Sonita

oleh -702 Dilihat
oleh
Cerpen RNews Yuliee Pelangi Revolusi News
Yuli Yanti dengan nama pena Yuliee Pelangi

Kalian tau bahwa Sonita itu bukanlah sebuah nama?

Revolusinews.comCakrawala Prahara adalah nama panjang gue, mereka semua memanggil gue dengan sebutan Cakra. Umur gue sudah memasuk 22 tahun, hingga saat ini gue masih dalam kesendirian. Gue berbeda dengan anak pada umumnya. Jika di usia muda itu mereka menghabiskan waktu mudanya dengan hal-hal yang tidak jelas. Gue lebih suka menghabiskan masa muda gue dengan hal-hal yang positif, baca buku, persiapan lomba penelitian di kampus, bahkan melukis.

Mereka bilang gue itu adalah makhluk sempurna yang Tuhan kirim ke dunia ini, dengan keunikan yang tidak dimiliki lelaki pada umumnya. Kulit sawo matang, berbadan atletis, memiliki kaki panjang, pintar dan jago dalam bidang olahraga. Namun anehnya gue itu sulit buat jatuh cinta bahkan sama cewek paling popular di kampus yaitu Shirene. Tapi uniknya, gue bisa jatuh cinta sama gadis bernama Sonita yang suka nyiumin bunga melati dan berjalan di malam hari.

Suara ponsel berbunyi, terpampang jelas nama Sonita. Gue yang asik ngelukis, memilih untuk menghentikan aktifitas, ketika sebuah pesan dari Sonita meminta Gue untuk menjemputnya di tempat biasa.

Sonita, tak ada nama lengkap gadis itu. Awal pertama kali dia memperkenalkan dirinya dengan nama Sonita. Katanya tidak boleh dipanggil Soni atau Nita maka tidak akan ada makna dan artinya. Ia lebih suka bila dipanggil Sonita. Rumahnya ada di ujung jalan pertigaan tidak jauh dari kampus, dia selalu bertingkah aneh jika ke perpustakaan selalu memilih tempat duduk nomor lima, begitupun jika ke kantin dia akan menghitung jumlah kursi dan kemudian duduk di bangku nomor lima. Sampai-sampai saking terbiasanya Gue dengan sikap Sonita, Gue pun menghitung nomor bangku yang akan gue dudukin.

Gadis dengan gigi ginsul itu menyukai nomor lima, katanya nomor itu sangat unik. Hari ini ia tampak cantik dengan Dress putih berlengan panjang, seperti biasa ia suka sekali menciumi wanginya bunga melati, katanya sih wanginya bunga melati itu bisa merileks tubuh kita, yang lelah akibat aktifitas seharian.

Sonita kembali mengajak Gue ke tempat pertama kali kita bertemu, yaitu di Taman Senopati. Taman di mana memiliki sejuta keindahan dengan lampu yang bergemerlapan di malam hari, menghiasi indahnya Kota Bandung. Ia tersenyum lebar, ini untuk ketiga kalinya. Sonita jarang sekali tersenyum, ia lebih sering diam. Jika berbicara hanya dua atau tiga kata. Lima bulan Gue mengenalnya, bisa dihitung berapa kali dia tersenyum dan malam ini gadis itu sangat cerewet, sehingga tak memberikan gue sedikit kesempatan untuk memuji kecantikannya malam itu.

“Cakra, Sonita janji jika waktunya sudah tepat. Sonita akan ajak Cakra main ke rumah Sonita, dan kenalin Sonita sama Mama dan Papa?”

Saat itu Gue Cuma menganggukkan kepala, sambil memberikan senyum termanis Gue.

“Cakra Mama suka sekali sama bunga sedap malam, padahal tidak ada yang istimewa dari bunga itu. Apa kita belikan saja untuk Mama, terus Papa kita belikan Martabak manis karena Papa suka sekali sama Martabak.” Ucapnya manis.

Saat itu gue cuma bisa menatapnya tak percaya. Sonita dan Mamanya memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang, hobi dan kesukaannya membuat Gue geleng-geleng kepala. Tapi semua itu tidak masalah, karena Sonita adalah keindahan yang Tuhan ciptakan begitu sempurna dengan daya tarik yang tidak dimiliki oleh gadis lain.

Gadis berginsul itu menarik tangan gue kesebuah tugu, ia menatap tajam ke manik-manik mata Gue, hingga saat itu tak ada satu katapun yang bisa Gue ucapin ke dia. Sesekali Gue menarik napas dalam-dalam sebelum rangkai kata dari sebuah rasa, yang Gue simpan membludak di hadapan Sonita.

