Panen Raya, Warga Desa Sambimaya Gelar Ritual Budaya Mapag Sri

oleh -1481 Dilihat
img 20240515 wa0053

INDRAMAYU, Revolusinews.com – Warga Sambimaya menggelar acara Ritual Budaya Mapag Sri yang merupakan sebuah ungkapan masyarakat sebagai rasa syukur atas hasil panen raya padi yang dituai sesuai harapan, berlangsung di Desa Sambimaya, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu pada Rabu (15/5/2024).

Tradisi ini merupakan budaya turun temurun yang masih dilestarikan oleh warga Sambimaya dan Ritual Budaya Mapag Sri ini apabila ditilik dari bahasa Jawa halus mengandung arti menjemput padi. Dalam bahasa Jawa halus, mapag berarti menjemput, sedangkan Sri dimaksudkan sebagai padi. Maksud dari menjemput padi adalah panen.

img 20240515 wa0054

Mapag Sri dilaksanakan dengan maksud sebagai ungkapan rasa syukur petani kepada Tuhan Yang Maha Esa karena panen yang diharapkan telah tiba dengan hasil yang memuaskan.

Dalam sesi acara Mapag Sri, seluruh warga desa sambimaya diwajibkan membawa tumpeng, ketupat dan lepet. Kemudian dikumpulkan disebuah aula kantor balai desa  untuk melakukan doa syukuran dan makan bersama.

img 20240515 wa0055

Mapag Sri desa sambimaya tahun 2024 ini berlangsung ramai karena menghadirkan pertunjukan ruat wayang kulit sehari semalam untuk warga setempat serta warga membawa tumpeng, kupat dan lepet dan dilakukan doa bersama oleh tokoh agama serta dihadiri Camat Juntinyuat, Rusyad Nurdin beserta jajarannya,Kepala Desa,H.Turyadi, Ketua RW/RT dan seluruh perangkat Desa Sambimaya.

Kuwu Sambimaya H. Turyadi mengatakan, upacara adat Mapag Sri adalah menjaga spirit bertani dan mencintai alam semesta. Perasaan rasa syukur atas karunia Tuhan memberikan keberkahan atas setiap benih padi yang ditanam.

“Semoga tahun tahun berikutnya, acara adat Mapag Sri di Desa Sambimaya ini bisa lebih meriah seperti dulu dengan menggelar pentas kesenian dan bisa menjadi wisata budaya bagi Desa Sambimaya sambimaya,” ujar H. Turyadi. 

Sementara di sela acara, Camat Juntinyuat, Rusyad Nurdin merasa bersyukur karena masyarakatnya masih tetap mempertahankan tradisi leluhur Mapag Sri dalam menyambut musim panen padi.

“Meski seringkali disaat musim tanam petani dihadapkan dengan kesulitan pupuk, mahalnya harga obat-obatan, bahkan panen kali ini dihadapkan pada serangan hama tikus dan harga padi yang belum berpihak pada petani, tapi hal itu tidak menjadikan kita berhenti menjadi petani dan terus berucap syukur atas nikmat dan karunia yang diberikan oleh Allah SWT,” ucap Camat Juntinyuat, Rusyad Nurdin seraya mengakhiri.

No More Posts Available.

No more pages to load.