Oleh : Dede Farhan Aulawi
Revolusinews.com – Ada saat ketika hidup menghadirkan secercah cahaya di tengah gelapnya perjalanan. Sebuah harapan kecil tumbuh, menghadirkan keyakinan bahwa setelah sekian lama bertahan dalam kesunyian, akhirnya akan ada kebahagiaan yang bisa dirasakan. Hati yang semula lelah perlahan kembali percaya, bahwa mungkin kali ini takdir sedang berpihak, bahwa luka-luka lama akan menemukan penyembuhannya, dan bahwa penantian panjang tidak akan berakhir sia-sia.
Namun, terkadang hidup memiliki cara yang begitu sunyi untuk meruntuhkan harapan. Cahaya yang sempat menerangi jalan perlahan meredup, meninggalkan bayang-bayang keraguan, hingga akhirnya padam tanpa sempat memberikan penjelasan. Yang tersisa hanyalah kehampaan, pertanyaan yang tak terjawab, dan perasaan kehilangan atas sesuatu yang bahkan belum sempat benar-benar dimiliki.
Betapa menyakitkannya ketika kita telah memberanikan diri untuk percaya, setelah sekian lama belajar menjaga hati agar tidak kembali terluka. Kita mulai membuka pintu, membiarkan harapan masuk, lalu membayangkan hari esok yang lebih indah. Tetapi pada akhirnya, kita kembali berdiri sendirian di tempat yang sama, hanya saja kali ini dengan hati yang lebih lelah dan jiwa yang semakin sulit memahami arti sebuah harapan.
Mungkin yang paling menyakitkan bukanlah kegelapan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kita pernah melihat cahaya dan sempat percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sebab, ketika seseorang terbiasa hidup dalam gelap, ia mungkin mampu berdamai dengan kesunyian. Namun, ketika cahaya sempat hadir lalu menghilang, kegelapan terasa jauh lebih pekat daripada sebelumnya.
Meski demikian, aku ingin percaya bahwa tidak semua cahaya yang padam berarti perjalanan telah berakhir. Barangkali ada harapan yang memang tidak ditakdirkan untuk menjadi kenyataan, ada pertemuan yang hanya singgah untuk mengajarkan arti kehilangan, dan ada penantian yang pada akhirnya mengajarkan kita untuk lebih memahami diri sendiri.
Sebab, terkadang yang paling sulit bukanlah bertahan di tengah kegelapan, melainkan mengumpulkan keberanian untuk tetap percaya setelah cahaya yang kita nantikan ternyata tak pernah kembali.
Dan jika hari ini yang tersisa hanyalah kegelapan yang seolah tak berujung, biarlah waktu menjadi saksi atas segala luka yang tak mampu diucapkan. Aku tak akan memaksa diriku untuk segera menemukan cahaya, tak pula berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Untuk saat ini, cukuplah aku tetap berjalan, meski perlahan, meski dengan hati yang masih menyimpan kepedihan.
Karena mungkin, pada akhirnya, harapan bukan selalu tentang menemukan seseorang atau sesuatu yang mampu menerangi hidup kita. Terkadang, harapan adalah keberanian untuk tetap melangkah, bahkan ketika kita belum tahu apakah di ujung perjalanan masih ada cahaya yang menunggu.






