JAKARTA UTARA, Revolusinews.com – Warga RW 10 wilayah Tugu Utara masih terus menyuarakan aspirasi agar saluran air di lingkungannya segera ditutup dengan deker. Permintaan itu kembali ditegaskan oleh Ketua RW 10, Neneng Erna Yulianawati yang akrab disapa Ji’enk saat ditemui dalam pertemuan bersama warga dan perwakilan pemerintah.
Menurut Ji’enk, usulan tersebut sebenarnya sudah berulang kali disampaikan sejak tiga periode sebelumnya, baik melalui Musrenbang maupun saat reses anggota dewan. Namun hingga kini, realisasi penutupan saluran air tak kunjung terealisasi.
“Tiga periode sudah kita usahakan lewat anggota dewan, tapi belum juga dapat. Sekarang saya ingin lewat bapak-bapak bisa bantu agar wilayah RW 10 ini segera tertutup. Karena wilayah kita ini jantungnya Tugu Utara, tapi justru paling tertinggal,” ungkap Ji’enk.
Ia menjelaskan, saluran air terbuka di RW 10 sangat berisiko bagi keselamatan warga, terutama anak-anak yang kerap terperosok. Selain itu, kondisi tersebut juga memperburuk banjir saat hujan deras.
“Kalau hujan, air meluap karena got dipenuhi lumpur dan sampah. Pernah banjir sampai 45 cm, bahkan di Pos RW lebih rendah dari jalan, jadi terendam. Warga sudah capek, masa harus pasang kayu penyangga tiap ada lubang? Itu kan sudah tidak zamannya lagi,” katanya.
Selain faktor keamanan dan kebersihan, penutupan deker juga mendesak karena wilayah RW 10 menjadi satu-satunya yang belum tertutup dibandingkan RW lain di Tugu Utara.
“RW lain sudah tertutup semua, hanya RW 10 yang masih terbuka. Jadi kalau banjir, wilayah kita seperti danau, terjebak di tengah-tengah. Ini PR besar buat saya sebagai ketua RW, dan saya mohon amanah ini bisa direalisasikan,” tegasnya.
Selain persoalan deker, Ji’enk juga menyoroti ketiadaan lokasi khusus pembuangan sampah di wilayah Tugu Utara. Akibatnya, sampah sering menumpuk dan memperparah kondisi saluran air.
“Di wilayah utara ini kita tidak punya tempat pembuangan sampah. Pernah ada di RW 08, tapi sekarang sudah berubah fungsi. Harus ada solusi, agar warga tidak lagi kesulitan,” ujarnya.
Dengan kondisi yang mendesak, Ji’enk menyatakan pihaknya akan segera menyusun proposal resmi agar permohonan ini dapat segera ditindaklanjuti pemerintah.






