RevolusiNews.com – Tiba-tiba piring yang di tangan ibu terjatuh saat aku bertanya “Bu, bolehkah aku membunuhnya? Aku membisu tanpa mengeluarkan suara, Ibu membulatkan matanya kemudian berjalan ke ruang tengah dengan menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Ia masih dalam kegamangan, kemudian melirik tajam ke arahku sambil melambaikan tangan untuk menyuruhku duduk di sampingnya.
“Apa maksudmu Nak?” ucapnya sambil memutar tubuhku menghadap dirinya.
“Kematian akan sangat baik untuknya!” ucapku lagi sambil membuang pandang ke sebuah kamar yang terletak di lantai dua persis depan tangga.
“Mengapa kau menginginkan kematiannya?” Ibu mulai mencengkram pergelangan tanganku, dengan tatapan yang menakutkan, saat sebelah tangannya lagi memutar kepalaku dengan paksa.
“Tidak apa-apa.” Aku segera menghentikan perdebatan itu kemudian melepaskan cengkraman Ibu dan berhambur ke kamar.
Ku menghempaskan tubuhku di ranjang, menarik napas dalam-dalam kemudian kembali mendudukkan tubuhku di tepian ranjang. Aku mengintip ke luar jendela, aroma angin malam memenuhi rongga pernapasanku, saat kilauan mata hitam menatapku dengan tajam.
Cepat-cepat ku tutup jendela dan tirai kamarku. Sambil memegangi dadaku yang mulai terasa sesak. Ku intip bola mata tadi dari balik tirai berwarna merah, sosok itu sudah lenyap tak lagi ada di depan halaman. Cepat-cepat kuhamburkan tubuhku di atas kasur, dan menutup lemas dengan selimut berharap pagi segera menyapa.
Waktu telah bergerak menuju pukul dua malam, tubuhku terasa lemas saat jendela kamarku terbuka. Entah siapa yang berani membukanya di tengah-tengah malam begini! Membuat angin berebutan masuk dan menampar wajahku dengan angkuhnya. Ku tarik tubuhku menuju jendela, tanganku mulai memegang kunci-kunci jendela dan menutupnya. Saat ku balikkan tubuhku, sebuah wajah pucat menempel di jendelaku dengan sorotan mata penuh kebencian sambil mengerang kesakitan. Sontak tubuhku terpental sejauh tiga meter, menghempas pada daun pintu sehingga menimbulkan memar merah di bahuku.
“Aggghhhhh!” Teriakku membangunkan seisi penghuni rumah.
Ibu, Ayah dan Kak Yola berlarian ke kamarku. Mimik wajah yang diperlihatkan oleh mereka datar tanpa ekspresi. Tak ada kecemasan yang diperlihatkan, saat suara ketakutanku berhasil memekakan telinga mereka. Aku mengepal tangan kananku, sementara tangan kiri memegangi bahuku yang terasa nyeri menusuk tulang-tulang.
“Sudah kukatakan mengapa kita tidak mengirimkannya kematian?” Suaraku sedikit bergetar menahan kecewa.
“Mola!” Teriak Ibu, sambil melayangkan tangannya ke udara dan siap menamparku.
“Ibu!” Kak Yola, menghentikan layangan tangan Ibu yang sudah megudara dan siap landas di pipiku, Ayah mengiring Ibu ke kamar.
Aku menatap tajam, pria berwajah pucat itu dari balik jendela kamarku. Ku ambil jaket berwarna hitam yang tergantung di balik pintu, kakiku berlari menjauh dari rumah hingga tidak terdengar lagi suara teriakan Kak Yola memanggil-manggil namaku.
Langkah kakiku semakin lemas, berlahan tubuhku mulai tumbang. Ku layangkan tubuhku pada kursi bercat hijau yang ada di tengah-tengah taman, yang aku tidak tau ada di mana posisiku saat ini. Aku menatap langit hitam dengan pantulan cahaya lampu jalanan, ku tekuk kedua kakiku dan kusembunyikan wajahku dalam dekapan tangan yang memeluk ke dua kakiku.
Dua hari lamanya aku tidak pulang. Aku masih betah berlama-lama di kursi taman, hingga seorang gadis berbusana hijau muda mendekatkan tubuhnya ke arahku yang sedang terbaring berselimutkan jaket hitam milikku. Ia memegang keningku, kemudian menunjukkan ekspresi terkejut.
“Panasmu tinggi sekali!” ucapnya dengan wajah panik.
“Aku tidak apa-apa!” ucapku lemas.
Gadis itu tidak memperdulikannya, kemudian memopong tubuhku masuk ke dalam mobilnya. Aku yang tidak sadarkan diri merasa dibuai, saat guncangan mobil itu melaju menghantarkanku masuk ke dalam sebuah rumah besar, bergaya klasik.
Lima jam lamanya aku terlelap, sebuah ruangan beraroma merah muda menghiasi setiap sisi ruangan itu. Seorang gadis masuk menyodorkan minuman dan makanan ke arahku. Sontak membuatku berdelik tak percaya. Aku mendudukkan tubuhku, kemudian meraih jaket milikku yang ada di tepi ranjang kemudian berjalan keluar.
“Mau ke mana? Tubuhmu masih lemas!”
“Bagaimana bisa kamu percaya dengan orang asing sepertiku?” ucapku membungkam mulutnya.
“Aku mengenalmu, makanya aku menolongmu.”
“Mengenalku. Tapi aku tak mengenalmu?”
“Mola, bagaimana kabar Alam?” Kakiku terhenti, saat kata-kata itu menyentrum tubuhku.
