JAKARTA, Revolusinews.com – Seminar nasional sekaligus peluncuran EAT-Lancet Report 2026 untuk wilayah Indonesia sekaligus diskusi dengan tema “Rekomendasi EAT-Lancet Commission 2025: Penerapan Sistem Pangan yang Sehat, Berkelanjutan dan Berkeadilan di Indonesia” digelar di Hotel Milenium Sirih, Jakarta, Senin (18/05/2026).
Acara ini menyoroti urgensi penerapan rekomendasi Komisi EAT-Lancet 2025 untuk membangun sistem pangan Indonesia yang lebih sehat, berkelanjutan, dan berkeadilan.
Laporan tersebut merangkum kajian ilmiah terbaru tentang hubungan pola makan, kesehatan manusia, dan keberlanjutan lingkungan.
Seminar dipandu oleh Ir. Vita Datau MPM sebagai moderator, yang dihadiri oleh akademisi, pembuat kebijakan, organisasi masyarakat sipil, pelaku industri pangan, dan perwakilan lembaga internasional dan sebagai nara sumber dalam diskusi panel ini adalah
1. dr. Melyama Putri SP,GK (Enhance Global)
2. Fachrial Kautsar (CISDI)
3. Ibnu Budiman MSc (GAIN)
4. Ilman Dzikri MBA
(Sweef Capital).
Para panelis membahas tantangan sekaligus peluang implementasi rekomendasi EAT-Lancet di konteks Indonesia, mulai dari keragaman pangan lokal hingga kebijakan subsidi pertanian.
Indonesia menghadapi beban ganda masalah gizi: stuntingx dan obesitas yang terus meningkat, ditambah tekanan perubahan iklim pada produksi pangan. Rekomendasi EAT-Lancet 2025 menekankan perlunya transisi ke pola makan berbasis nabati yang beragam, pengurangan limbah pangan, dan sistem produksi yang ramah lingkungan.
Penerapannya dinilai krusial untuk mencapai target SDG 2030 dan ketahanan pangan nasional.
Diskusi panel menggarisbawahi tiga strategi utama:
1. Diversifikasi pangan lokal Menguatkan konsumsi umbi-umbian, kacang-kacangan, dan sayur lokal untuk mengurangi ketergantungan pada beras dan gandum impor.
2. Reformasi rantai pasok Membangun sistem distribusi yang memotong jalur tengkulak dan menjamin harga adil bagi petani kecil.
3. Kebijakan fiskal dan edukasi Menyelaraskan insentif pajak, subsidi, dan kampanye gizi seimbang di sekolah serta media publik.
Jika diterapkan, sistem pangan baru ini diharapkan meningkatkan status gizi masyarakat, mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian, dan memperkuat ekonomi petani di daerah.
Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan EAT foundation selalu Panitia berharap hasil diskusi menjadi masukan konkret bagi penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional bidang pangan dan kesehatan.












