Stockpile Batu Bara di Selatan Bukan Hanya Satu dan Keberadaannya Sudah Puluhan Tahun

oleh -106 Dilihat
img 20251227 wa0027
Caption : Pekerja masyarakat setempat tengah melakukan penyortiran batu batu.(dok.adm)

LEBAK,Revolusinews.com – Tokoh masyarakat yang juga merupakan Ketua RT/RW, Desa Pamubulan Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, menyayangkan terhadap pemberitaan salah satu media online yang mengatakan bahwa warga setempat mengeluhkan dengan keberadaan stockpille batu bara milik R, Sabtu (27/12/2025).

Menurut RW Hendrik, keberadaan stockpile batu bara ini bukan baru sekarang, tapi sudah berpuluh-puluh tahun lamanya, dan tidak pernah menerima laporan warga yang mengeluhkan tentang keberadaan stockpile batu bara ini.

“Adannya stockpile batu bara ini kan sudah puluhan tahun lamanya bukan baru sekarang, dan saya tidak pernah menerima laporan warga yang mengeluhkan keberadaan stocpile ini. Kenapa baru sekarang dipermasalahkan. Karena kalau memang ada keluhan kan semestinya disampaikan kepada saya dulu selaku Ketua RW atau kepada Ketua RT di sini. Tapi ini tiba-tiba ada pemberitaan keluhan warga yang ditulis oleh wartawan yang jauh sekali dari luar. Padahal disini juga banyak wartawan dan kantor sekretariat PWI juga di sini kan ada. Tapi mungkin karena wartawan di sini lebih mengerti dan memahami bagai mana masyarakat kecil menggantungkan penghasilan sehari-hari untuk menfkahi anak istri dari penambangan batu bara ini, bahkan mungkin bisa dibilang nyawa juga menjadi taruhannya. Kami gak pernah mengeluhkan apalagi merasa dirugikan, tapi gak tahu kalau orang yang berfikiran atau punya niatan lain. Bahkan kami warga disini merasa mendapat manfaat dengan adanya stockpile ini, karena warga kami bisa bekerja untuk menafkahi anak istrinya. Selain itu, pemilik stockpile ini setiap bulannya suka memberikan kompensasi kepada warga yang ada di lingkungan sekitar stockpile. Ya, yang namanya juga uang kompensasi masa harus seperti uang gaji, harus bisa mencukupi kebutuhan keluarga satu bulan,” terang RW Hendrik.

Dan menurut saya, mungkin lebih bagus lagi wartawan tersebut tidak hanya mengkonfirmasi sepihak, agar seimbang kan bisa juga meminta keterangan dari Ketua RT atau saya sebagai ketua RW di sini selaku pemerintahan di lingkungan, biar bisa mendapat keterangan yang lebih lengkap, harapnya.

Terus, pertambangan juga kan bukan batu bara saja dan stockpile juga bukan ini saja, masih banyak lagi pertambangan dan stockpile-stockpile yang lain, kenapa pemberitaannya tendensius kepada stockpile ini saja. Jauh-jauh dari sana langsung ke stockpile ini, ataukah ada pesanan ?. Dan setahu saya wartawan juga ada kode etiknya, tidak boleh menjustice, juga mengaku melakukan sidak, itu kan bukan domainnya, lanjut RW.

Terus minta APH atau pihak terkait untuk melakukan penutupan. Setahu saya, kegiatan tambang batu bara dan setockpile itu sudah puluhan tahun dan mungkin sudah ratusan tahun. Kalau memang APH atau pihak-pihak terkait mau melakukan penutupan kenapa gak dari dulu, dan jangan hanya satu atau dua, atau tambang batu bara saja, tapi semua pertambangan yang tidak memiliki ijin tutup jangan ada tebang pilih, tegas RW Hendrik.

Bahkan kalau menurut saya sebagai orang bodoh, jangan hanya bisa mengatakan kepada masyarakat melakukan usaha ilegal atau tanpa ijin, tapi coba mendorong atau meminta kepada pemerintah atau dinas terkait agar memberikan kemudahan kepada masyarakat yang ingin menempuh perijinan, sehingga usaha masyarakat ini tidak terus menyandang predikat pelaku ilegal, yang pada akhirnya dijadikan ATM oleh oknum, tegas Hendrik.

Senada yang disampaikan Ketua RT, Aba. Dia mengaku bingung dengan tiba-tiba muncul pemberitaan warga mengeluhkan keberadaan stockpile ini, karena menurutnya sampai saat ini tidak pernah ada warga yang mengeluh kepada dirinya.

“Saya juga selaku ketua RT di sini, kaget dan heran dengan adanya pemberitaan ini, karena, saya tidak pernah ada pengaduan atau keluhan dari warga dengan keberadaan stockpile ini. Malah saya jadi bingung apa yang mendasari atau orientasi dari berita ini. Apalagi yang menaikan beritanya juga kan bukan orang wilayah sini, dan mengaku atas laporan dari warga sini, padahal disini juga banyak wartawan. Tapi yang penting, pemilik stockpile tidak salah paham sama kami, karena kami ridak pernah mempermasalahkan, dan kami tidak mau dibilang orang yang tidak bisa balas budi atas kebaikan dan perhatian pemilik stockpile kepada warga begitu juga ketika ada kegiatan sosial masyarakat,” beber Aba.

Saat tim awak media mengkofirmasi salah seorang pekerja di stockpilie tersebut Agus, mengaku bahwa keberadaan stockpile ini sedikit banyak memberikan manfaat. dia mengatakan tidak mementingkan pribadi, tapi lebih mementingkan warga masyarakat setempat supaya ada pekerjaan, mulai dari tukang loding (naikan batu bara ke atas truck-red) sampai sopir dan lainya, terang Agus.(*/tim)