CILACAP, Revolusinews.com – Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Kabupaten Cilacap menggelar Sarasehan Kearsipan dalam rangka memperingati Hari Kearsipan ke-55 Tingkat Kabupaten Cilacap Tahun 2026 di Gedung Diklat Praja Cilacap, Selasa (26/5/2026).
Mengusung tema “Menguatkan Identitas Daerah melalui Arsip dan Sejarah untuk Generasi Masa Depan”, kegiatan ini diikuti 65 peserta yang terdiri dari guru SMP dan SMA sederajat, komunitas sejarah Tjilatjap History, serta sejumlah tamu undangan.
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan Arsip Dinamis Dinas Arpus Cilacap, Erni Suharti mengatakan, tema tersebut selaras dengan tema nasional Hari Kearsipan 2026, yakni “Empowering the Future: Kearsipan untuk Memberdayakan Masa Depan menuju Indonesia Emas 2045”.
Menurut Erni, sebelum puncak acara sarasehan, Dinas Arpus telah menggelar sejumlah kegiatan edukatif sejak 18 hingga 22 Mei 2026. Kegiatan tersebut meliputi layanan Destinasi Wisata Arsip Ramah Anak (DEWI ASRAMA), pembagian brosur kearsipan, gerakan membaca buku selama 15 menit di ruang publik, hingga lomba menyanyi Mars Kearsipan antar OPD.
“Kami berharap melalui peringatan Hari Kearsipan ini dapat semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya arsip sebagai bagian dari identitas daerah serta memperkuat budaya tertib arsip di lingkungan Pemerintah Kabupaten Cilacap maupun masyarakat secara luas,” ujar Erni.
Sementara itu, Kepala Dinas Arpus Kabupaten Cilacap, Achmad Fauzi, menegaskan bahwa arsip bukan sekadar dokumen lama, melainkan memori kolektif daerah yang menyimpan jejak sejarah dan perjalanan masyarakat.
“Selama ini kita sering menganggap arsip itu bukan sesuatu yang penting. Padahal, arsip sebenarnya berfungsi sebagai memori kolektif daerah yang merekam berbagai peristiwa penting, mulai dari sejarah, pemerintahan, pembangunan, hingga kehidupan masyarakat,” kata Achmad Fauzi.
Ia menambahkan, Dinas Arpus berkomitmen menjaga dan melestarikan arsip statis bernilai sejarah agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Dalam sesi diskusi yang dipandu Sekar Yuliati, perhatian peserta tertuju pada pembahasan Bunga Wijayakusuma yang menjadi simbol penting dalam logo Kabupaten Cilacap. Berdasarkan catatan sejarah, bunga tersebut diyakini berada di Pulau Majeti, Nusakambangan dan memiliki nilai spiritual serta historis.
Ketua Komunitas Tjilatjap History, Thomas Sutasman, memaparkan perjalanan sejarah pencarian Bunga Wijayakusuma, termasuk kisah utusan Pangeran Diponegoro yang mencari bunga tersebut demi memperoleh kemenangan dan menolak keburukan.
Sementara itu, Ketua PAKASA Wijayakusuma Kabupaten Cilacap, KRAT Rudiyanto Harsonagoro, menjelaskan sejarah spiritual Bunga Wijayakusuma berdasarkan serat kuno Keraton Surakarta.
Melalui sarasehan ini, Pemerintah Kabupaten Cilacap berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya arsip dan sejarah lokal semakin meningkat sehingga warisan budaya daerah tetap terjaga untuk generasi mendatang.
Acara juga dirangkai dengan penyerahan penghargaan kepada para pemenang Lomba Menyanyi Mars Kearsipan antar OPD.






