Peluncuran Wairon Membangkitkan Kebanggaan dan Ketahanan Budaya Biak

oleh -706 Dilihat
oleh

RAJA AMPAT, Revolisinews.com – Hari yang penuh sejarah tercatat di Kampung Yenbekaki, Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya yakni peluncuran Wairon yang merupakan perahu tradisional khas masyarakat Biak yang diluncurkan dalam sebuah acara pada Jumat (13/12/2024).

Momen ini  tidak hanya memperkenalkan kembali warisan budaya, tetapi juga menjadi momen refleksi terhadap identitas dan kekuatan budaya masyarakat Biak yang hampir terlupakan.

Acara ini diselenggarakan oleh Gerakan Pembaharuan Papua Mandiri (GPPM) melalui program LPDP dan Indonesiana dengan dukungan luas dari masyarakat adat, pemerintah daerah, serta tokoh budaya.

Dalam sambutannya, para pemimpin memberikan pesan mendalam yang menggambarkan betapa berharganya Wairon bagi masyarakat Biak, bukan sekadar sebagai objek fisik, tetapi sebagai simbol ilmu pengetahuan, kearifan lokal, dan ketahanan budaya.

img 20241215 wa0033

Kepala Kampung Yenbekaki menyampaikan rasa bangga kepada generasi muda Kampung Yenbekaki yang berhasil membuat Wairon dengan penuh dedikasi. Ia menekankan bahwa Wairon adalah bukti nyata bahwa masyarakat Biak memiliki warisan besar yang harus terus dijaga.

“Kami menggarisbawahi pentingnya dukungan dari seluruh masyarakat untuk menjaga keberlanjutan tradisi ini agar Wairon tidak hanya menjadi artefak masa lalu, tetapi tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari,” ucap Kepala Kampung Yenbekaki.

img 20241215 224840

Sementara itu, Direktur GPPM, Saneraro Wamayer sebagai pelaksana program menjelaskan bahwa peluncuran ini adalah bagian dari upaya mendokumentasikan kebudayaan Biak yang rawan punah.

“Wairon bukan hanya sebuah perahu. Wairon adalah simbol ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan leluhur yang terintegrasi. Ia adalah teknologi maritim yang memungkinkan masyarakat Biak menjelajah samudra luas dengan keberanian dan ketajaman intuisi. Dengan peluncuran ini, kita tidak hanya menghidupkan kembali Wairon sebagai benda, tetapi juga semangat dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa dokumentasi ini dilakukan dalam bentuk film dokumenter bertajuk “Wairon Melawan Punah” sebuah langkah untuk memastikan bahwa nilai-nilai luhur dari Wairon dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Wairon dalam Konteks Kebijakan Budaya

Dukungan juga datang dari pemerintah daerah, yang melihat Wairon sebagai aset penting dalam pembangunan budaya dan pariwisata.

Kabid Kebudayaan Kabupaten Raja Ampat, Bapak H. Suruan, menyoroti bahwa pelestarian budaya seperti Wairon sangat relevan dengan potensi unggulan kabupaten Raja Ampat dalam bidang pariwisata. Menurutnya, budaya adalah bagian integral dari konsep wisata yang lebih holistik dan berkelanjutan.

“Raja Ampat tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga kekayaan budaya yang mendalam. Wairon dapat menjadi bagian penting dari strategi pembangunan wisata budaya, di mana tradisi dan kearifan lokal menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.” Ucapanya

Perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Barat Daya, Bapak Jhon Airobaba, menegaskan bahwa program ini sejalan dengan Pokok Pikiran Kebudayaan Papua Barat Daya. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa peluncuran Wairon adalah langkah konkret dalam membangun ketahanan budaya masyarakat:

“Ketahanan budaya adalah fondasi untuk membangun identitas yang kuat. Wairon tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga strategi untuk masa depan, di mana kebudayaan menjadi landasan utama pembangunan manusia di Papua Barat Daya.”

Makna Ritual Adat dalam Peluncuran Wairon

Prosesi peluncuran Wairon ini tidak hanya dipenuhi dengan sambutan, tetapi juga disertai ritual adat yang mendalam, menunjukkan penghormatan terhadap tradisi leluhur.

1. Peniupan Triton
Sebagai simbol komunikasi dengan Sang Ilahi, triton ditiup untuk menandai permohonan izin dan restu dari alam semesta dalam peluncuran Wairon.

2. Pembunyian Gong
Gong dipukul sebagai tanda dimulainya era baru bagi Wairon sebagai simbol budaya dan ilmu pengetahuan.

3. Penyerahan Tongkat Komando (Isas)
Dalam sebuah momen sakral, Manfamyan Sinan Bepon (Denis Koibur) menyerahkan tongkat komando kepada Saneraro Wamaer, Direktur Program, sebagai pemimpin pelayaran Wairon. Penyerahan ini melambangkan harapan dan kepercayaan untuk menjaga dan mengatur pelayaran Wairon di masa depan.

4. Penyiraman Perahu dengan “Ben Bepon”
Ritual ini menggunakan piring adat untuk menyiramkan air ke Wairon, melambangkan doa keselamatan, keberanian, dan perlindungan selama pelayaran.

Menjaga Warisan Budaya untuk Generasi Mendatang

Peluncuran Wairon bukan hanya tentang pelestarian tradisi, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat Biak, Raja Ampat, dan Papua Barat Daya dapat mengintegrasikan budaya dalam pembangunan modern.

“Kita berdiri di sini hari ini bukan hanya untuk meluncurkan sebuah perahu, tetapi untuk menghidupkan kembali semangat leluhur kita. Semoga langkah ini menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus menjaga dan memperjuangkan kebudayaan mereka, bahkan di tengah tantangan modernisasi,” kata Direktur GPPM.

Dengan dukungan dari berbagai pihak, Wairon kini tidak hanya menjadi representasi masa lalu, tetapi juga harapan untuk masa depan. Dokumentasi ini, melalui film dan kegiatan budaya, diharapkan dapat membuka mata dunia bahwa Biak adalah bangsa maritim dengan warisan besar yang patut dihargai dan dilestarikan.

“Peluncuran Wairon ini adalah panggilan untuk semua pihak. Mari bersama melawan kepunahan, menjaga nilai-nilai luhur, dan memastikan bahwa warisan ini tetap hidup dalam ingatan dan hati kita,” tutupnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.