Tingkatkan Wisatawan, KRL Jogya-Solo Jadi Primadona

oleh -521 Dilihat
oleh
img 20241201 wa0000 11zon

TANGERANG, Revolusinews.com – Kereta Rel Listrik (KRL) Jogya-Solo menjadi primadona warga Jogya atau warga Solo untuk berwisata, berniaga dan menikmati perjalan dari Stasiun Tugu Jogyakarta menuju Stasiun Solo Balapan atau sebaliknya. Tentunya hal tersebut akan menunjang peningkatan wisata dan perekonomian masyarakat.

Seperti diketahui, KRL dari Stasiun Tugu Yogyakarta melewati Stasiun Lempuyangan, Maguwo, Brambanan, Srowot,  Klaten, Ceper, Delanggu, Gawok, Purwosari, Solo Balapan, Solo Jebres dan berakhir di  stasiun Palur ditempuh kurang lebih 1 jam 30 menit.

Kepada Revolusi News (RNews) Biro Tangsel, Sabtu (30/11/2024), Raihan murid SMP dari  Jogya mengatakan, bersama adik dan orang tuanya sengaja menikmati perjalanan KRL dari Stasiun Tugu Yogyakarta menuju Stasiun Solo Jebres untuk kulineran dan kebutuhan lain di Pasar Gede Solo.

Saat yang bersamaan, Ibu Ida  juga mengatakan akan menuju ke Pasar Gede untuk membeli buah buahan yang katanya kualitasnya sangat bagus

Sedangkan Ibu Reina, memanfaatkan KRL dari Stasiun Tugu Yogyakarta menuju Stasiun Purwosari untuk menjenguk putri semata wayang yang sudah menyelesaikan ujian akhir di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadyah Solo.

“Bukan hanya Sabtu Minggu, hari kerja pun KRL ini juga penuh, karena memang paling nyaman mudah murah dan cepat hanya 1 jam, kalau naik bus bisa 3 jam”, ucapnya.

Sementara itu, Ibu Jojo beserta suami yang sedang menengok orang tua di Yogya menyempatkan waktu ke Solo dengan menggunakan KRL.

“Kami sampai di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta pukul 08.00 akan menuju ke Solo Balapan untuk kulineran ke Pasar Gede Solo diantaranya makan Sop Tengkleng ibu Retno” ucapnya.

Kemudian dilanjutkan ke Rasamadu Heritage gedung tua bekas pabrik gula zaman kolonial Belanda yang difungsikan menjadi tempat wisata dengan berbagai spot foto yang cukup bagus dengan suasana klasik ala Eropa.

Di lokasi tersebut terdapat juga museum angkutan berupa mobil tua yang dicat kembali. Ada juga  arena “Cubic Infinity Room” merupakan rumah kaca dengan ornamen yang sangat artistik, nuansa taman, melewati berbagai lampion dengan  pencahayaan beraneka warna dan berubah secara apik setiap 10 detik. Di area lain  ada juga  pagelaran burung hantu dan musik.

“Selanjutnya kami meneruskan perjalanan ke  Istana Mangkunegaran yang juga disebut Pura Mangkunegaran Solo, kami didampingi pemandu wisata memanfaatkan spot foto  yang cukup artistik, melewati  ruang keluarga Mangkunegaran,  melewati  pendopo yang sangat luas tempat pagelaran gamelan, tarian dan wayang kulit,” terangnya.

Di ujung perjalanan kami ditunjukan sebuah resto yang menyediakan sajian bukan hanya sajian  ala Mangkunegaran tapi juga berbagai makanan dan minuman menu jajanan pasar dan tradisional yang belum tentu tersedia di pasaran.
Di lokasi tersebut terdapat 3 bangunan yaitu Pracimasana, Pracimaloka dan Pracimawisik.

“Jangan lupa untuk masuk ke resto  harus reservasi dulu karena jumlah pengunjung dibatasi dan harus mengenakan pakaian resmi tidak boleh memakai kaos dan sandal” kata Jojo mengutip ucapan pemandu wisata.

Perjalanan selanjutnya menuju ke Stasiun Solo Balapan dan singgah dulu ke mesjid Raya  Sheikh Zayed Solo yang memiliki arsitektur  dan ornamen bangunan Negara Timur Tengah. Bukan hanya bangunan  dan arsitekturnya yang megah tapi juga  dilengkapi berbagai fasilitas perpustakaan, tempat wudhu yang unik dan artistik, Ruangan  VIP, dan berbagai kajian agama Islam.

Menjadi daya tarik tersendiri bagi wisata religi yang telah mengunjungi, pasti memiliki kenangan khusus dan special sehingga selalu ingin  mengunjungi kembali.

“Alhamdulillah pukul 16.00 kita sudah sampai di stasiun Solo Balapan untuk kembali menikmati perjalanan KRL menuju stasiun Lempuyangan Yogyakarta”, ujar Jojo menutup pembicaraan.

No More Posts Available.

No more pages to load.