Oleh : Dede Farhan Aulawi
Revolusinews.com – Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, tidak semua orang memilih untuk bersuara ketika melihat sesuatu yang keliru. Sebagian justru memilih diam, berpaling, atau bahkan berpura-pura tidak tahu. Bagi mereka, sikap tersebut bukan semata-mata karena tidak peduli, melainkan karena dianggap sebagai pilihan yang paling realistis untuk bertahan dalam situasi yang penuh risiko.
Fenomena ini dapat ditemukan di berbagai lingkungan, mulai dari dunia kerja, birokrasi, organisasi, hingga kehidupan sosial sehari-hari. Seseorang mungkin mengetahui adanya penyimpangan, ketidakadilan, atau pelanggaran etika, tetapi memilih untuk tidak bereaksi. Mereka menilai bahwa mengungkapkan kebenaran dapat mengundang konflik, mengancam karier, merusak hubungan, atau bahkan membahayakan keselamatan diri dan keluarga.
Dalam perspektif psikologi sosial, sikap berpura-pura tidak tahu sering kali muncul sebagai mekanisme perlindungan diri. Manusia cenderung menghindari risiko yang dianggap lebih besar daripada manfaat yang mungkin diperoleh. Ketika lingkungan tidak memberikan perlindungan kepada mereka yang jujur, sementara justru memberi keuntungan kepada mereka yang diam, maka diam perlahan dianggap sebagai strategi yang rasional.
Namun, apa yang realistis bagi individu belum tentu baik bagi masyarakat. Ketika semakin banyak orang memilih menutup mata terhadap penyimpangan, maka pelanggaran akan kehilangan pengawas alaminya. Kesalahan yang semula kecil dapat berkembang menjadi budaya. Ketidakjujuran yang awalnya dilakukan oleh segelintir orang dapat berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa karena tidak pernah mendapat koreksi.
Lebih berbahaya lagi, budaya berpura-pura tidak tahu dapat melahirkan apa yang disebut sebagai normalisasi penyimpangan. Ketika kebohongan terus dibiarkan, ia perlahan berubah menjadi “kebenaran” versi lingkungan tersebut. Ketika pelanggaran terus diabaikan, ia mulai diterima sebagai bagian dari sistem. Dalam kondisi seperti ini, orang yang berani bersikap jujur justru dipandang sebagai pengganggu stabilitas.
Di sisi lain, tidak adil pula jika setiap orang yang memilih diam langsung dicap pengecut atau tidak bermoral. Ada kalanya seseorang berada dalam posisi yang benar-benar rentan. Tidak semua orang memiliki kekuasaan, perlindungan hukum, atau dukungan sosial untuk menghadapi konsekuensi dari keberanian mereka. Karena itu, memahami alasan seseorang memilih diam memerlukan empati terhadap konteks yang mereka hadapi.
Meski demikian, menjadikan kepura-puraan sebagai kebiasaan juga memiliki harga yang mahal. Seseorang mungkin berhasil menghindari konflik sesaat, tetapi harus hidup dengan beban moral yang perlahan mengikis integritas. Hati nurani yang terus-menerus diabaikan akan semakin sulit membedakan mana yang benar dan mana yang sekadar menguntungkan. Pada akhirnya, seseorang bisa kehilangan keberanian bukan karena tidak memilikinya, tetapi karena terlalu lama tidak menggunakannya.
Masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang dipenuhi oleh orang-orang pemberani tanpa rasa takut, melainkan masyarakat yang mampu memberikan ruang aman bagi setiap orang untuk menyampaikan kebenaran. Perlindungan terhadap pelapor pelanggaran, penegakan hukum yang adil, kepemimpinan yang berintegritas, dan budaya dialog yang terbuka merupakan fondasi penting agar orang tidak merasa bahwa berpura-pura tidak tahu adalah satu-satunya pilihan realistis.
Dalam perspektif moral dan spiritual, setiap manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai kebenaran sesuai kemampuan dan situasi yang dihadapinya. Cara menjalankan tanggung jawab itu dapat berbeda-beda. Ada yang mampu menyuarakannya secara terbuka, ada yang memilih jalur yang lebih aman melalui mekanisme yang tersedia, dan ada pula yang memberi dukungan kepada pihak yang berupaya memperbaiki keadaan. Yang terpenting adalah tidak menjadikan kepedulian terhadap kebenaran hilang sama sekali.
Pada akhirnya, berpura-pura tidak tahu memang dapat menjadi pilihan yang tampak realistis dalam situasi tertentu. Namun, jika sikap tersebut berubah menjadi kebiasaan kolektif, masyarakat berisiko kehilangan kepekaan terhadap keadilan dan tanggung jawab bersama. Realisme memang penting, tetapi idealisme yang disertai kebijaksanaan tetap diperlukan agar kehidupan bersama tidak sekadar bertahan, melainkan juga berkembang menuju keadaan yang lebih adil, bermartabat, dan berintegritas.






