CILACAP, Revolusinews.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cilacap melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menggelar Rapat Evaluasi Panen Demplot Padi Varietas Biosaline 2 pada Masa Tanam (MT) 1 serta merumuskan rencana penanaman lanjutan MT 2 yang diselenggarakan di Ruang Rapat Lantai II Kantor Bappeda Kabupaten Cilacap pada Kamis (22/5/2025).
Hal ini menjadi momentum penting untuk mengkaji capaian dan prospek inovasi pertanian di wilayah marjinal berupa lahan salin.
Kepala Bappeda Kabpate Cilacap, Sujito melalui Plt. Kepala Bidang Riset dan Inovasi Bappeda Iwan Hasan Ma’arif mengatakan, bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Pemerintah Daerah dalam mengembangkan inovasi berbasis riset untuk menjawab tantangan krisis lahan produktif akibat intrusi air laut. Kabupaten Cilacap memiliki 2.569 hektar sawah yang terdampak salinitas yang tersebar di 12 Kecamatan.
“Demplot padi varietas biosaline 2 merupakan adaptasi terhadap kondisi lingkungan sekaligus inovasi dalam penerapan teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas padi dan pendapatan petani serta menjadi salah satu upaya mewujudkan visi misi Bupati dan Wakil Bupati Cilacap khususnya percepatan ketahanan pangan,” ujarnya.
Dikatakannya, rapat tidak hanya mengevaluasi teknis pelaksanaan demplot di MT 1, tapi juga menyusun strategi berbasis data dan pengalaman untuk pelaksanaan MT 2 yang akan dilaksanakan pada musim kemarau. Hal tersebut menjadi bagian dari komitmen jangka panjang mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di Kabupaten Cilacap.
Sementara itu menurut Suryo Wibisono mewakili Tim Peneliti BAPPEDA menjelaskan bahwa riset demplot padi varietas Biosaline 2 yang dilaksanakan di Desa Ujungmanik Kecamatan Kawunganten dan Desa Bulupayung Kecamatan Patimuan pada lahan seluas masing-masing 0,5 hektar telah dipanen, evaluasi parameter pengamatan dan hasil perhitungan produktivitas menunjukkan hasil yang positif. Kedua demplot menguji 3 perlakuan yaitu metode perlakuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)perlakuan Prof. Gembong Danudiningrat, dan perlakuan petani lokal.
“Demplot akan dilakukan kembali pada MT 2 untuk mematangkan pengujian di musim kemarau sekaligus menilai ketahanan varietas Biosaline dalam kondisi salinitas yang biasanya lebih signifikan,” jelas Suryo.
Prof. Totok Agung Dwi Haryanto, Ph.D menyoroti pentingnya konsistensi dalam pelaksanaan Demplot antar perlakuan. Kredibilitas hasil demplot bergantung bagaimana kedisiplinan menerapkan Standar Operation Procedure (SOP). Demplot padi varietas Biosaline 2 diharapkan tidak hanya menjadi solusi untuk lahan terdampak intrusi air laut, tetapi juga menjadi rujukan nasional dalam pengembangan pertanian adaptif.
Dengan sinergi yang solid antara pemerintah, akademisi, petani, dan mitra swasta, Cilacap optimis mampu menghadirkan masa depan pertanian yang produktif, menyejahterakan petani dan mendukung ketahanan pangan.
“Saya pesan agar mulai dipikirkan untuk membudidayakan bibit padi varietas biosaline 2 di Cilacap, agar budidaya oleh petani setelah demplot berakhir dapat berjalan secara luas,” tutupnya.
Hadir pada kesempatan tersebut ,Dinas Pertanian beserta Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dari Kawunganten dan Patimuan, Ketua Kelompok Tani dari Desa Ujungmanik dan Bulupayung, Kepala Dinas PSDA, DLH, Dishanpan, Diskominfo, BPS, Camat Kawunganten dan Patimuan, serta Kades Ujungmanik dan Bulupayung, PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) Pabrik Cilacap sebagai mitra.












