Oleh : Dede Farhan Aulawi
Revolusinews.com – Bumi diciptakan sebagai tempat kehidupan yang memiliki keseimbangan. Namun, keseimbangan itu perlahan terganggu oleh ulah manusia yang mengejar kepentingan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang. Hutan ditebang secara berlebihan, sungai dan laut dicemari, udara dipenuhi emisi, tanah dieksploitasi, dan sumber daya alam diambil tanpa batas. Kesalahan manusia bukan sekadar terletak pada aktivitasnya, tetapi pada cara manusia memperlakukan alam seolah-olah alam tidak memiliki batas dan tidak membutuhkan pemulihan.
Kerusakan lingkungan juga lahir dari keserakahan: pertambangan tanpa pengelolaan yang baik, pembakaran hutan, penggunaan plastik berlebihan, pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan, serta konsumsi yang tidak terkendali. Ketika keuntungan ekonomi ditempatkan di atas keberlanjutan, alam akhirnya membayar harga yang mahal. Banjir, longsor, kekeringan, pencemaran, hilangnya keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim menjadi sebagian dari konsekuensinya.
Dalam perspektif spiritual, kerusakan tersebut dapat menjadi cermin bagi manusia untuk melakukan introspeksi. Al-Qur’an mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini mengandung pesan mendalam bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral terhadap bumi. Manusia bukan penguasa yang bebas menghancurkan, melainkan khalifah yang diberi amanah untuk merawat, menjaga, dan memakmurkan kehidupan.
Karena itu, memperbaiki bumi tidak cukup hanya dengan teknologi. Diperlukan perubahan cara berpikir: dari eksploitasi menuju keberlanjutan, dari keserakahan menuju kecukupan, dan dari merasa memiliki alam menuju kesadaran bahwa kita sedang meminjam bumi dari generasi yang akan datang.
Pada akhirnya, kerusakan bumi adalah juga kerusakan hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Ketika manusia kehilangan rasa syukur, tanggung jawab, dan batas moral, alam menjadi korban. Maka, menjaga bumi sesungguhnya bukan hanya persoalan lingkungan, ia adalah bagian dari pertanggungjawaban manusia kepada Allah, kepada sesama, dan kepada generasi masa depan.