“Sonita!”

“Tidak Cakra.” ucapnya seperti tau maksud ucapan Gue.

“Tidak apa, aku belum berbicara sama sekali!”

“Sonita tau apa yang akan Cakra ucapkan. Sonita tau lima bulan kebersamaan kita menumbuhkan rasa yang tak biasa diantara kita. Sonita sadar, sebab apa yang Cakra rasakan sama yang Sonita rasakan.” ucapnya kemudian terdiam.

“Lalu apa yang kita tunggu, jika memang rasa yang hadir dalam hati kita sama?”

“Sonita tidak bisa katakan sekarang. Tapi yang pasti ini bukan waktu yang tepat.” ucapnya kemudian pergi.

Saat itu Gue hanya terdiam, kaki rasanya sulit untuk melangkah. Pertahanan Gue roboh seketika, saat Sonita menolak hati yang Gue berikan untuknya, rasa yang Gue jaga selama lima bulan ini hancur sudah.

Setelah kejadian itu Sonita tampak menjaga jarak, roman di wajahnya berubah menjadi kelam. Gue hanya memasang senyum kecut, dan melengus tak memperdulikannya. Lima bulan setelah dia buat detak jantung Gue tidak karuan, dia buat seluruh tidur Gue tidak nyenyak akan bayangan-bayangan keindahan senyumnya yang melekat di raga. Namun malam itu, dengan egoisnya dia angkat tangan, seakan hilang dari tanggung jawab atas apa yang telah dia perbuat dengan hati Gue.

Saat itu Gue lagi sibuk-sibuknya mencari bahan untuk persiapan Penelitian, mau nggak mau mendorong gue akhirnya melangkahkan kaki ke perpustakaan. Sama seperti biasanya, Sonita duduk di bangku nomor lima, dengan senyum khasnya sambil melambaikan tangan ke arah Gue. Gue yang sudah berjanji untuk menghapus rasa di hati, kepada Sonita, memilih menghindarinya. Tiba-tiba wajah gadis itu berubah, ia menundukkan wajahnya kemudian pergi dari perpustakaan itu.

Entah apa yang saat itu Gue rasain, tapi rasanya hancur ketika mimik wajah yang ditampakkan Sonita, menunjuukkan kesedihan mendalam. Gue mencoba untuk tidak peduli, sebagaimana dia tidak peduli dengan perasaan Gue.

Malam itu berulang kali Pesan dari Sonita masuk ke ponsel Gue, namun Gue memilih acuh dan tidak memperdulikannya. Hingga malam itu ia mengancam melalui pesan terakhirnya, jika Gue tidak menemuinya di tempat biasa kita bertemu, maka Gue tidak akan lagi melihat dirinya. Seperti apa yang Gue mau.

Saat itu entah mengapa, tanpa sadar tangan Gue mengetik sebuah pesan yang mungkin akan menyakitkan untuknya “Itu yang kuharapkan. Untuk apa kita bersama jika pada akhirnya kamu menolak kehadiranku. Aku bukan patung yang tidak memiliki perasaan, kamu manusia, seharusnya kamu tau itu Sonita. Menjauh adalah jalan terbaik untuk kita, seperti pertama kali kita tidak saling mengenal atau bertemu sebelumnya.”

Setelah pesan yang Gue kirim ke Sonita, persis apa yang Gue bayangkan gadis itu benar-benar menghilang dan lenyap seperti apa yang Gue harapkan. Kemal datang menyentakkan lamunan Gue. Saat ia mendapatkan bidikan mata Gue menatap kursi yang sering di duduki oleh Sonita.

“Sepertinya ada sesuatu yang selama ini tidak pernah Loe sadari Cak.” ucapnya duduk mengambil buku yang ada di tangan Gue.

“Maksud Loe?”

“Apakah Loe selalu berhubungan dengan gadis yang selalu duduk di kursi itu? Jangan bilang Loe jatuh cinta sama dia.” ucapnya geli.

“Iya sebelum akhirnya Gue menyadari, apa yang telah Gue lakuin salah. Seharusnya malam itu Gue nggak kirim pesan ke dia untuk benar-benar pergi dari hidup Gue.”

“Keputusan yang Loe ambil adalah keputusan yang tepat Cak! Gue pergi dulu, ada tugas Sastra yang belum Gue kerjain.” ucapnya melengus pergi.

