri Sebelum Dihisab di Yaumul Akhir

oleh -372 Dilihat
oleh
img 20260426 wa0080
Foto Dede Farhan Aulawi. (Dok. Revolusi News)

Oleh : Dede Farhan Aulawi

Revolusinews.com – Setiap manusia sedang berjalan menuju satu hari yang tidak pernah bisa dihindari, yaitu hari ketika seluruh amal akan dibuka tanpa ada satu pun yang tersembunyi. Hari itu adalah Yaumul Akhir, saat setiap jiwa berdiri sendiri di hadapan Allah, membawa catatan kehidupannya masing-masing. Pada hari itu, tidak ada kedudukan, harta, ataupun pujian manusia yang mampu menolong, kecuali rahmat Allah dan amal yang tulus. Karena itu, orang yang bijak bukanlah orang yang menunggu hisab di akhirat, melainkan orang yang mau menghisab dirinya sendiri selama masih hidup di dunia.


Menghisab diri berarti berani melihat ke dalam hati sendiri dengan jujur. Menilai kembali ucapan yang pernah keluar, langkah yang pernah diambil, serta niat yang tersembunyi di balik setiap perbuatan. Banyak manusia tampak baik di mata orang lain, tetapi lupa menilai dirinya di hadapan Allah. Padahal yang akan menjadi ukuran bukanlah bagaimana manusia memandang kita, melainkan bagaimana Allah menilai isi hati dan amal kita. Muhasabah adalah cermin ruhani yang membantu seseorang menyadari bahwa mungkin masih banyak dosa yang dianggap kecil, namun berat dalam timbangan akhirat.


Sering kali seseorang sibuk menghitung kesalahan orang lain, tetapi lalai menghitung kesalahan dirinya sendiri. Padahal dosa yang paling berbahaya adalah dosa yang terus diulang tanpa penyesalan. Hati yang tidak pernah diajak bermuhasabah perlahan menjadi keras, hingga sulit membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan. Oleh sebab itu, sebelum malam menutup hari, alangkah indah jika setiap insan bertanya kepada dirinya: apa yang sudah aku lakukan hari ini untuk Allah, dan dosa apa yang harus aku tangisi malam ini? Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi jalan menuju perbaikan yang besar.


Menghisab diri juga mengajarkan bahwa usia bukanlah sesuatu yang terus bertambah, melainkan terus berkurang. Setiap hari yang berlalu sejatinya adalah bagian dari umur yang telah pergi dan tidak akan kembali. Banyak orang merencanakan masa depan dunia dengan sangat rinci, namun sedikit yang menyiapkan jawaban untuk pertanyaan di akhirat nanti. Padahal kelak setiap nikmat akan ditanya, setiap amanah akan diminta pertanggungjawaban, dan setiap luka yang pernah diberikan kepada orang lain akan dimintakan balasannya. Kesadaran inilah yang seharusnya membuat hati menjadi lebih lembut dan hidup lebih berhati-hati.


Orang yang terbiasa menghisab dirinya akan lebih mudah memperbaiki hidupnya. Ia tidak merasa suci, tidak merasa paling benar, dan tidak sibuk mencari kekurangan orang lain. Sebaliknya, ia sibuk memperbaiki kekurangan dirinya sendiri. Ia tahu bahwa perjalanan menuju Allah membutuhkan hati yang bersih, bukan sekadar penampilan yang terlihat saleh. Muhasabah menjadikan seseorang lebih rendah hati karena ia sadar bahwa dirinya pun penuh dengan kelemahan dan sangat membutuhkan ampunan Allah setiap saat.


Pada akhirnya, menghisab diri adalah bentuk kasih sayang kepada jiwa sendiri. Sebab orang yang mau menegur dirinya hari ini, mungkin akan diselamatkan dari penyesalan panjang di hari pembalasan nanti. Jangan menunggu datangnya hari ketika penyesalan tidak lagi berguna. Selama napas masih berhembus dan pintu taubat masih terbuka, mari belajar duduk sejenak, menundukkan hati, lalu bertanya kepada diri sendiri: jika malam ini adalah malam terakhirku, sudah pantaskah aku menghadap Allah? Karena sesungguhnya orang yang beruntung adalah mereka yang menghisab dirinya di dunia sebelum dihisab di Yaumul Akhir.


No More Posts Available.

No more pages to load.