PEMALANG, RevolusiNews.com – Bukan sekadar slogan! Semangat pendukung H. Imam Santoso, BSc., calon Kepala Desa Temuireng nomor urut 2, terlihat nyata saat ribuan massa memadati jalanan Desa Temuireng, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, Selasa (3/11/2026).
Bukti antusiasme itu terlihat sejak pagi. Tanpa ragu, para pendukung berkumpul di Dusun 6 Siceleng sekitar pukul 10.00 WIB. Mereka bergerak bersama dalam kampanye terbuka dengan iring-iringan satu kereta odong-odong dan 14 kendaraan roda empat.
Bukan hanya konvoi kendaraan, massa juga terlihat berjalan kaki menyusuri jalan desa hingga beberapa kilometer. Spanduk, poster, dan berbagai alat peraga kampanye turut dibawa. Suasana semakin ramai dengan pengeras suara dan yel-yel yang menggema sepanjang perjalanan.
Seruan “Lurahe Kajine, Nomore 2, Desane Temuireng!” terdengar berulang kali dari para pendukung. Kampanye berlangsung meriah hingga rombongan mencapai Posko 1 di kediaman keluarga Imam Santoso.
Di hadapan massa, Jurkam Budi memaparkan sejumlah program perubahan, mulai dari peningkatan pelayanan publik, rencana penghapusan tarikan dana kematian dengan sumber pembiayaan dari hasil sewa tanah desa, hingga pemberdayaan sektor pertanian melalui pembentukan Ulu-ulu Vak.
Budi juga menyampaikan rencana mengaktifkan kembali Karang Taruna serta menghidupkan fasilitas lapangan olahraga desa. Menurutnya, program tersebut menjadi bagian dari gagasan perubahan yang ditawarkan kepada masyarakat Temuireng.
Sementara itu, Rudy, salah satu pendukung, mengungkapkan bahwa dirinya bersama warga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan kampanye terbuka yang telah diberikan panitia. “Kami sudah diberi waktu untuk kampanye. Jangan disia-siakan. Saya bersama orang-orang Pak Kaji Santoso langsung bergerak mengikuti kampanye terbuka,” tuturnya.
Hal menarik juga disampaikan seorang warga Blok 5 yang mengaku datang atas kemauan sendiri tanpa undangan khusus. “Saya datang sendiri, tanpa undangan, tanpa apa-apa. Saya ikut berjalan kaki karena ingin memberikan dukungan,” ungkapnya. Ia turut menyampaikan kritik terhadap pemerintahan desa sebelumnya yang menurut pengakuannya masih menyisakan warga yang merasa terzalimi.