“Bentar Mal, maksud Loe apa?”

Namun sayang Kemal sudah berlalu pergi, saat itu ucapan Kemal masih terbayang di otak Gue. Sesuatu yang sangat ganjil, dan Gue nggak bisa menerimanya. Saat itu juga, Gue memilih untuk mencari kemal, demi mencari jawaban atas apa maksud dari ucapannya.

Kemal duduk di taman dengan buku-buku sastranya. Pria berkaca mata itu sangat menyukai sastra, dan berbagai macam bahasa. Bahkan ia menyukai bahasa yang menurutnya sangatlah unik. Seperti Sansekerta, Yunani, Portugis, Latin dan lain-lain.

Gue mendekat kemudian melayangkan pinggul Gue, pada bangku kosong yang ada di sampingnya. Sebelum mengeluarkan kata-kata, Kemal lebih dulu berbicara seakan tau apa maksud dan tujuan Gue menemuinya.

“Loe pasti masih penasaran dengan apa yang tadi Gue bilang di Perpustakaan kan?”

“Hmmm.”

“Loe kenapa suka sama gadis itu sih Cak, jelas-jelas Shirene yang cantik dan popular di Fakultas kita, sejak dulu suka sama Loe. Loe malah milih gadis yang tidak jelas asal usulnya.” ucapnya membuka kaca matanya.

Saat itu rasa marah membucah dari dalam hati Gue, entah mengapa tangan Gue mengayun dan kemudian menarik kerah baju Kemal. Hati Gue hancur ketika ia berbicara seperti itu kepada gadis, yang telah lama Gue suka.

“Loe gak punya hak untuk bicara seperti itu tentang dia. Dan gadis yang Loe bilang gak jelas asal usulnya, namanya Sonita, dia tinggal dipertigaan rumah bercat biru yang gak jauh dari kampus kita.” Ucap Gue melepaskan kerah baju Kemal, dan melangkah pergi.

Namun seketika Kemal menghentikan langkah Gue, sebuah kabar yang tidak mau Gue dengar, tidak bisa dielakkan.

“Loe sama kaya Gue, cuma Loe belum menyadarinya Cakra. Bahwa Loe juga indigo, bisa melihat apa yang Gue lihat. Tapi itu masih proses, belum sepenuhnya sebab diri Loe belum menerimanya.” ucap Kemal

“Maksud Loe?”

“Loe ngertilah tanpa perlu gue kasih tau.”

“Bilang sama Gue, apa yang Loe bilang itu bohong Kemal.” Ucap Gue berjalan kembali ke arah Kemal kemudian menarik bajunya.

“Untuk apa Gue bohong Cakra. Gak ada gunanya. Loe itu sahabat Gue, apa untungnya Gue bohong sama Loe. Gadis itu bukan bernama Sonita, nama aslinya adalah Kinal. Sonita dalam arti Sansekerta adalah Darah, dia sudah meninggal dua tahun yang lalu, akibat Kanker darah. Jika Loe gak percaya, datanglah ke rumahnya? Loe akan menemukan jawabannya di sana. Bukankah selama ini dia tidak pernah mengizinkan Loe masuk ke rumahnya?” Ucap Kemal kemudian melepaskan tangan Gue dari kerah bajunya, mengambil buku-bukunya di bangku kemudian pergi.

Kaki Gue saat itu hilang keseimbangan dan akhirnya mencari tempat penopang agar Gue bisa kembali berdiri kokoh seperti biasa. Sore itu sepulang dari Kampus Gue pergi ke rumah yang ada di pertigaan dekat kampus. Rumah besar bercat biru itu, tampak kokoh dari luar. Berulang kali Gue memencet bel, hingga akhirnya seorang wanita berdaster merah mendekat ke arah Gue dan mempersilahkan Gue masuk.

Gue duduk di ruang tunggu dengan baju basah, akibat hujan yang sejak siang tadi belum juga reda. Ibu yang gue yakini adalah asisten rumah itu langsung menyelonong masuk ke dalam, tanpa menanyakan apa keperluan Gue datang ke sana, dia hanya mempersilahkan Gue duduk dan berkata, “sebentar Mas akan saya panggilkan orangnya”. Sontak membuat Gue hanya terdiam tidak percaya.

Lima menit Gue menunggu, seseorang yang sangat Gue kenal berjalan ke arah Gue. Mata Gue sempurna membulat karena tidak percaya dengan apa yang Gue liat. Sekian menit Gue mematung, gue menarik napas dalam-dalam sebelum Gue benar-benar bisa mencerna semua yang kini terjadi dihadapan Gue.

