Oleh : Dede Farhan Aulawi
Revolusinews.com – Ada masa dalam kehidupan ketika musibah seakan datang tanpa jeda. Belum selesai satu persoalan, persoalan lain menyusul. Belum sempat hati mengeringkan air mata, sudah datang ujian berikutnya. Pada saat seperti itu, manusia sering bertanya, “Mengapa Tuhan memberikan semua ini kepadaku?”
Pertanyaan itu sangat manusiawi. Namun mungkin ada pertanyaan yang lebih dalam untuk direnungkan: “Apa yang sedang Allah ingin ajarkan kepadaku melalui semua ini?”
Musibah tidak selalu berarti Allah sedang menghukum. Bisa jadi ia adalah cara Allah menggugah hati yang terlalu lama terlena. Bisa menjadi jalan untuk membersihkan kesalahan, menghapus kesombongan, menguatkan kesabaran, atau mengembalikan manusia kepada-Nya setelah terlalu jauh berjalan mengejar dunia.
Terkadang kita baru benar-benar mengenal siapa diri kita ketika kehilangan sesuatu. Kita baru memahami arti keluarga ketika kesepian. Kita baru menghargai kesehatan ketika sakit. Kita baru mengenal makna tawakal ketika segala rencana manusia tidak lagi mampu menyelamatkan keadaan.
Musibah yang datang bertubi-tubi juga dapat menjadi cermin. Apakah selama ini kita terlalu bergantung kepada manusia dan melupakan Allah? Apakah kita mengejar keberhasilan tetapi kehilangan ketenangan? Apakah kita meminta banyak hal kepada Tuhan, tetapi lupa mensyukuri apa yang telah diberikan?
Namun refleksi diri bukan berarti menyalahkan diri sendiri atas setiap musibah. Tidak semua penderitaan terjadi karena kesalahan pribadi. Kehidupan memang memiliki hukum sebab-akibat, ketidakpastian, dan ujian yang berada di luar kendali manusia. Karena itu, yang terpenting bukan mencari siapa yang harus disalahkan, melainkan bagaimana kita merespons apa yang terjadi.
Ketika musibah datang, mungkin Allah sedang mengajarkan kita tentang sabar ketika tidak mampu mengubah keadaan, ikhtiar ketika masih ada jalan, tawakal ketika hasil berada di luar kendali, dan ikhlas ketika sesuatu memang harus dilepaskan.
Pada akhirnya, manusia tidak selalu mampu memilih apa yang terjadi dalam hidupnya. Tetapi manusia masih memiliki pilihan tentang bagaimana ia berdiri setelah jatuh, bagaimana ia memaknai kehilangan, dan kepada siapa ia kembali ketika semua pintu terasa tertutup.
Barangkali musibah yang bertubi-tubi bukanlah akhir perjalanan. Bisa jadi ia adalah cara kehidupan memaksa kita berhenti sejenak, menoleh ke dalam diri, lalu menemukan kembali arah menuju Allah.
Sebab terkadang, setelah dunia mengambil banyak hal dari kita, yang tersisa hanyalah satu kesadaran paling sederhana:
“Aku tidak memiliki apa-apa. Aku hanya dititipi. Dan ketika Sang Pemilik mengambil kembali titipan-Nya, tugasku bukan hanya menangis karena kehilangan, tetapi belajar menerima, memperbaiki diri, dan tetap percaya kepada-Nya.”