Aku membalikkan tubuhku kemudian berjalan menghadapnya. Gadis itu menghela nafas sejenak, dan melangkah mundur menjauhi tubuhku yang semakin mendekat ke arahnya, hingga akhirnya gadis itu terpojok, dengan tatapan takut.
“Bagaimana kamu tau namaku dan Alam?
Gadis itu tertunduk takut, dengan tubuh gemetar “Akulah yang bertanggung jawab atas Alam!” ucapnya dengan suara terbata-bata.
Mataku memerah, tubuhku gemetar dan tanpa sengaja tanganku mencengkram rambutnya kemudian membantingnya ke lantai. Emosiku tidak stabil, amarah meletup-letup seakan memberikan eksekusi kematian untuknya sebagaimana aku menginginkan kematian untuk Alam.
“Kau harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi dengan Alam. Karenamu Abangku sakit jiwa, kamu telah merampas kebahagiannya. Jika saja kamu tidak memintanya untuk segera menikahkanmu, ia tidak akan seperti ini. Setelah apa yang telah ia perjuangkan, kamu justru meninggalkannya. Karenamu pula aku selalu berharap ia mati agar tidak merasakan sakit berkepanjangan. Kamu harus lenyap dari pandanganku”.
Sebelum hantaman vas bunga yang berada di atas meja melayang ke kepala gadis itu, ponsel dari saku jaketku bergetar. Sebuah pesan masuk dari Kak Yola: Bukankah kamu mengharapkan kematian untuk Alam selama ini? tenanglah, sekarang Alam telah menemukan ajalnya sebuah takdir yang lebih dulu mencintainya di bandingkan dirimu.
Ponsel yang ada di tanganku terlepas, tubuhku lemas, pandangan mataku beruap dan kemudian kabur. Aku mengumpulkan semua kekuatan yang masih tersisa, kemudian berlari menerobos gelapnya malam tanpa alas kaki.
Nafasku tak beraturan. Aku terus berlari membabi buta, berharap langkah ini segera berada di rumah, kemudian menyambut mayat Alam yang terbaring di atas kasur berselimutkan kain panjang yang menutupi seluruh tubuhnya sebelum dikafani.
Sesampainya di rumah aku tertawa, menyentakkan Ibu, Ayah, Kak Yola dan sanak saudara yang telah berkumpul dengan tatapan marah dan seolah-olah menghakimi tindakan yang aku perbuat.
“Hahahaha inilah kematian untuk Alam, dari pada ia harus hidup menahan sakit yang menyiksanya, lebih baik dia tidur panjang tanpa merasakan sakit lagi. Dan wanita itu telah kuberi pelajaran atas apa yang telah ia perbuat pada Abangku Alam.” ucapnya tertawa kemudian menangis dengan bibir gemetar.
Semua mata menatapku dengan tatapan marah kemudian beralih Iba, ku jatuhkan tubuhku ke lantai, kutarik tubuhku merangkak mendekat ke tubuh kaku Alam yang sudah berjodoh dengan ajalnya. Ku buka kain penutup wajahnya, ku kecup lembut dengan air mata yang tidak bisa lagi ku tahan. Aroma melati, menghujam penciumanku terbilas angin yang menyerbu masuk dari pintu yang terbuka lebar. Aroma tubuhnya tersamarkan oleh bunga melati, seakan kehadiranmu ada di sampingku dari dimensi yang berbeda.
Dinginnya malam menusuk ke tulang-tulangku. Seolah-olah kau sedang mendekapku mengucapkan salam perpisahan, sebelum mata kita bertemu pandang. Aroma angin malam itu berbisik padaku dan mengatakan: Kamu telah mengirim kematian untukku.
Aku mematung, menatap wajah pucat Alam. Entah mengapa saat itu seolah-olah wajahnya tersenyum padaku penuh kebahagian. Sementara mereka yang hadir menatapaku dengan tatapan bingung.
Tentang penulis :
Yuli Yanti dengan nama pena Yuliee Pelangi. Ia menghabiskan masa kecilnya di Depok Jawa Barat. Gadis Minang kelahiran Pariaman, 17 Juni 1991 ini adalah lulusan STIAMI (sekolah tinggi ilmu administrasi Mandala Indonesia) setelah meraih gelar sarjana ia melanjutkan non pendidikan di Yisc Al Azhar.
Yuliee Pelangi merupakan anak pertama dari bapak Sukirman dan ibu Jasmidar. Kecintaannya pada sastra terlihat sejak umur 13 tahun. Diumur 15 tahun ia aktif mengirimkan naskahnya ke majalah-majalah, namun terlalu sering mendapatkan penolakan. Hingga ratusan kali penolakan sudah ia kantongi. Tahun 2015 novel pertamanya terpilih menjadi pemenang pilihan juri oleh penerbit Mazaya publishing dengan berjudul Lavender’s blue, hingga akhirnya.
Ia terus bekarya sehingga melahirkan novel-novel yang lain sebut saja Cinta Halal, Kill Me, Muaro Cinta di Ranah Minang, Annyeong Jihan, puluhan novel antologi (dalam bentuk cerpen), puisi gabungan dengan penulis ternama dan beberapa artikelnya sering terpampang baik di media cetak maupun online. Kini aktif menulis di Media RevolusiNews.com (RNews).
Mottonya : tak penting seberapa banyak penolakan yang ia terima, tapi ia percaya setelah penolakan pasti ada hasil yang menunggunya. Tetap yakin dan percaya pada kemampuan diri sendiri.
Lebih dekat dengan Yuliee Pelangi :
IG : Yuliee_pelangi
FB : Yuliee Pelangi novelis
Wattpad : yulierainbow
Tiktok : Yuliee_pelangi
Email : [email protected]