“Loe!”

“Ya, Gue adalah Kemal Sanjaya dan gadis yang Loe panggil Sonita adalah Kinal Sanjaya adik Gue yang sudah meninggal dua tahun yang lalu.”

Sontak badan Gue lemas, saat itu Gue tidak bisa berkata apa-apa. Mata Gue kunang-kunang seperti sebuah Cahaya memantul ke dalam kornea mata Gue.

“Tapi Loe bukannya tinggal di..” Belum sempat Gue melanjutkan kata-kata, Kemal langsung memotongnya.

“Iya Gue memutuskan keluar dari rumah sejak dua tahun yang lalu, persis di malam Kinal meninggal dan menghembuskan napas terakhirnya. Setidaknya saat itu Gue berharap adik malang Gue bisa merasakan kasih sayang ke dua orang tua di detik-detik terakhirnya. Tapi selama dua bulan dia berjuang antara hidup dan mati, dua orang yang di sebut orang tua tidak pernah hadir, bahkan menemui gue dan Kinal. Dunia mereka uang dan uang, tanpa tau apa yang sebenarnya kami inginkan. Saat itu Gue memilih melepaskan semuanya, demi Kinal. Setelah satu setengah tahun dia datang dan menemui Gue, untuk menyuruh Gue pulang dan memaafkan Papa dan Mama. Namun Gue tidak memperdulikannya hingga dia mengancam akan mengganggu Loe. Awalnya Gue tidak peduli, hingga akhirnya kalian justru saling jatuh cinta. Saat itu Gue marah besar pada diri Gue sendiri telah membuat hidupnya sengsara, Gue bukan mengirimnya kembali ke alamnya agar dia tenang. Tapi justru Gue menyiksanya dengan membuat dia akhirnya jatuh cinta kepada Loe. Tiba-tiba malam itu dia nemuin Gue untuk terakhir kalinya, dia bilang dia akan kembali ke alamnya dengan syarat Gue pulang ke rumah dan dia akan melepaskan Loe. Gue menyanggupinya dan hingga kini Gue tidak lagi pernah bertemu dengan Kinal. Berharap semoga dia bisa tenang di alamnya.”

Saat itu air mata Gue terus menetes, entah apa yang membuat air mata ini tidak berhenti mengalir. Rasanyanya sakit saat kenyataan lebih kejam, dari apa yang dibayangkan. Gue menatap tajam foto-foto cantik Kinal yang terpampang rapi di dinding ruang tamu, dengan gaun berwarna merah seakan membuktikan keindahan Tuhan yang sesungguhnya dari ukiran wajah yang ditampakkan Kinal melalui gambar itu.

“Cakra pesan terakhirnya, jika kamu merindukannya duduklah di kursi nomor lima. Maka kamu akan merasakan kehadirannya. Karna Kinal menyukai nomor lima!”

Gue hanya menganggukkan kepala, sesaat foto Kinal yang ada di ruangan itu terjatuh. Kami terdiam, kemudian saling berpandangan. Dan menyadari bahwa dia hadir diantara kami, untuk menyampaikan salam perpisahan. Aroma melati, menghujam penciuman terbilas angin yang menyerbu masuk dari pintu yang terbuka lebar. Aroma angin tersamarkan oleh bunga melati, seakan kehadirannya ada di samping gue dari dimensi yang berbeda.

Hawa Dingin sore itu menusuk ke tulang-tulang. Seolah-olah Sonita sedang mendekapku mengucapkan salam perpisahan, sebelum mata kita bertemu pandang untuk terakhir kalinya. Aroma sore itu seakan berbisik ke telinga gue dan mengatakan: Aku menunggumu dalam dimensi yang berbeda.

Gue mematung, menatap wajah pucat Kemal. Entah mengapa saat itu seolah-olah wajahnya tampak kaku dan pucat, menatap tajam foto dengan bingkai bergambarkan melati yang seolah-olah Kinal sedang tersenyum kepadanya. Seakan menarik gue dan juga Kemal masuk ke dalam dimensinya. Sesaat gue menggelengkan kepala dan menepuk lembut pundak Kemal. Pria itu tersentak dan meminta gue kembali pulang karena hari yang sudah mulai gelap.

Hal yang dibutuhkan seorang anak bukanlah uang, fasilitas maupun harta. Tapi adalah kasih sayang seorang Ibu dan Ayah untuk malaikat kecilnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.