INDRAMAYU, Revolusinews.com – Resolusi Jihad yang dicetuskan para ulama pada 22 Oktober 1945 merupakan tonggak bersejarah yang menegaskan bahwa pembelaan terhadap tanah air adalah bagian dari kewajiban moral, spiritual, dan kebangsaan. Ia bukan sekadar dokumen historis, melainkan simbol keberanian kolektif yang telah menggerakkan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan. Kini, lebih dari tujuh dekade setelah peristiwa heroik tersebut, spirit Resolusi Jihad tetap relevan untuk menyalakan jiwa kepahlawanan di kalangan generasi muda yang hidup di tengah tantangan baru.
Hal tersebut disampaikan oleh Pemerhati Hankam Dede Farhan Aulawi di Indramayu, Senin (10/11/2025) saat dirinya menjadi narasumber seminar dalam memperingati hari pahlawan di indramayu untuk memenuhi undangan dari Forum Petani dan Nelayan Pantura.
Menurutnya, generasi muda hari ini tidak lagi berhadapan dengan kolonialisme fisik seperti di masa lalu, tetapi menghadapi bentuk penjajahan modern, arus informasi yang menyesatkan, degradasi moral, ancaman radikalisme, persaingan ekonomi global, hingga kerentanan teknologi. Spirit Resolusi Jihad dapat menjadi energi moral untuk menumbuhkan keberanian menghadapi tantangan tersebut. Keberanian bukan sekadar berperang, tetapi tekad kuat untuk berdiri di sisi kebenaran, melawan ketidakadilan, serta mengambil tanggung jawab dalam setiap peran sosial.
Pada kesempatan tersebut, ia juga menegaskan bahwa di tengah derasnya globalisasi, nasionalisme mudah terkikis. Generasi muda sering lebih dekat pada identitas digital daripada nilai kebangsaan. Resolusi Jihad mengajarkan bahwa cinta tanah air perlu diwujudkan dalam tindakan nyata. Pada era digital, semangat itu dapat diwujudkan melalui literasi digital yang sehat, memerangi disinformasi, mempromosikan keberagaman, dan menjaga etika dalam ruang maya. Mengisi ruang digital dengan konten positif, edukatif, dan membangun adalah bentuk “jihad” kekinian yang mampu memberikan dampak luas bagi bangsa.
“Resolusi Jihad lahir dari keberanian moral para ulama yang tidak gentar pada intimidasi. Nilai ini sangat relevan bagi generasi muda yang kerap menghadapi godaan pragmatisme dan budaya instan. Integritas, kejujuran, disiplin, serta etos kerja merupakan pilar kepahlawanan yang harus ditumbuhkan. Jihad pada era kini berarti perjuangan melawan kelemahan diri, malas belajar, perilaku koruptif, maupun sikap tidak peduli terhadap lingkungan sosial,” ujarnya.
Selanjutnya ia pun mengatakan bahwa spirit Resolusi Jihad juga mengandung pesan penting tentang kepemimpinan visioner. Para pemimpin bangsa saat itu berani mengambil keputusan strategis demi keselamatan negara. Generasi muda perlu mengadopsi nilai ini: berani memimpin perubahan, berinisiatif menciptakan solusi, serta memiliki empati terhadap sesama. Kepemimpinan hari ini bukan lagi soal senjata, tetapi inovasi, kolaborasi, kemampuan berpikir kritis, dan kemauan untuk memperjuangkan kebaikan bersama.
Kemudian ia menjelaskan bahwa jihad bukan hanya perjuangan fisik, tetapi juga kesungguhan berkarya. Ilmuwan yang menemukan teknologi baru, siswa yang berprestasi, pemuda yang aktif dalam kegiatan sosial, hingga wirausaha yang membuka lapangan kerja adalah pejuang zaman modern. Dengan menanamkan semangat Resolusi Jihad, generasi muda dapat memaknai bahwa setiap usaha untuk memajukan bangsa merupakan kontribusi kepahlawanan.
“Spirit Resolusi Jihad adalah sumber energi moral yang mampu membentuk karakter generasi muda menjadi tangguh, berintegritas, dan berjiwa nasionalis. Ia mengajarkan bahwa kepahlawanan bukanlah legenda masa lalu, tetapi komitmen abadi untuk mencintai dan membela bangsa dalam berbagai bentuk perjuangan. Jika generasi muda mampu menyalakan api spirit ini dalam dirinya, maka Indonesia akan memiliki kekuatan besar untuk menghadapi tantangan zaman dan melangkah menuju masa depan yang lebih bermartabat,” tutupnya.











