Demi Keuntungan, Penjual Eceran di Timika Diduga Oplos BBM Pertalite dan Solar Freeport

oleh -838 Dilihat
oleh
img 20260422 wa0055
Foto bongkar BBM di kios pengecer dan juga pengisian BBM di SPBU. (Dok. T. Raprap RNews)

MIMIKA, Revolusinews.com – Demi meraup keuntungan besar, oknum penjual BBM eceran diduga melakukan praktik pengoplosan dan penimbunan BBM jenis solar subsidi yang didapat dari SPBU dengan solar putih (solar Freeport), dan juga penimbunan BBM jenis pertalite di salah satu Kios Sembako Jalan Yo Sudarso tepatnya di samping SPBU Nawaripi Kota Timika, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Penjualan eceran BBM subsidi tanpa izin merupakan pelanggaran terhadap Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM.

Saat diwawancarai RevolusiNews.com Biro Timika, Rabu (22/4/2026), pengecer yang enggan disebutkan namanya mengatakan, bahwa oknum penjual BBM tersebut mendapatkan solar dari hasil mengantri di beberapa SPBU dan juga supir truk yang sudah biasa menjual BBM solar subsidi kepada yang bersangkutan menggunakan mobilnya kemudian ditimbun dan dioplos dengan BBM jenis solar Freeport (solar putih) yang didapatkan dari oknum karyawan PT Freeport kemudian dijual mengunakan jerigen.

Selain itu, satu lagi menggunakan mobil jenis Avanza yang terdapat stiker salah satu perusahan jasa transportasi Maxim di Mimika diduga melakukan penimbunan BBM jenis pertalite dengan cara mengantri di beberapa SPBU kemudian menyedot dari mobilnya dan menampung kemudian menjualnya dengan harga Rp 20 ribu per botol.

“Pemerintah daerah dan aparat terkait diminta tegas dalam menangani perilaku oknum pengecer yang seperti ini,” tegasnya.

Sementara itu, Juna l, salah satu warga yang diminta keterangan mengatakan, memang betul dua mobil hitam dan satu mobil Avanza ini sering bongkar BBM mereka sedot di depan kiosnya satu Minggu mungkin tiga kali bahkan lebih.

“Kami lihat kegiatan itu dari dalam mobil itu banyak sekali gen gen kuning yang sudah berisi BBM lalu dibawa masuk ke dalam kios,” ungkap Juna.

“Tidak bisa dipungkiri kami juga merasa terbantu dengan adanya pengecer, tapi kadang pengecer juga cekik kami masyarakat. BBM kalau langka atau lagi susah BBM sedikit harga jual eceran bisa tembus harga 40.000 sampai 50.000 per botol ini kan tidak boleh sangat tidak masuk di akal ditambah lagi campur-campur solar ini kan tidak bagus untuk mesin kendaraan,” tutupnya.

Pemerintah dalam hal ini dinas terkait dan aparat terkait diminta untuk bertindak tegas dalam mengatur dan mengawasi penjual atau pengecer yang menimbun dan mengoplos BBM kemudian menjualnya kepada masyarakat.

No More Posts Available.

No more pages to load.