Meraih Husnul Khatimah di Pesantren Lansia Darun Naim Jonggol

oleh -10 Dilihat
oleh
img 20260607 wa0006 11zon

TANGERANG, Revolusinews.com – Mencari ilmu, mendalami agama Islam, mencari ketenangan jiwa, meraih masa depan dengan husnul khotimah tidak terhalang dengan usia senja, seperti yang dilakukan para santri di Pondok Pesantren Lansia Darun Naim Kampung Babakan Cisewu RT 03/RW 03 Desa Sukajaya, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Untuk menuju lokasi dari arah Dayeh bisa melewati bantaran sungai tempat wisata yang menghubungkan dua desa dengan jembatan gantung,  melewati harmoni farm merupakan kavling persawahan dengan saung di tengahnya, melewati jalan dikiri kanan terdapat persawahan yang masih asri dan ada beberapa rest area berupa warung, saung, cafe, barulah sampai ke lokasi pondok pesantren lansia Darun Naim yang dibelakangnya terdapat pemandangan pegunungan.

Tim pengajar sekaligus pengelola pondok Ustad Abdul Aziz kepada Revolusinews.com, Sabtu (06/06/2026) mengatakan, persyaratan untuk mondok tidak dibatasi usia, namun yang menjadi perhatian yaitu sudah dewasa, tidak pikun dan mandiri (dapat melakukan seluruh kegiatan sendiri).

“Kegiatan sehari hari selain sholat 5 waktu, tahajud, zikir, kultum juga diisi dengan pelajaran khusus antara lain  Al-Qur’an plus Tajwid (BTQ), Fiqih (Syafinah), Hadis (Arbaiinnawawi), Tauhid (Aqidatul Awam), Adab Al-islamiyyah, Tafsir Jalalen Juz 30, Sirah Nabawiyyah,” jelasnya.

Ustad Abdul Aziz menambahkan, untuk infaq  dan biaya operasional berupa uang pendaftaran 2 juta rupiah dan iuran bulanan  1 juta per santri  :
– Sekamar 6 orang (perempuan)
– Sekamar 4 orang (laki laki).
– Makan 3 kali
Untuk per kamar 2 orang perempuan atau suami istri iuran  2,5 Jt/bulan

“Saat ini santri ada 26, santriwati ada 16 total 42 orang, lantar belakang dan usia sangat bervariasi, yang termuda 48 tahun yang tertua diatas 74 tahun. Ada yang baru 1 bulan ada yang sudah lebih 3 tahun, sedangkan asalnya ada yang dari pulau Jawa ada juga dari luar Jawa seperti Deli Serdang, Aceh, Medan, Sumba bahkan dari Malaysia,” ungkapnya

Sementara itu beberapa santri yang dihubungi menjelaskan bahwa uang bulanan ada yang dibiayai oleh diri sendiri, ada juga dibiayai oleh anaknya.

“Santri ada yang bawa motor atau mobil, ada juga setiap Sabtu Minggu pulang ke rumahnya, kita juga disediakan lahan untuk berkebun jika kita mau, olah raga pagi sampai ke pegunungan juga bisa, jadi sangat leluasa, canda ceria selalu mewarnai keseharian kami,” kata santri menutup pembicaraannya.