Al-Quran dan Berbagai Teori Fisika

oleh -18 Dilihat
oleh
img 20260831 wa0031
Dede Farhan Aulawi. (Dok. Revolusi News)


Oleh : Dede Farhan Aulawi

Revolusinews.com – Al-Qur’an bukanlah buku teks fisika, tetapi di dalamnya terdapat banyak ayat yang mengajak manusia memperhatikan alam semesta, ruang, waktu, materi, energi, gerak, keseimbangan, dan keteraturan kosmos. Karena itu, Al-Qur’an dapat menjadi sumber inspirasi filosofis dan spiritual bagi pengembangan ilmu fisika.

Konsep tentang penciptaan langit dan bumi, misalnya, sering dikaitkan dengan pembahasan kosmologi modern. QS. Al-Anbiya’ ayat 30 menyebut bahwa langit dan bumi pada awalnya merupakan sesuatu yang padu kemudian dipisahkan. Ayat ini tidak boleh secara gegabah dianggap sebagai rumusan teori Big Bang, tetapi dapat dibaca sebagai dorongan untuk merenungkan asal-usul dan struktur alam semesta.

Al-Qur’an juga berbicara tentang keteraturan dan hukum-hukum alam. QS. Al-Qamar ayat 49 menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan menurut ukuran atau ketentuan. Dalam perspektif fisika, alam memiliki keteraturan yang dapat dinyatakan melalui hukum-hukum seperti gravitasi, elektromagnetisme, termodinamika, mekanika kuantum, dan relativitas. Keteraturan tersebut memungkinkan manusia melakukan pengukuran, membuat prediksi, dan mengembangkan teknologi.

Konsep relativitas waktu juga menarik untuk direnungkan melalui ayat-ayat yang menggambarkan perbedaan skala waktu di sisi Allah dan dalam pengalaman manusia, seperti QS. Al-Hajj ayat 47 dan QS. As-Sajdah ayat 5. Ayat-ayat tersebut bukanlah persamaan relativitas Einstein, tetapi memberikan perspektif bahwa pengalaman dan ukuran waktu tidak harus dipahami secara sederhana sebagai sesuatu yang mutlak dan seragam.

Demikian pula, fenomena pergerakan benda langit, orbit, cahaya, gelombang, dan keseimbangan alam berkali-kali menjadi objek perenungan Al-Qur’an. QS. Yasin ayat 38–40, misalnya, menggambarkan keteraturan perjalanan matahari, bulan, dan malam-siang. Fisika kemudian mempelajari fenomena tersebut secara matematis melalui mekanika, gravitasi, astronomi, dan kosmologi.

Dengan demikian, hubungan Al-Qur’an dan fisika sebaiknya ditempatkan secara proporsional. Al-Qur’an memberikan pandangan tentang makna, keteraturan, dan tanda-tanda kebesaran Allah, sedangkan fisika menjelaskan mekanisme alam melalui observasi, eksperimen, dan matematika. Keduanya tidak harus dipertentangkan. Justru, semakin dalam manusia memahami hukum-hukum alam, semakin besar pula kesempatan untuk menyadari betapa kompleks dan teraturnya ciptaan Allah.

Pada akhirnya, fisika bukan sekadar usaha memahami “bagaimana alam bekerja”, tetapi dapat menjadi jalan intelektual untuk merenungkan pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu  mengapa alam memiliki keteraturan, dari mana hukum-hukum alam berasal, dan siapa yang menetapkan keteraturan tersebut? Dalam perspektif iman Islam, seluruh hukum alam berjalan dalam ketentuan dan kehendak Allah.