Revolusinews.com – Awan kelabu tampak begitu tenang dengan segumpal kabut menutupi jalan Koto Marapak. Dalam jarak pandang sejengkal, mata terhalang menghempas raga dengan langkah teraba. Semua pancar terasa padam, seakan Tuhan menunjukkan kemarahan melalui alam semesta. Zamuar menutup sepasang matanya, ingatan membawanya berpetualang dalam tragedi masa lampau. Tentang sepasang tangan yang menyelinap masuk ke meja kerjanya, hingga membuatnya menjadi manusia kerdil yang harus disingkirkan.
Satu tahun yang lalu dibalik meja coklat berkayu jati. Sebuah alunan nada terdengar merdu setiap hari menghiasi ruangan kerja para jurnalis. Tak…Tik…Tuk membuat jemari tak pernah berhenti menekan tuts pada sebuah tombol yang dipenuhi huruf. Kenanga gadis ayu, berbodi gitar spanyol dengan tubir merah merekah. Seakan menghipnotis agar kumbang bersimpuh menanti harapan yang tak kunjung tiba.
Suara gelas jatuh, memecahkan fokus sebagian karyawan yang bekerja sebagai jurnalis di media cetak. Zamuar tersentak, ia berlari menuju pantry untuk memastikan barang miliknya yang ia sembunyikan di balik lemari gelas-gelas kaca tak ada yang menyentuh. Namun Zamuar terkejut saat pancaran manik coklat milik Kenanga, seakan mengintai pergerakannya. Zamuar berdeham, gadis itu tersenyum licik kemudian berjalan keluar.
Tak ada firasat apapun yang terlintas dipikiran Zamuar. Ia hanya mengecek barang miliknya di balik lemari, setelah mendapati barangnya aman, Zamuar kembali ke meja kerjanya. Surya yang baru kembali dari PT Semen Padang setelah melakukan Interview, memberikan berkas hasil kerjanya pada Zamuar. “Tolong kerjakan, dan besok pagi sudah harus dimuat dimedia cetak. Beri judul yang menarik 110 Tahun Semen Padang Membangun Negeri pastikan hari ini rampung,” Tukasnya kemudian berjalan ke ruang kerjanya.
Zamuar hanya mengangguk, tanpa protes sama sekali. Ia sadar jika ia menolak Surya tak segan-segan menghardiknya dihadapan para karyawan yang lain. Itulah mengapa Zamuar dijuluki tikus penurut. Meski sudah bekerja selama 10 tahun, Zamuar selalu diperlakukan seperti tikus yang tak memiliki harga diri. Hingga terkadang terlintas dibenaknya untuk keluar, namun ekonomi mengikatnya untuk tetap bertahan. Sebab ia tak bisa seperti Shep dan Ian Murray yang keluar dari Perusahaaan Manhatta kemudian mendirikan Vineyard Vines, Rick Wetzel dan Bill Phelps yang keluar dari Nestle dan kemudian memberanikan diri membuka Wetzel’s Pretzels. Sebab Zamuar hanya seorang pemuda penakut yang hanya berpikir bahwa jika ia tak bekerja, maka ia tak memiliki uang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB, sebagian karyawan sudah melenggang pulang. Mengingat besok akan ada acara besar, di mana perusahaan tempatnya bekerja menjadi tamu kehormatan dan seluruh karyawan diundang untuk hadir diacara HUT ke-110 PT Semen Padang. Namun tidak untuk Zamuar, ia bagai robot yang disuruh bekerja tanpa henti dan tak memiliki tombol off. Lagi-lagi karna ulah Surya si penjilat yang dengan mudah mengatur jam kerjanya agar selaras dengan keinginannya.
Tulang-tulang punggungnya seperti remuk, bola matanya seakan meloncat keluar, jemarinya kaku, kepalanya mulai terkulai lemas. Zamuar berdiri merenggangkan otot sarafnya, berjalan ke pantry meracik secangkir coffe kemudian diseruputnya dalam-dalam, hingga aroma coffe singgah dipenciumannya. Saat ia kembali ke ruang kerjanya, secangkir coffe yang ada di tangannya terjatuh, saat matanya mendapati dua pasang tangan dari selarik cahaya di laptopnya.
“Sialan, jauhkan tangan kotormu dari meja kerjaku!” Teriaknya mempercepat langkah kakinya, kemudian mendorong orang tersebut hingga tersungkur menghantam meja. Gadis itu menjerit ketakutan sambil memeluk tubuhnya dengan baju yang sebagian tercabik. Zamuar yang tak memiliki firasat apapun, terus menghardik orang tersebut dengan emosi meninggi.
Gadis itu terus menangis, sementara Zamuar frustasi karena semua bahan kerjanya lenyap dan tak meninggalkan jejak. Dalam tangisnya gadis itu tersenyum menang, Zamuar mengepalkan tangannya untuk memberikan hantaman. Namun dua rekan kerjanya tiba-tiba datang menghentikan amukan Zamuar. Seakan sudah tersetting dan semua berkonspirasi untuk menyingkirkannya. Zamuar digiring keluar bagai seonggok sampah kotor, ia dituduh telah menyetubuhi Kenanga.
Keesokan paginya surat pemecatan tidak hormat dilayangkan pada Zamuar, padahal dua hari lagi Zamuar akan diangkat menjadi pimpinan Redaksi mengingat loyalitas, semangat dan kerja kerasnya terhadap perusahaan sangat tinggi. Namun semua hanya tinggal rencana dan ia terpaksa harus hengkang dari perusahaan itu. Namun anehnya Kenanga yang merasa dilecehkan, tidak pernah melaporkannya ke polisi.
Ingatan itu masih beroperasi di kepalanya. Dan ia baru menyadari setelah satu tahun lamanya bahwa ia melihat dua pasang tangan, bukan sepasang tangan di atas meja kerjanya. Lalu siapakan pemilik sepasang tangan lagi? Tangan yang tiba-tiba merobek bagian lengan baju milik Kenanga, dan kemudian sepasang tangan itu menghilang di tengah gelapanya ruang kerja. Mungkinkah Surya? atau bisa jadi karyawan yang juga ikut berkospirasi untuk menyingkirkannya?
“Bodoh!” Teriaknya pada hamparan sawah yang mulai menguning. Zamuar terus merutuki dirinya. Kemudian tertawa nyaring, sambil memutar memori pengkhianatan orang-orang yang ia anggap malaikat. Sekali lagi Zamuar tidak bisa merubah takdir yang sudah terjadi, kemarahannya pada Tuhan hanya akan menyeretnya pada kekecewaan yang panjang. Seribu kutukanpun tak akan dapat mengembalikan sesuatu yang telah hilang.
Tentang penulis :
Yuliee Pelangi lahir di Pariaman, 17 Juni 1991. Ia telah memiliki puluhan buku antologi cerpen, puisi dan novel. Kini aktif menulis di media online RevolusiNews.com (RNews).
No HP : 083806108648
Email : [email protected]








