PEMALANG, Revolusinews.com – Proyek program Revitalisasi SMP Muhammadiyah 7 di Desa Sidokare, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Pemalang, mendadak menjadi sorotan. Proyek yang disebut menggunakan anggaran APBN 2026 dengan nilai sekitar Rp1.400.140.000 itu dipertanyakan setelah wartawan melihat material besi yang digunakan di lokasi pada Rabu 9 September 2026.
Dari pantauan media di lokasi, terlihat rangkaian besi yang menurut keterangan pekerja digunakan untuk pengecoran bagian sabuk dinding dan gunungan bangunan. Ukuran material tersebut kemudian menjadi perhatian karena secara visual tampak relatif kecil untuk pekerjaan konstruksi yang nilainya mencapai miliaran rupiah.
Saat wartawan mempertanyakan hal tersebut kepada pekerja, muncul jawaban yang menarik perhatian. “Pak, ini kan proyek besar, nilainya juga besar, kenapa menggunakan besi kecil?” tanya wartawan. Pekerja kemudian menjawab, “Ya, Pak, itu permintaan kepala sekolah,” tuturnya kepada media.
Pernyataan pekerja tersebut tentu perlu diklarifikasi lebih lanjut kepada pihak sekolah maupun pelaksana proyek. Sebab, kesesuaian ukuran dan jenis besi dengan spesifikasi teknis tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan pengamatan visual dan membutuhkan pemeriksaan pihak teknis berwenang.
Ketika kembali ditanya mengenai pihak yang bertanggung jawab atas pekerjaan, pekerja menyebut kontraktor atau pemborong proyek berasal dari Jakarta. Sementara mandor disebut sedang berada di wilayah Bumiayu, Kabupaten Brebes, sehingga belum dapat ditemui saat wartawan melakukan konfirmasi di lokasi.
Wartawan juga berupaya menemui pihak sekolah untuk meminta penjelasan. Namun, dalam pantauan lebih dari satu kali, Kepala Sekolah belum berhasil ditemui. Pada hari Selasa (8/9) penjaga sekolah menyampaikan bahwa kepala sekolah sedang tidak berada di tempat dan disebut akan pulang ke Pati.
Kondisi tersebut membuat sejumlah pertanyaan mengenai pelaksanaan proyek belum mendapatkan jawaban secara langsung. Mulai dari spesifikasi material, pihak pelaksana, hingga mekanisme pengawasan pekerjaan di lapangan masih menunggu penjelasan resmi.
Media juga belum memperoleh konfirmasi langsung dari kontraktor maupun pihak yang bertanggung jawab atas pelaksanaan proyek.
Hingga detik ini beberapa awak media di Pemalang masih terus menunggu klarifikasi pihak Kepala Sekolah, konsultan, dan Pelaksana yang katanya sibuk banyak proyek. Karena itu, keterangan pekerja mengenai permintaan penggunaan besi tersebut masih perlu dikonfirmasi kepada pihak-pihak terkait agar informasi tidak berkembang sepihak.







